“Say No!” Course Untuk Anak Anak
Satu sharing berharga dari salah satu anggota wrm-indonesia tentang kursus “Say No!” yang beliau ikuti. Materi kursus ini adalah tentang apa yang harus dilakukan jika berhadapan dengan orang asing. Kursus ditujukan untuk anak usia 5-12 tahun. Selamat menyimak ya moms.
Kursus Hari I: Pengantar
Kursus ini dilakukan oleh sebuah yayasan yang didirikan oleh dua orang polisi di kota Augsburg : Selbstschutz fuer Frauen und Kinder (Perlindungan diri untuk wanita dan anak anak). Kursus berlangsung dalam tiga kali pertemuan, masing-masing sekitar 1,5 sampai 2 jam.
Pada setiap pertemuan, orang tua harus mendampingi anaknya. Begitu masuk ke tempat kursus, semua harus memasang tanda pengenal nama agar masing masing peserta saling mengenal. Setelah itu, anak-anak berkumpul dan orang tua mengelilingi mereka.
Fasilitator kursus hari pertama adalah Kathrin dan Caro. Setelah Kathrin memperkenalkan diri, Kathrin mulai mem’brainstorming‘ anak-anak, tentang mengapa mereka ada di situ?. Sesi Pertama
selesai dengan kegiatan “brainstorming” setelah itu baru anak anak dibagi beberapa kelompok.
Anak-anak tetap di tempat didampingi Caro, sementara orang tua dibawa ke ruang lain oleh Kathrin. Orang tua dijelaskan bagaimana kursus akan berlangsung dan peran apa yang akan dimainkan oleh orang tua selama kursus. Setelah itu, orang tua dibawa kembali
ke tempat anak-anak untuk menyaksikan anak-anak unjuk kebolehan apa yang sudah Caro ajarkan ke mereka.
Kebolehan apa yang telah diajarkan oleh Caro? “Tiga Langkah Kunci Menghadapi Orang Asing” yaitu:
Pertama:
Kalau ada orang asing yang mengajak untuk ikut, apapun yang dikatakan orang itu,apapun alasannya, meski terlihat sangat butuh pertolongan sekalipun, katakan dengan tegas: NEIN!TIDAK! Kedua tangan dikepal, hentakkan kaki dengan keras, lalu teriakkan NEIN!. Satu kali saja.
Kedua:
Setelah itu, segera berlari menjauh. Kemana? Ke rumah. Bisa juga ke sekolah atau kantor orang tua.
Ketiga:
Sampai di rumah, langsung ceritakan kepada orang tua apa yang terjadi.
Kathrin dan Caro sempat bermain peran menggambarkan bujukan-bujukan yang mungkin ditemui nantinya, sekaligus membantu anak-anak mengulang-ulang ketiga langkah kunci di atas. Selanjutnya adalah waktunya anak-anak mempraktekkan uji kemampuan mereka.
Anak-anak keluar dari satu ruang. Tiba-tiba ada orang asing (Kathrin dan Caro) yang mengajak anak-anak untuk ikut. Diharapkan anak-anak mengatakan ‘Nein’ dan segera berlari ke ‘rumah’ -ruang lain, tempat orang tua dikumpulkan. Begitu bertemu orang tua, anak-anak menceritakan yang terjadi dan apa yang mereka
lakukan. Bila anak-anak melakukan yang diharapkan, diharapkan orang tua memuji tindakan anak.
Pertama-tama, anak-anak keluar ruang berdua atau bertiga.Terdengar dari dalam, seorang putri dari orang tua yang hadir dengan lantang mengatakan ‘nein!’ lengkap dengan hentakan kakinya. Setelah
itu putri tersebut segera melangkah menjauh kemudian menemui orang tuanya. Tapi sampai di dalam, sang putri tak mau bercerita.
Setelah praktek pertama direview oleh Kathrin dan Caro, praktek selanjutnya anak-anak ‘keluar’ sendiri-sendiri. Kali ini sang putri sudah mau bercerita meski dengan malu-malu. Setelah kegiatan ini selesai, tiba waktu istirahat.
Sesi pertama selesai. Semua berkumpul kembali. Kathrin mengeluarkan sekotak bola. Melihat itu anak-anak langsung antusias. Apalagi Kathrin mengatakan kalau bola itu bisa dipakai bersirkus ria. Kathrin sempat pula menunjukkan bagaimana
melatihnya. Kathrin juga mengatakan dia akan membagikan bola-bola itu sebagai hadiah karena anak-anak telah melakukan semua yang diajarkan dengan sangat baik.
Mendengar itu, semua anak langsung berebut maju ingin mendapatkan bola. Tapi Kathrin mengingatkan, bahwa dia adalah orang asing. Anak-anak tidak boleh menerima hadiah dari orang asing. Di sini sempat terjadi “brainstorming” yang cukup lama. Brainstorming apakah Kathrin dan Caro adalah orang asing? Bagaimana mereka tahu Kathrin dan Caro adalah orang yang baik? Dan bagaimana mereka
memecahkan situasi seperti itu. Untunglah semuanya berjalan seperti yang diharapkan dan setiap anak mendapat satu bola.
Sesi Kedua diawali dengan kegiatan di halaman. Anak-anak dikenalkan dengan istilah ‘magic line‘, yaitu garis maya sebagai jarak aman dari mobil. Patokannya adalah lebar bukaan pintu
mobil. Kathrin dan Caro menjelaskan mengapa anak-anak tidak boleh berdiri menyeberangi garis ajaib ini lengkap dengan prakteknya. Disimulasikan juga bagimana menghadapi tawaran orang asing yang sedang duduk di balik setir dan orang asing yang sedang membutuhkan bantuan karena mobilnya mogok.
Setelah itu, seperti tadi, praktek dua babak. Babak pertama berdua, babak kedua sendirian. Kali ini putri sang mom melakukannya dengan lebih meyakinkan. Selesai sudah untuk kegiatan hari pertama. Putri sang mom mengatakan dia senang sekali mengikuti kursus tersebut dan kursus ini menurutnya penting karena dia jadi tahu apa yang harus ia lakukan bila bertemu orang asing. Dan terakhir sang putri menanyakan apakah dengan selesainya
kursus ini dia bisa berangkat dan pulang sekolah sendirian?
“Hmm..hmmm………hmmmm…” pertanyaan tersebut dijawab sementara demikian oleh mom tersebut.
Hari II: Bila Sendiri di Rumah, Bila Ada Tetangga Baru
Bila Anak Sendirian di Rumah
Hari kedua dibuka dengan pengenalan materi dan briefing orang tua.
Caro mengajak anak-anak membahas sekilas materi yang lalu dan dilanjutkan dengan membahas materi sesi I. Di ruang lain, orang tua mendengarkan briefing dari Hermann (pengganti Kathrin)sekaligus tanya jawab tentang materi hari ini.
Setelah briefing dan refreshing materi dilaksanakan, dilakukan pembahasan materi. Bila sendirian di rumah dan ada yang mengetuk pintu, yang paling penting adalah: apapun yang terjadi, pintu jangan dibuka. Selanjutnya, lakukan tiga prinsip dasar ini:
1. Katakan Nein! sekali saja.
2. Menjauh
3. Ceritakan kepada orang tua segera setelah orang tua kembali ke rumah
Simulasi segera dilakukan setelah semua peserta memahami tiga prinsip dasar tersebut. Anak-anak didampingi orang tua masing-masing kemudian dibagi dua kelompok. Satu kelompok dibimbing Caro di lantai atas, satu kelompok dibimbing Hermann di lantai bawah.
Kami kebagian kelompok yang dibimbing Caro.
Caro mengumpulkan kami dalam satu ruangan. Satu ruang lain yang berdekatan dijadikan ‘rumah’ sementara. Di ‘rumah’ itu, disediakan juga ‘kamar’ anak. Permainan peran dimulai. Pada babak I ini, dilakukan oleh anak anak berdua atau bertiga. Dua orang anak beserta orang tuanya masing-masing masuk ke ‘rumah’. Kemudian
orang tua berpamitan pada anak. Anak menutup pintunya.
Tak lama kemudian Caro mengetuk pintu,
Caro: - Tok..tok…tok - ” Ada orang kah di dalam?”
Anak-anak (A): Siapa itu?
Caro: Saya pengantar paket. Ini ada paket penting untuk orang tuamu. Tolong buka pintunya ya.
Anak-anak: NEIN! (seperti yang diajarkan pada kursus pertama).
Caro: Ini paketnya penting sekali. Orang tuamu harus segera mendapatkannya. Ayo buka pintunya.
Tak ada jawaban dari dalam
Caro: Tok…tok…tok…hallo…hallo…
Tetap tak ada jawaban
Caro membuka pintu dan mendapati kedua anak sudah ada di ‘kamar’.
“Klasse” puji Caro melihat sikap yang dilakukan oleh anak anak.
Anak-anak menemui orang tua masing-masing.
Anak: (menceritakan kejadian dan apa yang dilakukannya)
Orang tua: (mendengarkan dan menanggapi dengan seksama, tak lupa terakhir memuji tindakan anak)
Setelah semua mendapat giliran, dilanjutkan bermain peran babak kedua. Kali ini dilakukan tidak berdua atau bertiga lagi, namun sendirian. Persis seperti berdua, tapi kali ini Caro bertanya terlebih dulu ke orang tua masing-masing apa yang saat ini sangat digemari anak yang mungkin membuat anak membukakan pintu. Setelah terkumpul informasi “kegemaran anak” dilakukan istirahat.
Kedua kelompok selesai simulasi, semua berkumpul kembali. Hermann
me-review materi dan simulasi yang baru saja dilakukan. Setelah itu, Hermann membawa sekeranjang bola jonglion. Anak-anak langsung mendekat meminta bola.
“Eitttttt, saya kan orang asing. Boleh ngga sih menerima hadiah dari orang asing?” ungkap Hermann.
Dan diskusi seperti kursus pertama terjadi lagi. Tapi kali ini tentu saja jauh lebih cepat karena anak-anak masih ingat alasannya dan apa yang harus mereka lakukan. Segera masing-masing anak mendapat satu bola, melengkapi satu bola jonglion yang diberikan minggu lalu. Hermann menunjukkan bagaimana cara memainkan dua bola jonglion itu. Semua anak bersemangat mengikuti. Dan suasanapun mendadak heboh.
Bila Anak Mendapat Tawaran Dari Tetangga Baru Atau Tetangga yang Belum Dikenal Dengan Baik
Kali ini Hermann yang membahas materi dengan anak-anak. Bagaimana seandainya ada tetangga baru yang belum dikenal/terlalu dikenal mengajak main ke rumahnya?. Hermann mengemukakan beragam alasan yang mungkin diutarakan tetangga tersebut untuk mengajak anak ke rumahnya.
Yang harus dilakukan anak-anak, prinsipnya sama dengan materi-materi sebelumnya: katakan ‘NEIN!’, menjauh dan bercerita ke orang tua. Setelah anak bercerita dan bila menurut orang tua tidak masalah anak memenuhi undangan tetangga tersebut, barulah anak boleh ke rumah orang tersebut.
Setelah pembahasan materi selesai dilakukan simulasi. Hampir mirip dengan kegiatan yang pertama,kali ini kami kebagian kelompok yang dibimbing Hermann. Herrman yang berperan sebagai tetangga. Selesai simulasi, anak-anak mendapat kenang-kenangan topi berwarna hijau kuning. Dan kursus hari ini pun berakhir.
Bravo untuk anak-anak, sesi hari II selesai.
Kursus Hari III: Simpulan Kegiatan
Di hari III, materi berisi tentang pengulangan materi-materi yang telah diajarkan di hari hari sebelumnya. Sementara Caro membimbing anak-anak mengulang materi-materi sebelumnya di lantai atas, Hermann memberikan briefing kepada orang tua di salah satu ruang yang ada di lantai bawah.
Pada hari ketiga ini akan ada ‘guest star’ yang sama sekali asing dan sudah menunggu di tempat yang disembunyikan. Setelah itu dilakukan simulasi I. Anak-anak dan orang tua di kumpulkan di lantai bawah. Lalu, anak-anak membuat dua barisan. Nanti Hermann akan meminta per dua anak beserta orang tuanya masing-masing untuk keluar ruangan. Orang tua pamit pada anaknya untuk pergi ke lantai atas. Setelah itu anak-anak diminta menyusul.
Dalam perjalanan sang anak ke atas, anak-anak akan berjumpa dengan badut. Badut ini mengajak anak-anak untuk ikut disertai bujukan-bujukan. Seharusnya anak-anak akan langsung mengatakan ‘NEIN’, berlari ke atas ke tempat orang tuanya kemudian bercerita apa yang baru saja terjadi. Dari atas, orang tua bisa menyaksikan ‘adegan’ ini. Hanya saja harus diusahakan agar tak diketahui anak-anak. Setelah simulasi ini berakhir, dilakukan istirahat.
Sama artinya dengan saat membagi-bagikan bola jonglion ketiga dan petunjuk dari Hermann bagaimana memainkan tiga bola jonglion. Dengan sigap Hermann berjonglion. Anak-anak mulai mengacungkan jarinya, meminta Hermann melakukannya dengan lambat, saaangat lambat, cepat dan sangaaat cepat. Hermann sampai kewalahan menanggapi permintaan anak-anak yang ada-ada saja itu.
“Oh, tak bisa lagi lebih lambat, dengan bola seberat ini”, tutup Hermann. Dengan demikian, istirahat pun berakhir. Kegiatan kemudian dilakukan dengan menonton video tentang film pendek. Orang tua dikumpulkan di satu ruang menonton film karya Anni Schmidt berjudul ‘Sag Nein’. Sementara itu anak-anak dikumpulkan di ruang lain bersama Caro untuk menyaksikan video tentang polisi.
Film “Sag Nein” yang berdurasi sekitar dua puluh sembilan menit ini berisi fragmen-fragmen kasus pelecehan pada anak. Pada kasus I, Anna yang setiap malam ketika kedua orang tuanya sudah tidur nyenyak ‘diganggu’ Om nya. Setelah mengganggu, Om nya memberikan sejumlah uang pada Anna. Anna takut menceritakan hal tersebut pada ibunya. Tapi dari uang ini lah ibunya mulai mencium sesuatu yang tak beres. Akhirnya Anna pun menceritakan semua pada ibunya.
Pada kasus II, sementara ibu Carla harus bekerja sore hingga malam hari, Carla di rumah bersama ayahnya. Saat itu adalah saat yang menakutkan bagi Carla, karena itu adalah waktu Ayahnya ‘mengganggu’ Carla. Carla tak berkutik dan tak berani menceritakannya pada siapapun. Hingga suatu hari, ada teman Carla yang memergokinya. Temannya mengajak Carla menelpon ke lembaga yang mengurusi tentang hal ini. Carla juga menceritakan hal ini pada gurunya. Untuk sementara, setiap ibu Carla harus bekerja, Carla akan tinggal di tempat temannya.
Di kasus III, katakanlah tokohnya bernama Eva. Kasus Eva adalah ‘diganggu’ kakak laki-lakinya setiap kali Eva mandi. Ibu Eva sibuk sekali. Eva sudah berusaha mengatakan masalahnya pada sang Ibu, tapi ibu selalu tak ada waktu. Sementara itu sang kakak terus mengancam agar Eva tak mengatakannya pada Ibu mereka.
Untunglah ada teman keluarga mereka yang melihat keanehan pada Eva. Dia yang menceritakan semuanya pada Eva. Dan sang Ibu pun sadar.
Pada kasus IV, seorang anak laki-laki yang diajak seorang Kakek untuk main ke rumahnya. Kakek ini punya koleksi model kereta api yang bagus. Dan kebetulan sang anak punya hobi yang sama. Setelah beberapa kali main ke rumah Kakek, anak itu mulai merasa tak nyaman. Pasalnya si Kakek, sering menyentuhnya secara tak wajar. Anak ini menceritakan pengalaman dan perasaannya pada kedua sahabatnya. Kedua sahabatnya inilah yang membantunya untuk keluar dari tempat si Kakek. Intinya, anak harus mengetahui mana sentuhan yang baik dan mana yang bukan, siapapun yang menyentuh. Anak harus berani mengatakan tidak, karena tubuh mereka seutuhnya hanya milik mereka sendiri. Cobalah langsung cari pertolongan, lewat jalan apapun. Dan sebagai orang tua, kita pun harus peka.
Di simulasi II, pada pintu masuk ada ‘orang asing’ yang sama sekali belum dikenal anak-anak. Dia akan menyapa anak-anak dan mengajak mereka untuk ikut. Satu per satu anak-anak akan ‘bertemu’ orang asing ini. Diharapkan anak-anak akan mengatakan ‘Nein’ dan
langsung ke tempat orang tua mereka berada. Setelah itu orang tua mengajak anak mencari tempat agar anak bisa menceritakan yang terjadi dengan tenang. Orang tua menanggapi sambil menanyakan gambaran orang yang dia temui tadi. Penyelenggara kursus sudah menyiapkan semacam lembar kerja berisi pertanyaan yang diajukan ke anak.
Setelah simulasi II selesai, semua berkumpul kembali. Orang tua diminta mengisi lembar ‘feed back’ untuk penyelenggara. Kemudian diperkenalkanlah ‘orang asing’ tadi di hadapan kami semua. Namanya
Danni. Umumnya anak-anak bisa menggambarkan ciri-ciri Danni dengan baik. Selanjutnya adalah pembagian sertifikat. Anak yang dipanggil namanya, dipersilakan maju ke ‘panggung’ untuk menerima sertifikat. Setelah kata penutup dari penyelenggara, kursus “Sag Nein” pun ditutup.
Di bawah ini adalah beberapa identifikasi person yang perlu diamati.
Personenbeschreibung
Frage:
Was hat die Person zu Dir gesagt? Was sollst Du tun?
Frage:
Wie sah die Person aus, von der Du angesprochen wurdest?
Person: Man/Frau/…..
Erscheinung: gepflegt/ungepflegt/…..
Gestalt: groß/klein (vergleich mit Mama/Papa)
dick/dünn
Kleidung: Hose/Rock/…..
Pullover/T-shirt/….
Haare: hell/dunkel/…..
kurz/lang/….
Zopf/offen/Glatze
Bart: nein/ja/welcher?…..
Sprache/Stimme: hoch/tief
Dialekt/hochdeutsch/…..
Besonderheiten: Schmuck/Brille
Nerben/Tatoo/Wo?…..
Mitgeführte
Gegenstände/Tiere: …………
Tschuess, Auf Wiedersehen. Demikian ringkasan kursus “Sag Nein” dari salah satu member milist wrm-indonesia. Semoga bermanfaat. (Dai/WRM).
Sampai sejauh mana kewajiban orang tua terhadap anaknya?. Demikian tema diskusi yang beberapa saat lalu muncul di milist wrm-indonesia. Berawal dari keprihatinan seorang mom yang sedang merantau saat mengamati beberapa temannya yang harus “banting tulang” bekerja 12 jam sehari demi memenuhi kebutuhan tiga anak anaknya: mobil untuk transportasi, uang perkuliahan yang 15 ribu dollar per tahun per anak dll. Kondisi yang agak serupa juga ditemui di teman sang mom yang bersedia bekerja mati matian demi memenuhi anggaran asuransi pendidikan agar anak anaknya nanti dapat hanya berkonsentrasi belajar di sekolah tanpa harus terbebani pikiran biaya pendidikan. Bagaimana pendapat mommies di WRM Indonesia tentang hal tersebut? Sampai sejauh mana orang tua bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup anaknya?
” Menurut saya sih sampai si anak bisa mandiri” tulis mom ini yang mengirimkan komentar pertama di tema tersebut. Buat menuju kemandirian sang anak, orang tua juga harus membantu misalkan dengan memberikan pekerjaan sampingan yang tidak sampai menyita waktu sekolahnya. Dapat juga dengan mengajarkan bahwa bila sang anak menginginkan sesuatu, maka ia harus berusaha. Hal tersebut tak lain dilakukan agar si anak tidak memiliki prinsip “aji mumpung” dan terbelenggu dengan sikap manja. Pola pikir ” ah masih ada orang tua yang pasti mau membayarkan kok, buat apa pusing mencari duit” dapat saja muncul akibat kebiasaan manja dan selalu tergantung pada orang tua.
Mom yang memberikan tanggapan kedua juga setuju dengan apa yang telah disampaikan mom di atas. “Kalau saya lebih menyukai tindakan berikut: selain orang tua mempersiapkan biaya pendidikan, anak juga harus diajarkan mandiri dalam memenuhi sebagian keperluannya” pendapat beliau. Kemandirian dalam memenuhi sebagian keperluannya dapat diperoleh melalui prestasi diri yang seoptimal mungkin sehingga si anak dapat mendapatkan beasiswa ataupun dalam bentuk lainnya. Anak juga harus dikenalkan dengan makna pengorbanan dan pembuatan prioritas keinginan. Anak juga harus menyadari bahwa tidak semua keinginan dapat tercapai dengan mudah, demikian tulis mom ini menutup postingannya.
Mom ketiga yang turut meramaikan diskusi tema ini juga setuju, bahwa sebagai orang tua memang sudah merupakan suatu kewajiban untuk semaksimal mungkin mempersiapkan biaya pendidikan untuk masa depan anak. Hal itu tak lain dilakukan agar sang anak anak dapat berkonsentrasi di sekolah dan memiliki banyak waktu untuk mengembangkan diri dan bersosialisasi. Sebagai konsekuensi dari kemudahan yang telah diterima oleh dirinya maka ia harus berprestasi, baik di sekolah atau di bidang lain seperti olah raga, kesenian, dll. Mungkin tidak perlu harus berada di tempat paling atas tetapi tidak sampai berada di tempat yang terbawah.
Kalau si anak berkeinginan membeli sepatu baru padahal sepatu yang lama belum rusak maka ia harus menunjukkan kepada orangtua bahwa ia memang pantas mendapatkan “reward” tersebut seperti dari nilai nilai baik yang diperolehnya. Disamping itu, anak harus dibimbing untuk memiliki rasa tanggung jawab, mandiri (bukan dalam hal finansial), mampu melihat hal hal yang prioritas serta rasa inisiatif. Paling tidak kemudahan yang ia dapat sekarang ini merupakan faktor pemicu semangat bagi si anak tersebut. “Tetapi saya tidak menutup kemungkinan jika si anak ingin bekerja paruh waktu pada saat dia kuliah nanti sepanjang hal tersebut tidak mengganggu pelajarannya” demikian pendapat mom ketiga tersebut di akhir sharingnya.
Mom keempat menilai bahwa kewajiban atau tugas kita sebagai orang tua adalah mendidik anak agar dapat menjadi anak yang mandiri,anak yang selalu berusaha/belajar serta menjadi anak yang beriman (tak lain agar usahanya terarah dan prinsip menghalalkan segala cara dapat ditepis). Sebaiknya orang tua yang memiliki kemampuan finansial berlebih juga tidak memanjakan anak anaknya, karena warisan yang tak akan abis dari orang tua adalah didikan/ajaran yang baik, tentu selain pendidikan formal.
Buat mom tersebut, persoalan asuransi, tabungan buat pendidikan anak adalah hal yang perlu, namun dengan syarat orang tua memang mampu untuk menyisihkan dana untuk hal tersebut “kalau untuk kehidupan sehari hari saja masih pas pasan, bagaimana dong..bila dipaksakan yang ada nantinya malah muncul mencari usaha kilat asal untung aja!”. Memikirkan masa depan anak itu penting, tetapi jalani saja hidup sesuai dengan keadaan, jangan dipaksakan. Hal yang terpenting adalah mencari harta yang halal dan jalannya baik hingga anak keturunan kita dapat selamat di dunia-akhirat. Pendidikan agama buat mom ini merupakan prioritas nomir satu, baru menyusul pendidikan formal.
Jangan sampai rasa bersalah timbul bila orang tua tidak mampu membiayai anak anaknya hingga selesai pendidikan formalnya. Tidak perlu merasa bersalah kalau orang tua tidak mampu membiayai pendidikan anak sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Rezeki sudah ada yang mengatur, tinggal diri kita yang berusaha dan berdoa. ” Orang tua yang baik tidak akan berharap mendapatkan balas jasa. Yang diharapkan tak lain agar anaknya dapat menjadi anak yang sholih/sholihah dan bertanggung jawab untuk kehidupannya sendiri. Tercapainya hal itu tentu telah membuat orang tua bahagia!” tutup mom keempat ini dalam akhir tulisannya.
Apa kewajiban yang harus dipenuhi orang tua pada anaknya menurut versi mom kelima ini? Pemberian perasaan dicintai, disayangi, dibutuhkan serta pemenuhan kebutuhan perasaan aman dan nyaman di rumah ! demikian pendapat beliau. Berkaitan dengan pendidikan,kewajiban orang tualah yang harus memberikan pendidikan agama dan pendidikan formal “semampu kita” dan seoptimal mungkin. Definisi “semampu kita” adalah mulai menabung sejak si kecil lahir. Bahkan bila dirasa perlu dan orang tua memiliki uang lebih, maka buat asuransi pendidikan buat anak. Bila tak ada uang lebih, usahakan tindakan “pemaksaan” dengan nilai persentase tertentu dari pendapatan per bulan kita yang dialokasikan untuk menabung dan “terlarang” untuk “di otak atik”. Beliau mengingatkan bahwa pendidikan akan semakin mahal dari tahun ke tahun. Bila tidak disiapkan sedini mungkin, mungkinkah dapat terbayar saat si kecil mengenyam pendidikan, terlebih pendidikan tinggi?.
Bagi mom kelima ini, mendidik kemandirian anak harus dilakukan secara perlahan dan berproses. Mendidik kemandirian anak adalah sebuah proses yang berkembang sejalan dengan usia anak dan bukan sebuah hal yang mutlak harus dapat dilakukan dalam tempo satu bulan. Anak harus bisa mengerti bahwa hidup ini tidak mudah (meskipun misalnya orang tuanya cukup kaya secara materi). Bahwa untuk mendapatkan apa yang dia inginkan,dia butuh perjuangan dan pengorbanan. Bahwa tidak semua yang dia inginkan bisa dia dapatkan meskipun dia sudah berjuang untuk itu. Hal tersebut akan menjadi dasar buat sang anak dalam menjalani kehidupan di dunia.
Mom keenam berprinsip bahwa memikirkan pendidikan anak adalah hal yang penting sekali. Beliau dan suaminya sudah sepakat untuk memikirkan biaya pendidikan anak sampai dengan lulus S-1. Setelah itu terserah sang anak. ” Berhubung saya dan suami dahulu kuliah sambil bekerja dan kami berdua membiayai kuliah kami sendiri sampai selesai, maka hal itu pula yang akan kami terapkan ke anak-anak” tulis beliau. Anak harus dilatih mandiri!. Disamping itu anak juga harus dilatih untuk memahami bahwa hidup adalah perjuangan.
Beliau menceritakan bahwa dengan latar belakang keluarga beliau dan suami yang berasal dari keluarga sederhana, maka untuk mencapai hidup yang sekarang mereka miliki, mereka harus meniti jalan satu persatu penuh dengan keringat dan doa. Hal itulah yang juga akan mereka terapkan pada anak anaknya. Walau nantinya beliau dianugerahi rezeki yang berlebih, beliau dan suami tidak akan memanjakan anak dengan materi yang “plus” tersebut. Hidup itu seadanya. Kalau ada yang lebih maka berikanlah ke yang membutuhkan. Mom tersebut juga menceritakan diskusi dengan suaminya saat melihat anak-anak SMA yang pergi sekolah dengan mobil pribadi. Ia bertanya pada suaminya bagaimana dengan anak-anak mereka kelak?. ” Anak anak kita kalau sudah SMP sekolah naik bis atau angkot, take it or leave it!. Tidak ada antar-jemput apalagi sampai minta dibelikan motor atau mobil. ” demikian jawab sang suami.
” Kalau saya pribadi setuju dengan mommies yang lainnya. Tapi kalau di kultur saya, kewajiban orang tua itu hingga si anak sudah menikah” pendapat mom ketujuh ini. Menurut beliau, saat si anak menikah maka saat itu pula orang tua tidak berkewajiban terhadap si anak. Orang tua hanya berperan sebagai penasehat/advisor bila di perlukan.
Sharing mom kedelapan? Dari pengalaman pribadinya, orang tua beliau “mengurus” dirinya hingga ia menikah. Orang tua membiayai kuliah, ‘meminjamkan’ mobil, bahkan sebelum beliau dapat menyupir sendiri, ayahnya yang mengantar jemput ke sekolah. Bahkan beliaupun kadang merasakan protektifitas orang tua terhadap dirinya, pun setelah ia menikah.
Menurut beliau, kewajiban orang tua yang pertama adalah memberi landasan Iman/Agama ” Insya Allaah dengan ilmu agama yang baik, rezeki mereka akan halal & thayib serta dapat selamat di dunia akhirat”. Mengenai sekolah yang resmi, bagi beliau itu adalah prioritas nomor dua. Kewajiban orang tua dalam masalah finansial bagi beliau adalah sampai si anak tersebut menikah, terutama anak perempuan. Bagi anak laki-laki, akan lebih baik bila terlebih dahulu diajar untuk mandiri, karena dia akan menjadi pencari nafkah utama dalam keluarganya saat dia menikah.
Namun hal diatas jangan diartikan bahwa anak diberikan semua yang ia inginkan “seperti yang salah satu mom katakan, bahwa anak juga harus diajarkan bertanggung jawab dan juga berprioritas”. Anak pun baiknya diajarkan berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Beliau menceri
" Tapi mungkin ada baiknya kalau anak diajar untuk kerja sampingan saat dia masih sekolah ya ? Saya tidak pernah melakukannya. Bahkan begitu lulus kuliah saya langsung dilamar. Enam bulan kemudian menikah, 10 bulan kemudian punya anak. Karenanya, saya belum pernah merasakan dunia kerja
" tulis beliau di akhir sharing pendapat dan pengalamannya. (DaI/WRM)
http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=712&Itemid=157
Kuantitas produksi ASI banyak ditentukan oleh isapan bayi pada puting areola serta rasa percaya diri ibu bahwa ia dapat sukses menyusui dan memproduksi ASI yang cukup buat bayinya. Mekanisme ini melibatkan permainan di otak untuk mengatur mekanisme pengaturannya. Bagaimana sebenarnya mekanisme produksi ASI? Proses fisiologi apa yang terjadi?. Diskusi tentang tema produksi ASI di milist wrm-indonesia akhirnya menyinggung permasalahan fisiologi menyusui. Silakan simak ringkasannya di bawah ini.
Apa sih peran penghisapan puting serta areola terhadap produksi ASI?
Saat bayi menghisap puting areola maka syaraf afarent akan merangsang hipofise anterior untuk memproduksi prolaktin yang nantinya akan merangsang sekresi ASI (Bintaryati, 1992). Jumlah prolaktin yang akan diproduksi tersebut akan banyak bergantung dari frekuensi dan intensitas isapan bayi (pro lactin reflex).
Pembendungan ASI yang terjadi dalam alveolus akan menyebabkan adanya penekanan pada pembuluh darah. Hal itu akan menyebabkan penurunan pro laktin dalam darah sehingga sekresi ASI juga akan berkurang.
Pengeluaran ASI juga terjadi karena adanya rangsangan mekanis ujung syaraf pada puting dan areola oleh isapan bayi. Rangsangan itu nantinya akan diteruskan ke bagian hipotalamus dan menyebabkan hipofisa posterior mensekresikan oksitosin ke dalam peredaran darah. Oksitosin itu akan merangsang sel mioepitel sehingga menyebabkan ASI diperas melalui salurannya ke muara di puting susu untuk diisap bayi (let down reflex).
Katanya keyakinan ibu bahwa produksi ASI nya mencukupi kebutuhan bayi akan berpengaruh besar terhadap produksi ASI. Kok bisa sih?
Benar, keyakinan atau “pede” ibu bahwa ia dapat sukses menyusui si kecilnya berperan tidak kalah pentingnya terhadap produksi ASI. Keyakinan ibu yang ada di otak
juga akan mempengaruhi kerjanya hipofisa anterior (–> pro lactin reflex) dan hipofesa posterior (–> let down reflex) seperti yang telah disinggung di atas.
Karenanya tak mengherankan, salah satu kunci sukses menyusui adalah keyakinan ibu
bahwa ia dapat memproduksi ASI sesuai kebutuhan bayinya!
Ada tidak faktor emosi dan sosial lain yang juga berpengaruh terhadap sukses menyusui?
Dengan mengacu teori dari G.J Ebrahim (1978) di bukunya Breastfeeding- the Biological Option, ia tuliskan bahwa terdapat beberapa faktor emosional dan sosial yang mempengaruhi sukses menyusui. Salah satu faktor yang dapat disebutkan diantaranya adalah nasehat dan pengalaman selama masa kehamilan dan persalinan. Karenanya penting sekali bagi para ibu mengunjungi klinik laktasi terdekat untuk mendapatkan “support” pemberian ASI pada sang buah hati.
Selain itu faktor laktasi yang berhasil pada kehamilan terdahulu juga disebutkan pula. Hal itu tak lain akan berhubungan dengan kepercayaan diri sang ibu bahwa ia akan mampu mula memberikan ASI secara sukses dengan berpatokan pada pengalaman menyusui pertamanya yang berhasil.
Nilai nilai yang berlaku pada masyarakat juga disebutkan oleh Ebrahim sebagai faktor penting penunjang keberhasilan menyusui. Dalam masyarakat yang menganggap tak lazim menyusui anak lepas usia satu tahun, biasanya ibu pun memilih menyapih sang anak bila tak “kuat” dengan tekanan tatanan norma yang berlaku.
Di atas adalah sebagian faktor emosi dan sosial penunjang keberhasilan pemberian ASI. Bila faktor tersebut dapat dijadikan faktor pendukung yang berefek positif pada busui, maka sukses menyusui relatif akan lebih mudah dicapai. (DaI/WRM)
Haruskah menyusui eksklusif selama 6 bulan? Adakah keuntungan ASI eksklusif buat ibu? Mengapa bayi yang disusui secara eksklusif memiliki berat badan yang cenderung lebih rendah dibandingkan anak yang diberikan makananan tambahan dan susu formula?. Bila beberapa pertanyaan di atas mommies miliki, silakan telusuri rangkuman diskusi tentang tema terkait di milist wrm-indonesia.
Apakah pemberian ASI Eksklusif “harus” selama enam bulan lamanya?
Rekomendasi ini muncul dari studi studi ilmiah yang dirangkum oleh WHO, karenanya “6 bulan” tidak keluar begitu saja dari WHO tanpa dasar ilmiah yang kuat.
Upaya pemberian ASI Eksklusif sebenarnya juga merupakan bentuk perlindungan kesehatan pada si kecil.
Tidak akan ada kondisi membahayakan yang akan timbul bila si kecil diberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan bila manajemen laktasi si ibu berjalan baik (tentunya ini di luar kondisi kondisi tertentu dimana pemberian ASI malah membahayakan pada si kecil, semisal adanya kelainan metabolisme tubuh dll).
Sebaliknya, akan banyak risiko risiko kesehatan yang akan muncul dengan adanya pemberian complementery feeding belum tepat pada waktunya. Risiko tersering yang teramati terjadi baik di negara berkembang dan negara industri adalah terjadinya infeksi gastrointestinal (Kramer et al, 2001) pada bayi.
Jadi sebenarnya dengan memberikan ASI Eksklusif 6 bulan pada si kecil kita, kita juga melindungi kesehatannya, selain tentu memberikan makanan terbaik dengan kandungan makronutrisi yang optimal dan mikronutrisi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Ada tidak keuntungan menyusui eksklusif bagi si ibu?
Selain keuntungan ASI Eksklusif 6 bulan untuk si kecil,sebenarnya banyak pula keuntungan ASI Eksklusif ini juga buat kita sendiri sebagai ibu. Beberapa manfaat bagi ibu yang bisa dicatat adalah pengaruhnya terhadap lactational amenorrhea sang ibu dan turunnya BB (Dewey, et.al, 2001).
Mungkin tidak ya pada anak yang diberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama memiliki BB yang lebih rendah dibanding rekannya yang telah diberikan makanan tambahan sebelum usia tersebut?
BB anak yang menkonsumsi ASI Eksklusif selama 6 bulan dengan manajemen laktasi yang benar/tepat biasanya tidak akan jauh berbeda dengan anak anak yang telah diberikan complementary food di usia yang lebih awal.
Anak dengan ASI Eksklusif yang memiliki weight for age di bawah rata rata biasanya diakibatkan manajemen laktasi yang tidak optimal.
Tapi sepertinya pada anak yang disusui, BB setelah usia enam bulan lebih rendah dibanding anak anak yang tidak disusui ya?
Ya, kadang hal ini terjadi. Dari beberapa temuan penelitian, perbedaan BB antara anak yang disusui dan tidak disusui sendiri biasanya akan mulai terlihat sejak anak berusia 6 bulan. Anak yang disusui cenderung memiliki BB lebih rendah dibandingkan standar NCHS.
Tidak heran karena bayi bayi yang digunakan sebagai acuan di NCHS adalah bayi bayi produk zaman dimana bottle-feeding sedang menjadi trend di Amerika.
Karenanya dengan alasan tersebut, WHO kini sedang merancang standar acuan baru dari studi MGRS nya dengan sampel populasi yang lebih selektif dan representatif.
Apa sih MGRS itu?
Lihat saja di rangkuman tentang MGRS-nya ya. (DaI/WRM)
http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=576
Bagaimana cara efektif menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku? Sejak kapan kita sebagai orang tua mengetahui minat
membaca yang si kecil miliki? serta bagaimana cara membuat sang anak berkonsentrasi terhadap apa yang sedang ia baca?.
Berikut ini adalah rangkuman beberapa pendapat, tips dan masukan dari para moms di milist We R Mommies menanggapi diskusi dengan tema ini. Selamat menyimak.
- Ketahui terlebih dahulu style belajar si kecil dan cara anak memahami sesuatu. Ada beberapa anak yang style belajarnya
melalui membaca, observasi ataupun dari mendengar. Untuk pertimbangan, klik http://click.babycenter.com , kemudian jawab pertanyaan seputar kegiatan anak-anak. Hal tersebut dapat dijadikan pertimbangan untuk memberikan stimulasi yang tepat pada anak.
- Jangan “paksa” anak untuk menyukai membaca bila ia belum berminat dengan buku bacaan.
- Perkenalkan secara bertahap kegemaran membaca. Untuk awal gunakan buku yang ringan seperti buku puzzle (contoh dari Disney). Sambil bermain puzzle, ceritakan sekaligus kegiatan yang tokoh tokoh tersebut lakukan. Libatkan pula anak pada kegiatan buku tutup di buku bergambar. Buku stiker adalah alternatif lain yang menarik. Melalui jenis buku ini, anak diajak untuk mengamati-mengenal sekaligus mencari pemecahan masalah. Misal: dengan buku stiker mimik muka, anak diajak mengenal ekspresi muka yang berbeda beda; dengan buku stiker salah satu bagian tubuh hilang, maka anak belajar anggota anggota tubuh.
- Gunakan media apa saja untuk menarik minat baca anak, misal poster bergambar yang ditempel di dinding kamar.
- Tidak ada istilah terlalu cepat dan terlambat untuk menumbuhkan kondisi cinta buku, mulai saja sejak hari ini!
- Biasakan mengenalkan dengan tradisi membaca sebelum tidur sejak anak anak masih kecil. Untuk awalnya mungkin durasi 5-10 menit sudah cukup, baru nantinya ditingkatkan intensitas kuantitas menitnya.
- Jangan takut untuk bersikap konyol saat membacakan cerita. Membaca dengan 3-4 suara yang berbeda, turun naiknya intonasi suara, serta act-out cerita yang ada di dalam buku akan membuat si kecil tak merasa bosan.
- Kenalkan buku sedini mungkin pada si kecil. Biarkan ia mengeksplorasi buku pertamanya entah disobej, digigit dll. Biasanya
nanti saat anak berusia satu tahun, ia telah mengetahui bagaimana cara membuka buku dan mengerti bahwa buku tidak untuk digigit dan disobek. Yang terpenting: interest pada buku akan mudah dibangun bila dibiasakan dari kecil “bersentuhan” dengan buku.
- Kunjungi web site www.familyreading.org untuk mendapatkan tips tips yang bermanfaat.
- Jadikan membaca sebagai acara keluarga. Waktu kebersamaan di ruang keluarga dapat digunakan untuk acara membaca, misal ayah membaca tugas kantornya, kakak membaca buku yang ia suka dan si kecil yang belum bisa baca diajak oleh mom untuk menelusuri halaman halaman buku yang ia minati.
- Stop aktivitas membaca bila anak sudah tidak tertarik. Jangan sampai anak membaca dalam keadaan tidak konsentrasi ataupun tidak berminat mendengarkan. Aktifitas membaca haruslah menyenangkan agar efek positif dari kegiatan ini dapat terlihat.
- Buat permainan yang merangsang minat baca anak. Misal setiap akhir minggu membuat tema tertentu dan kemudian dicari
buku buku yang berhubungan dengan tema tersebut. Sebagai contoh di akhir minggu ditetapkan tema bugs hunt, maka kita cari
bacaan yang berkaitan dengan bug’s hunt, menonton Bug’s Life. Kemudian main diluar melihat bug’s, membuat snack kupu kupu
atau roti tawar dipotong seperti kupu kupu. Dengan “membaca” isi buku ke dunia nyata maka akan menjadi petualangan menarik buat anak, di mana anak dapat belajar science, matematika, dan sekaligus membaca.
- Buat permainan membaca di sepanjang perjalanan, misal dengan adu membaca aturan lalu lintas, petunjuk jalan, iklan dll.
- Bawa buku saat bepergian selain mainan kesayangannya agar anak terbiasa selalu berinteraksi dengan buku pada saat saat yang ia inginkan.
- Berikan contoh yang baik dari orang tua tentang kebiasaan positif membaca. Bila teladan telah ada namun anak belum tertarik
untuk membaca, mungkin minatnya saja yang belum muncul. Namun jangan putus asa untuk selalu memberikan contoh kebiasaan berinteraksi dengan buku. Teladan membaca ini bahkan tak ada salahnya dibiasakan sebelum si kecil lahir, agar tak terlalu sulit bagi mom membentuk kebiasaan ini. Tunjukkan aktifitas membaca sesering mungkin pada mereka.
-Kondisikan rumah agar ramah terhadap kebiasaan membaca. Dengan pengkondisian, anak akan terbiasa berada di lingkungan buku dan pencintanya serta keingintahuannya terhadap dunia membaca akan semakin besar. (DaI/WRM)