October 19, 2005

Mitos dan Fakta Seputar Pemberian BMT

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=584&Itemid=2

Kita mendapatkan begitu banyak informasi dari berbagai sumber seputar pemberian Bahan Makanan Tambahan (BMT) kepada bayi. Banyak info yang akurat, tetapi tidak sedikit yang hanya merupakan mitos belaka. Artikel ini memberikan beberapa mitos dan fakta seputar hal tersebut.

Mitos I: Pemberian ASI saja tidak mengenyangkan anak, karenanya ia butuh asupan selain ASI.

Jawaban ini banyak ditemukan dalam studi penelitian terkait tentang sebab pemberian makanan bayi terlalu dini (Guerrero et al 1999). Ketakutan para ibu yang memberikan ASI akan kurangnya intake makanan pada si kecil, biasanya juga dipengaruhi oleh gencarnya iklan industri makanan. Rayuan reklame” bila anda merasa si kecil tidak kenyang….” ternyata sedikit banyak berperan penting dalam keputusan ibu memberikan Bahan Makanan Tambahan (BMT) terlalu cepat.

Sayangnya, studi terkait membuktikan bahwa rata rata intake ASI seorang bayi memang berada di bawah rata rata produksi potensial ASI yang seharusnya dicapai (Dewey dan Loennerdal 1986). Agar kuantitas produksi ASI dapat meningkat, pemberian ASI sesering mungkin sangat dianjurkan. Bahkan bila manajemen ASI dapat dilakukan dengan baik, bayi kembar pun dapat memperoleh kuantitas ASI yang mencukupi dalam enam bulan pertama kehidupannya (Saint et al. 1986)

Mitos II: Energi dan zat makanan pada ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi

Ketakutan di atas seringkali ditemukan pada para ibu yang memberikan BMT terlalu dini. Hal tersebut juga “diperparah” dengan penggunaan nilai referensi US-NCHS sebagai patokan pertumbuhan dan perkembangan anak, yang umumnya digunakan di seluruh dunia (Hamill et al. 1979) . Di kurva referensi tersebut, umumnya bayi yang disusui secara eksklusif akan dinilai berat badannya berada di bawah rata rata. Kenyataan bahwa data tahun 70-an yang digunakan dalam menyusun referensi US-NCHS diperoleh pada masa di mana pemberian susu tambahan pada bayi adalah hal yang umum, biasanya tidak dijadikan pertimbangan.

Belakangan hari ditemukan dari banyak hasil studi terkait bahwa pola pertumbuhan anak yang memperoleh ASI ekslusif biasanya akan berbeda dengan anak yang diberikan susu tambahan. Karenanya saat ini WHO sedang menyusun kurva referensi baru untuk anak yang disusui eksklusif oleh ibunya (WHO 2000).

Mitos III: Kandungan zat besi di ASI yang rendah tidak mencukupi kebutuhan bayi, karenanya harus diberikan tambahan zat besi dari BMT.

Berlawanan dengan mitos yang berkembang, pemberian BMT terlalu dini bahkan menyebabkan turunnya kuantitas absorbsi besi dan mikronutrisi lainnya (Golding dan Emmet 1997). Berbeda dengan ASI yang walaupun konsentrasi zat besinya hanya 0.08/100 gr susu, namun daya absorbsinya mencapai 50%. Pada neonatal yang sehat dan lahir di interval waktu yang normal umumnya memiliki nilai hemoglobin sebesar 17 gr/100 ml. Jumlah hemoglobin ini akan makin rendah di enam bulan pertama kehidupannya tanpa menyebabkan berkurangnya nilai serum ferritin yang ada (Loennerdal dan Hernell 1994).

Mitos IV: Zat gizi yang ada di ASI jumlahnya akan makin menurun seiring dengan waktu.

Sebenarnya cukup sulit untuk membuat perbandingan nilai rata rata zat gizi yang terkandung dalam ASI dalam satu kurun waktu tertentu. Hal tersebut disebabkan karena kandungan zat gizi ASI sendiri kadang berubah ubah (Jackson et al. 1998). Penelitian Nagra di Pakistan (1989) menyimpulkan bahwa tidak ada perubahan konsentrasi dari protein, kasein, lemak dan laktosa serta beberapa zat mikro lainnya yang terdapat dalam ASI dalam masa menyusui 12 bulan.

Beberapa zat gizi dalam ASI bahkan kuantitasnya selalu konstan dan tidak dipengaruhi oleh ’status gizi’ ibu (Loennerdal 2000). Dalam kasus ekstrim seperti ibu dengan gizi buruk, baru terbukti ditemukan rendahnya konsentrasi lipid beserta beberapa vitamin B (Thiamin, Riboflavin, B6 dan B12) yang ada.

Mitos V: Kebutuhan dan pertumbuhan anaklah yang menentukan kapan waktu yang tepat diberikannya BMT

Pemberian BMT yang “terlambat” dapat ditemukan di beberapa wilayah Afrika dan Asia. Alasan yang ditemukan amat bervariasi, biasanya erat hubungannya dengan budaya setempat. “Munculnya gigi pertama” adalah salah satu alasan yang biasa dijadikan identifikasi waktu pemberian BMT.

Studi-studi di negara berkembang telah membuktikan adanya keterkaitan antara “terlambatnya pemberian BMT” dengan “munculnya kasus kurang gizi ” pada anak (Abdel Sayed et al. 1995). Namun sayangnya hingga saat ini belum dapat dijelaskan kapan waktu yang harus dipertimbangkan pada masa menyusui “eksklusif” untuk menghindari munculnya masalah gizi buruk. Faktor lain seperti BB lahir, masalah kesehatan ibu-anak, tingkat pendidikan, beban kerja, keadaan gizi ibu serta frekuensi menyusui harus pula dijadikan pertimbangan dalam studi keterkaitan hubungan antara dua variabel di atas.

Nah setelah kita mengetahui beberapa mitos dan fakta tentang waktu pemberian Bahan Makanan Tambahan yang terlalu cepat dan agak terlambat, kini kita dapat mempertimbangkan saat yang tepat mengenalkan BMT pada si kecil. Selamat memutuskan ya! (@DaI)

Referensi: Dari berbagai macam sumber.

September 28, 2005

Kala Musim Gugur Tiba…

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=573&Itemid=2

Menjelang akhir musim panas, saya selalu menanti nanti datangnya musim gugur menyapa bumi. Tak sabar rasanya untuk dapat mengucapkan selamat tinggal pada rasa panas yang tak meninggalkan keringat, kemudian menyapa dengan ucapan selamat datang pada musim gugur yang penuh pesona dan teramat menawan.

Entah mengapa, saya amat menyenangi sekali nuansa yang muncul dari musim gugur dengan segala macam pernak perniknya: aneka ragam warna dedaunan yang kan berubah di sepanjang harinya, bau tanah yang khas setelah tersirami sejuknya air hujan, hujan yang kadang turun dengan butiran lembutnya dari langit, bahkan derasnya hujan yang disertai tiupan angin yang kencang pun seakan tetap menyimpan satu daya tarik tersendiri bagi saya.

Warna-warni dedaunan di pohon yang berubah di sepanjang hari, yang kemudian diikuti dengan bergugurannya satu persatu dedaunan di pepohonan pun tak bosan bosannya membuat mata ini menatap. Setinggi, sekuat dan sebesar apapun jenis pohonnya, maka semua akan menjalani fitrah. Dedaunannya yang lebat, satu persatu akan lepas dari ranting kemudian akan jatuh ke tanah. Seluruh ranting akan menjadi gundul, tanpa ada daun yang tersisa. Hanya tegak pohon berbatang coklat yang akan ada, di akhir musim gugur, menjelang awal musim dingin yang kan datang menggantikan.

Telah sembilan kali musim gugur saya lewati di negeri ini. Namun sembilan kali itu pun tetap tak cukup bagi saya untuk menikmati dan mengamati pesona keindahan yang tercipta dari tiap musim gugur yang tiba. Di sembilan kali itu pula, diri selalu diingatkan oleh Pencipta akan hikmah permisalan dari musim gugur yang menyapa, minimal bagi saya pribadi.

Kala butiran lembut hujan menyentuh raga, maka butiran air tersebut seakan menyapa jiwa saya yang rapuh…”wahai dinda..kubasahi dirimu dengan lembut, agar nantinya kesegaran dan kesejukan dapat kau nikmati. Maka syukurilah datangnya ku padamu. Berterimakasihlah padaNya yang telah segarkan diri dan sekitarmu dengan sapaan lembut dariku. Datangnya diriku adalah salah satu nikmat bagimu, walau mungkin kadang dirimu tak tahu. Semoga melalui diriku, jiwamu kan bersih dan segar kembali. Sebagaimana doamu pada Penciptaku , agar kau dibersihkan dari segala kesalahanmu dengan air, salju dan embun “. Ah, betapa indahnya.

Saat hujan deras datang dengan disertai tiupan angin kencang yang menemani, maka seakan saya di sadarkan akan keterbatasan diri yang saya miliki. Tak pantas rasanya bersombong dan berbangga diri padahal badan masih harus berjalan terhuyung hanya akibat tiupan angin ciptaanNya, yang mungkin tak seberapa kencang. Mampirnya siraman hujan deras ditambah kuatnya tiupan angin ke badan lemah ini, seakan menegur saya.. ” wahai dinda, siapakah engkau..yang kadang terjebak sombong dan bangga, merasa kuat di dunia. Bukankah dirimu pun sudah letih payah hanya karena siraman hujan tak seberapa dan angin yang tak sebegitu kencangnya dariNya?”. Ah benar, kadang sayapun tak menyadari kekhilafan saya.

Ketika saya memandangi warna dedaunan yang beraneka ragam, seakan akan saya melihat manusia dengan segala macam jenis dan karakteristiknya. Tak ada bentuk, warna serta ciri khas daun yang sama. Namun dengan segala macam perbedaan yang tercipta, tak ada satupun daun yang tak akan berguguran ke tanah. Semua akan kering…satu saat akan jatuh ke tanah. Hanya waktu yang membedakan, kapan mereka akan pergi menemui bumi.

Saya adalah salah satu daun yang ada di pepohonan itu. Daun yang satu saat akan berubah warnanya. Daun yang bila waktunya tiba ‘kan menjadi tua, lepas dari ranting dan jatuh ke tanah. Satu saat saya akan meninggalkan pohon kehidupan dunia dengan ranting rantingnya yang kini masih saya genggam. Satu saat nanti, yang sayapun tak tahu kapan menghampiri.

Ah, saya ingin di saat saya harus lepas dari pohon kehidupan, warna di daun yang saya miliki adalah warna yang indah, yang tak terlalu punya banyak bercak bercak noda hitam di daunnya. Bercak hitam yang hanya akan mengurangi nilai keindahan warna yang telah tercipta. Saya ingin memiliki warna akhir di daun, yang dengannya Sang Pencipta akan melimpahkan rasa Sayang dan Cinta pada saya yang telah Dia ciptakan. Warna akhir di daun, yang dengannya manusia akan terhibur akan keindahannya serta akan selalu mengenang pesona yang timbul darinya, walau sang daun telah tiada.

Robbi, bila saatnya tiba…perkenankanlah Engkau tutup hidup hamba dengan satu penutup yang baik. Satu penutup dimana hamba telah dapat membuat kebun kebaikan, yang kan selalu dapat menghantarkan amal kebaikan ketika hamba tak lagi di dunia fana. Satu penutup yang indah, dimana hamba kan diperkenankan olehMu untuk dapat menikmati keindahan alam abadi yang sesungguhnya. Robbi, kabulkanlah doa hamba….(@DaI)

September 13, 2005

Co-Sleeping: Tradisi Menguntungkan Yang Makin Menghilang

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=557&Itemid=2

Tidur bersebelahan antara ibu dan bayi adalah satu tradisi alami yang biasa ditemui di setiap kelompok masyarakat sekaligus merupakan kegiatan yang menguntungkan, baik bagi ibu dan bayinya. Aktivitas yang biasa dikenal dengan istilah ‘Co-Sleeping’ memang telah terbukti memiliki keunggulan secara klinis dan berperan penting pula terhadap tingkat ‘ke-survive-an’ anak. Sayangnya, kecenderungan yang kini teramati malah berbeda: semakin banyak para orang tua yang memutuskan tidak tidur bersama bayi mereka di satu tempat tidur.

Neonatal yang hanya memiliki 25% volume otak seorang dewasa membutuhkan dukungan sosial dan emosional yang intens, termasuk di dalamnya kebutuhan terpenuhinya rasa lapar. Tak mengherankan, pemberian ASI siang ataupun malam adalah hal terefektif yang tak dapat disangkal peranannya dalam mengatasi pemenuhan rasa lapar si kecil. Hal tersebut dapat teramat mudahnya didapatkan di malam hari melalui aktivitas Co-Sleeping yang sekaligus membawa kenyamanan pada ibu dan anak. Karenanya penelitian ilmiah tentang pola tidur bayi manusia yang tidak memperhitungkan peran pemberian ASI malam hari, faktor kedekatan ibu-anak dan kontak yang terjadi dapat dianggap sebagai satu penelitian yang tak lengkap dan tidak tepat (McKenna 1986).

Kondisi Yang Harus Terpenuhi

Untuk menjamin keamanan Co-Sleeping yang dilakukan, terdapat satu syarat utama yang harus terpenuhi: terciptanya kondisi yang memungkinkan si kecil mampu “merasakan” serta “menyadari” kehadiran ciri khas sang ibu. Signal ibu seperti bau khasnya, desah nafas, gerakan tidur, perkataan serta ‘undangan’ menyusui di malam hari haruslah si kecil ‘mengerti’. Dengan terpenuhinya kondisi di atas, tidur bersama antara ibu dan bayinya dapat dikatakan aman untuk dilakukan.

Sebaliknya, kondisi yang membahayakan dilakukannya Co-Sleeping harus dihindari. Tidur bersebelahan dengan bayi di sofa, ibu perokok yang mendampingi tidurnya si kecil, anak balita yang tidur di samping si bayi (Young dan Fleming 1998) dan penggunaan matras empuk serta bantal bayi (Drago und Danneberg 1999, Scheer 2000) adalah beberapa faktor yang dapat dicatat. Ibu pengkonsumsi alkohol dan obat obatan (termasuk narkoba) juga dianjurkan tidak melaksanakan Co-Sleeping karena dikhawatirkan memiliki kemampuan reaksi spontan yang terbatas.

Keuntungan Tidur Bersama bagi si Kecil

Co-Sleeping terbukti berperan penting terhadap penjagaan kestabilitasan suhu bayi. Temuan studi Mc Kenna (1986) menyimpulkan bahwa seorang bayi yang sejak lahir diletakkan berjauhan dengan perut ibunya mengalami penurunan suhu tubuh hingga 1 derajat celcius. Kondisi ini pun dapat diamati pada bayi yang berada di dalam inkubator dimana suhunya telah diatur sedemikian rupa mendekati suhu tubuh sang ibu. Kontak kulit dengan orang tuanya pun terbukti berpengaruh positif terhadap bayi — prematur ataupun normal. Melalui sentuhan kulit tersebut, bayi biasanya akan memiliki pola nafas lebih teratur, menggunakan energi lebih efisien, memiliki pola tumbuh-kembang lebih cepat serta mengalami lebih sedikit stress. (Stewart dan Stewart 1991, Field 1995).

Bayi yang tidur terpisah dari orang tua pada awalnya biasa menunjukkan gejala rewel dengan menangis dan berteriak. Hal tersebut dapat didefinisikan sebagai tanda protes terhadap keadaan yang dianggap membahayakan dirinya, yaitu terpisah dari orang yang dianggap sebagai bagian terpenting dari hidupnya. Karenanya tak heran pada bayi yang tidur bersebelahan dengan orang tuanya relatif lebih ‘anteng’ dan ‘tidak rewel’ pada saat akan tidur.

Anjuran pemisahan tidur sejak kecil banyak ‘terdengar’ di beberapa tahun kebelakang. Hal itu dilakukan dengan alasan agar otonomi sang anak sejak kecil dapat terasah. Intervensi minimal orang tua pada si kecil, termasuk halnya pemberian ASI, bahkan kadang datang dari petugas kesehatan sendiri. Tak hanya itu, ‘nasehat’ untuk menghindari agar sang anak tertidur saat menyusui pun banyak didengungkan. Tips yang banyak beredar tersebut biasanya didasarkan atas studi terdahulu yang menyatakan bahwa anak yang dibiasakan tidur bersama orang tuanya umumnya memiliki permasalahan psikologi, emosional dan hubungan sosial di masa depan (Ferber 1985).

Hal yang menarik, temuan studi cross sectional di Inggris menyimpulkan hal berbeda. Responden pada studi tersebut yang memenuhi kriteria “tidak pernah tidur di tempat tidur orang tuanya” malah terbukti banyak memiliki masalah, baik menurut orang tuanya dan guru di sekolah. Sulit dikontrol, merasa tak berbahagia, emosional, mudah marah adalah beberapa permasalahan yang tercatat di studi tersebut. Selain itu, anak anak tersebut lebih gampang ketakutan di banding mereka yang pernah tidur bersama orang tuanya (Herons 1994).

Keuntungan Co-Sleeping juga disimpulkan dari temuan penelitian Lewis & Janda (1988). Studi tersebut menyimpulkan, pada responden pria yang sejak lahir hingga usia lima tahun pernah tidur bersama orang tua, umumnya memiliki kepercayaan diri yang tinggi, jarang memiliki ketakutan dan rasa bersalah serta kualitas seksual yang baik. Bagi wanita, ‘efek’ dari kegiatan tersebut diasosiasikan pula dengan adanya rasa ‘affection’ saat ia dewasa.

Pada penelitian tema sejenis juga ditemukan bahwa anak anak yang pernah tidur bersama orang tuanya lebih jarang menjalani terapi psikiatri (Forbes et al 1992). Bahkan dari studi terbesar dengan tema terkait yang melibatkan 1400 orang lintas etnis di Chicago menghasilkan temuan bahwa pada orang dewasa yang pernah melakukan Co-Sleeping di masa kecil memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi dibanding rekannya yang tidak pernah melakukan (Mosenkis 1998).

Co-Sleeping dan SIDS

Para penganut faham kontra terhadap Co-Sleeping biasanya menggunakan argumentasi kemungkinan terjadinya Sudden Infant Death Syndrom (SIDS) ataupun kematian bayi seperti halnya yang ditemukan dari penelitian Mortimer (2001) yang dilakukan di beberapa kota besar seperti Chicago, Cleveland, Washington D.C dan St. Louis . Sayangnya, argumentasi tersebut tidak memperhatikan faktor keamanan yang harus dipenuhi saat dilakukannya Co-Sleeping.

Responden pada studi tersebut adalah para ibu miskin keturunan afrika yang umumnya mengkonsumsi rokok, narkoba dan alkohol. Selain itu bayi bayi mereka pun biasa ditidurkan dalam posisi tengkurap tanpa memperhatikan jenis matras tidur yang digunakan. Tak heran dalam kondisi di atas ditemukan tingginya angka kematian bayi. Karenanya argumen yang berangkat dari penelitian serupa tanpa memperhatikan terpenuhinya syarat Co-Sleeping yang aman sebenarnya tidak dapat digunakan sebagai bukti yang menyatakan adanya keterkaitan langsung antara SIDY dengan praktek Co-Sleeping.

Hubungan antara Co-Sleeping, menyusui eksklusif dan rendahnya SIDS bahkan dapat dibuktikan dari studi yang dilakukan di Kanada oleh Sankaran et al. (2000). Kesimpulan serupa juga ditemukan dari hasil penelitian di Afrika Selatan : bayi yang tidur bersama ibunya memiliki peluang untuk hidup lebih besar (Kibel und Davies 2000). Pada beberapa wilayah dimana Co-Sleeping dianggap sebagai satu norma umum yang berlaku seperti di Hongkong dan Jepang, bahkan memiliki angka terendah kasus SIDS di dunia.

Dari penjelasan yang telah dikemukakan, maka moms telah dapat mengetahui beberapa manfaat dari tidur bersama antara ibu dan si kecil. Kombinasi Co-Sleeping dan menyusui bahkan merupakan tindakan terefektif dan integratif pelayanan akan kebutuhan si kecil di malam hari. Kepercayaan, komunikasi, sentuhan, pemberian makanan dan penguatan sistem kekebalan tubuh: kesemuanya dapat diperoleh dari dua kegiatan yang dilakukan dalam satu waktu tersebut.

Belum lagi ditambah dengan semakin kecilnya risiko terjadinya kematian bayi secara mendadak melalui aktivitas Co-Sleeping. Tak dapat dipungkiri, kegiatan tidur bersama tersebut adalah tindakan yang tepat bagi moms yang memiliki si kecil. Karenanya pertanyaan “Amankah bila saya tidur bersama si kecil?” seharusnya tak lagi mommies ajukan, namun kalimat berikut yang sebaiknya moms tanyakan “Amankah bila saya tidak tidur bersama si kecil?”. (DaI)

Referensi:


Ferber R (1985) Solve Your Child’s Sleep Problems. New York: Simon and Schuster
Heron P (1994, April) Non reactive Co-Sleeping and Child Behaviour: Getting a Good Night’s Sleep All Night Every Night. Masters Thesis, University of Bristol, Department of Psychology
McKenna JJ (1986) An anthropological perspective on the sudden infant death syndrome (SIDS): the role of parental breathing cues and speech breathing adaptations. Med Anthrop 10: 9-53
McKenna JJ (2003) Co-Sleeping In Scherbaum et.al: Stillen, Fruehkindliche Ernaehrung und reproduktive Gesundheit. Deutscher Aerzte Verlag, Koeln: 268-270
Mortimer A (2001) Sudden infant death syndrome, bed-sharing, parental weight and age at death. Pediatrics 107(3): 530-536
dan berbagai macam jurnal ilmiah dan buku dengan tema terkait.

*Foto dari www.corbis.com

August 24, 2005

Seri Manajemen Laktasi: Urgensi “First Contact” Bagi Sukses Menyusui

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=535&Itemid=2

Di tiap penjuru bumi manapun, bahasa tubuh adalah first mother tongue yang berpengaruh dalam komunikasi yang akan dijalin. Demikian halnya pada bayi yang baru dilahirkan, “pembicaraan” pertama yang dilakukan dengan ibunya adalah “bahasa tubuh”. Pola “pembicaraan” awal ini lah yang akan banyak mempengaruhi ketrampilannya dalam berkomunikasi dan penjalinan hubungan dengan ibunya.

“Pembicaraan” antar si kecil dan sang ibu umumnya dimulai saat ia melakukan kontak sentuhan kulit pertama kali dengan ibunya beberapa saat setelah dilahirkan. Pada masa awal ini, hal yang utama dibutuhkan oleh si kecil adalah kebutuhan untuk berdekatan dengan sang ibu agar rasa aman didapatkan. Melalui aktivitas ini, produksi hormon prolaktin dan oksitosin sang ibu akan distimulasi. Bersamaan dengan itu suhu tubuh si kecil serta metabolisme tubuhnya akan makin beradaptasi dengan lingkungan yang baru dikenalnya (Christensson et.al 1992). Kebutuhan untuk menyusui sendiri biasanya baru timbul pada 30-60 menit pertama setelah dilahirkan.

Bila si kecil dibiarkan berbaring di perut ibunya untuk beberapa lama dan sang ibu sabar menunggu, maka keinginan mencari puting susu ibunya akan muncul dengan sendirinya (Widstrom et. al. 1990). Tak heran bila umumnya bayi yang baru dilahirkan amat menikmati masa satu jam pertama kehadirannya di dunia dengan mulai membiasakan diri dengan bau sang ibu serta akhirnya menikmati kontak menyusui pertama kali. Setelah melalui masa ini, si kecil dan sang ibu biasanya dapat tidur dengan nyenyak, beristirahat dari proses kelahiran yang cukup menyita energi.

Agar masa menyusui pertama dapat berjalan lebih efektif diperlukan persyaratan dan kondisi yang seoptimal mungkin harus dilakukan. Beberapa hal yang patut diperhatikan adalah sebagai berikut:

- Penggunaan seminimal mungkin obat-obatan khususnya opium dan sejenisnya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nissen et. al. 1995 penggunaan obat obatan tersebut dapat mempengaruhi kemampuan sang bayi dalam mencari puting susu ibu serta daya isapnya, baik singkat ataupun lebih lama.
-Kontak kulit antar si kecil dan ibunyapun sedapat mungkin tidak terganggu selama dua jam pertama setelah dilahirkan atau hingga saat menyusui pertama dapat dilakukan (ILCA 2000:7; SFN 2000:7).
-Berselimut bersama antar sang ibu dan si kecil selain penempatan di ruangan sepi yang terhindari dari gangguan dan kebisingan.
-Pemeriksaan pada bayi baru lahir dan Apgar-Test hendaknya dilakukan di atas perut sang ibu.
-Kegiatan pengukuran, penimbangan, pembersihan badan bayi, pemberian vitamin K ataupun penetesan erytrhromycin pada mata hendaknya dilakukan dua jam setelah bayi dilahirkan atau setelah terjadi kontak menyusui pertama kali (ILCA 2000:7).
-Membiarkan bayi kondisi sehat untuk mencari sendiri puting susu ibunya
-Pemberian bantuan untuk menyusui bila hingga 60 menit pertama si kecil tidak mampu menemukan puting susu sang ibu secara spontan.

Bila kondisi berikut terjadi dimana: proses kelahiran dilakukan melalui proses bius total; si kecil memiliki masalah kesehatan yang perlu ditangani segera; keadaan yang mengharuskan ibu-anak terpisah, maka proses penjalinan kontak kulit dan saat menyusui pertama kali harus segera dilakukan saat kondisi ibu (dan/atau) si kecil telah pulih. Beberapa persyaratan di atas pun sebaiknya juga dilakukan karena akan membantu sukses menyusui pertama kali.

Saat menyusui kedua kali yang biasanya terjadi setelah enam jam bayi dilahirkan, pertolongan profesional dalam menyusui amatlah dibutuhkan. Bidan, perawat ataupun tenaga profesional terkait hendaknya mengamati pola menyusui yang dilakukan sekaligus memberikan masukan yang optimal dan informasi yang terkait dengan menyusui. Pengenalan beberapa posisi menyusui pun hendaknya didapatkan pada masa ini, demikian halnya koreksi yang perlu dilakukan untuk memperbaiki pola menyusui yang telah dilakukan.

Selama masa awal setelah melahirkan (khususnya bila prose kelahiran dilakukan di rumah sakit atau klinik), hendaknya dilakukan evaluasi per delapan jam tentang beberapa hal berikut: kondisi payudara dan puting susu, posisi ibu dan bayi saat menyusui, cara mulut bayi “menangkap” puting susu, signal terjadinya transfer ASI, interaksi ibu-bayi, frekuensi menyusui, kuantitas popok yang basah, kuantitas PUP, pola perubahan berat badan serta posisi menyusui terefektif. Dengan didapatkannya data data di atas diharapkan evaluasi kegiatan menyusui yang telah dilakukan dapat diperoleh, sehingga dapat dijadikan dasar pengetahuan sang ibu agar pemberian ASI dapat berjalan sukses.

Dengan berprinsip: pemberian ASI sedini mungkin, penggunaan metode yang tepat serta pemberian sesering mungkin sesuai kebutuhan sang bayi–siang ataupun malam– maka proses awal menyusui diharapkan dapat berjalan tanpa kendala berarti. (@DAI)

Referensi:

Christenson K et al (1992) Temperature, metabolic adaptation and crying in helathy full-term newborns cared for skin-to-skin or in a cot. Act paediatr 81: 488-493.

Gumberger und Hormann (2003) Einfuehrung in das Stillmanagement In Scherbaum et.al: Stillen, Fruehkindliche Ernaehrung und reproduktive Gesundheit. Deutscher Aerzte Verlag, Koeln: 103-105

Widstrom, A-M et al (1990) Gastric suction in healthy newborn infants. Acta PAediatr Scand 76: 566-572

August 9, 2005

My Time With Sheila

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=510&Itemid=69

Kisah sedih Sheila, seorang gadis cilik yang tak mau bicara , telah membuat pembacanya yang ada di 22 negara turut hanyut dalam kesedihan sang gadis kecil. Bahkan buku Sheila yang Torey tulis, membuat dirinya terkenal sebagai therapis spesial untuk kasus kasus mutismus (tak mau berbicara). Lima bulan penuh Torey berjuang untuk membebaskan Sheila dari penjara kebisuan dan keagresifan yang mengkungkungnya. Lima bulan panjang bagi Torey dan Sheila, yang berakhir dengan manis. Setelahnya, mereka berdua menapaki jalan kehidupan yang berbeda: Torey kembali menekuni pekerjaannya di kota lain, Sheila pun nampak menjalani kehidupan “normal” nya di kelas reguler dengan membawa kenangan manis bersama Torey membaca buku “kleine Prinz” yang ada selalu di benaknya.

Tujuh tahun kemudian, Torey mulai menulis pengalaman selama berinteraksi dengan Sheila setelah ia termotivasi oleh catatan kecil mahasiswinya yang dituliskan dalam sebuah buku yang ia hadiahkan pada Torey: “Fuer Torey, in der Hoffnung, dass Sie eines Tages ueber Sheila, Leslie und alle die anderen schreiben werden”.

Saat Torey telah selesai menuliskan pengalamannya bersama dengan Sheila kecil, maka secara tak sengaja ia memperoleh informasi bahwa Sheila bermukim di tempat yang tak begitu jauh dari Sandry Clinic, tempat Torey melakukan penelitian psikologinya. Torey kembali bertemu dengan Sheila. Namun penampakan gadis yang hampir berusia 14 tahun bernama Sheila itu amatlah jauh berbeda dari apa yang Torey ingat pada Sheila gadis kecil cantik berambut lurus yang memiliki IQ 180.

Sheila yang kurus, berambut kriting dengan warna oranye menyala dan sedikit bergaya ala punk, nampak tak mengingat masa masa yang ia lalui bersama Torey. Kenyataan bahwa Sheila melupakan masa kebersamaan dengannya dan seakan kasih serta usaha mengajarkan arti cinta pada Sheila kecil nampaknya tak membuahkan apa apa, sedikit banyak membuat Torey sedih dan kecewa. Namun Torey tak pantang menyerah, ia kembali menjalin relationship dengan sang remaja dan berusaha kembali mengenalkan arti sayang dan cinta pada Sheila.

Torey banyak mengikutsertakan Sheila dalam aktivitasnya, bahkan ia mengajak Sheila untuk bekerja sebagai asisten pada Summer Program bagi kelompok anak anak yang mengalami gangguan psikologi, yang selama ini diterapi di Sandry Clinic. Semakin intens Torey berinteraksi dengan Sheila, semakin Torey menyadari bahwa remaja 14 th yang kini ia hadapi memiliki masalah yang sama dengan Sheila kecil di 7 tahun yang lalu: dendam kesumat yang tak berkehabisan!.

Hasil komunikasi intensif dengan Torey pun berdampak pada Sheila. Semakin intens Sheila berinteraksi dengan Torey, semakin terkuak kembali gambar dan kenangan kenangan masa lalu yang harus Sheila alami. Kenangan kenangan pahit yang mengikuti jalan hidupnya seakan muncul dengan detailnya yang begitu jelas: saat ia harus memuaskan kebutuhan dealer obat bius yang akan menjual obat obatnya dengan harga yang murah pada ayahnya, saat ia diperkosa oleh pamannya, serta saat ia dipaksa keluar dari mobil oleh ibunya dan ditinggalkan begitu saja di tepi High Way kala berusia 4 tahun: berpisah dengan Jimmie kecil adik satu satunya. Kebencian, dendam, kerinduan dan rasa tak berharga menyelimuti sang remaja.

Pilu, sedih dan kecewa melihat kasih dan usahanya selama ini mengajarkan cinta kepada Sheila seolah tak berarti apa-apa, Torey tetap tak mau menyerah. Torey pun tetap menghadapi Sheila dengan sabar tatkala Sheila berdiri depan pintu rumahnya bersama Alejo, seorang anak yang mengikuti Sommer Program ,yang ia culik karena ketakutannya bila Alejo akan dikembalikan ke Kolombia oleh orang tua asuhnya. Torey memandikan Sheila dengan kasih dan menina bobo kannya di kamar pribadi Torey.

Torey pun tetap mencari kabar kala Sheila hilang begitu saja dari kehidupannya. Harapan agar satu saat Sheila kembali menghubungi dirinya selalu dipupuk Torey dalam sanubari. Hingga satu saat Torey mendapatkan setumpuk surat pribadi yang Sheila ditujukan padanya dan ibunya. Torey pun kembali berkunjung rutin pada Sheila yang harus tinggal di rumah penitipan anak anak selama ayahnya mendekam di penjara akibat tak mampu membayar tagihan sewa rumah di tempat tinggal lama mereka. Torey habiskan waktu satu kali seminggu bersama Sheila dengan melakukan aktivitas bersama ataupun hanya sekedar mendengar sang remaja membacakan sekelumit puisi dari buku Antonius and Cleopatra. Buku yang Sheila 10 kali baca dalam dua hari dan masih berulangkali ia selusuri kata katanya. (

Hilangnya kabar Sheila harus kembali Torey alami. Kesedihan melanda Torey karena ia pun harus menyiapkan diri berhadapan dengan realita: menerima hilangnya Sheila dari kehidupannya. Frustasi yang Torey hadapi ia lawan dengan kesibukan harian di Sandry Clinic, walau toh tetap ia simpan secercah harapan: satu saat..semoga Sheila memberi kabar padanya.

“Geh fort, geh fort, o Menschenkind. Wo Wasser und die Wildnis sind. Mit einer Fee geh Hand, denn sind mehr Traenen auf der Welt, als einer fassen kann. Fuer manche von uns ist diese Welt nicht gemacht Torey. Der kleine Prinz hat es erfahren. Und Kleopatra, und ich glaube, ich auch. Hier gibt es nichts fuer Mich. Ich komme von einem anderen Ort. Ich gehoere nicht hierher. Sind mehr Tränen auf der Welt, als ich fassen kann. Danke, dass du’s versucht hast. Und fax mir nicht zurueck. Ich schicke das von einem Geschaeft aus und will keine Antwort. In Liebe, Sheila.”. Sebuah Fax mengagetkan Torey akan keberadaan Sheila di suatu kota di Kalifornia Utara. Ya, Kalifornia, tempat yang selalu Sheila sangka di sanalah ibu dan Jimmie- nya berada. Setelah dapat berbicara dengan Sheila yang tetap tak mau ditolong olehnya, Torey memohon pada Sheila agar berkenan menunggu di satu tempat hingga ia datang menemui.

Perjalanan 2 jam dengan pesawat ditambah 2 jam dengan mobil sewaan rela Torey tempuh demi menemui Sheila yang sedang kebingungan. Tepat jam 10 malam di restaurant siap saji Mc Donald nun di satu tempat di Kalifornia utara, Torey melihat seorang gadis lusuh dengan pakaian yang kotor dan tampak kelaparan: ya, Sheila-nya sedang duduk termenung di satu meja. “Ich will nicht in das Heim zurueck Torey. Wennn du nur hergekommen bist, um mich wieder dahin zu bringen, haettest du auch gleich zu Hause bleiben koennen. Ich geh’ da nicht wieder hin. Da sitzt man wie in der Todeszelle, und das ist fuer mich erledigt!” jawab Sheila saat Torey mengajaknya untuk menaiki mobil. Namun Torey begitu sabar menjalin pembicaraan hingga akhirnya Sheila menyerah pasrah naik ke mobil sewaan, berduaan dengan Torey menempuh perjalanan malam melalui Highway ke arah utara.

Di perjalanan menyusuri Highway yang gelap gulita, Sheila seakan lepas menuangkan emosi kesedihan, kemarahan dan kekecewaannya. “Why did you do that Torey? Why did you extra come here to take me?” “Because I love you. That’s only”. Sheila menangis terisak isak. “It’s not fair. It’s so wrong. You have not supposed to be here. My mother should come here and talk with me. Not you, only my teacher.” Sheila menoleh pada Torey. “So sorry Torey for what I say. But that’s what you are. Where are the people, who I should love? Where are they now?” Where is my mother? and where is my father? Why should always people like you, who take care of me? Why not my parents? Am I too bad for them? “. Torey tak menjawabnya, karena memang ada waktu dimana kata kata tak dapat membantu luka kepedihan yang sedang dirasa.

Setelah Sheila selesai melepaskan luapan emosinya, baru Torey mengajaknya berpikir lebih jauh dan melihat segala hal dari sudut pandang yang berbeda. Percakapan yang dalam dan panjang, mereka alami hingga ke kota tempat tinggal mereka berdua. Keesokan harinya, setelah Sheila terbangun dari tidur pulas di lantai kamar Torey, ia berkata: ” Ich glaube, dass ich inzwischen den ersten Punkt erreicht hab’. Ich hab’ hier gesessen und nachgedacht, und du, ich hab’ jetzt nicht mehr das Gefuehl, dass es meine Schuld war. Es tut immer noch hoellisch weh. Ich wuensch’ mir immer noch es waere nicht geschehen. Ich kann jetzt verstehen, dass meine Mutter vielleicht ihre eigenen Probleme hatte und es nur mein Pech war, dass ich eins davon war”. Sheila melanjutkan bicaranya pada Torey “am meisten hab’ ich ueber das nachgedacht, was du ueber das Loslassen gesagt hast. Annehmen, Verzeihen und dann Loslassen. Annehmen kann ich, glaube ich. Ich glaube, ich kann sogar verzeihen, aber dan Loslassen macht mir zu schaffen. Ich versuche dahinterzukommen, was zum Loslassen gehoert, und das einzige, was mir einfaellt, ist, dass man nach vorne schauen muss. Man muss mehr and die Zukunft denken als and die Vergangenheit”.

Dengan kemampuan intelektual kategori jenius, Sheila tetap bersikeras tidak melanjutkan pendidikan ke Universitas, namun ia memilih berkarir di Mc Donalds .Torey pun menghargai keputusannya walau tetap ada sedikit kecewa karena kemampuan intelegensi Sheila tak dapat optimal di gunakan di universitas “Ein hochintelligentes Maedchen wie du! und di willst dir dein Leben damit verdienen, dass du Hamburger austeilst?” “Hoer zu Mama, ich muss das Tun, was ich fuer richtig halte” “Ich bin nicht deine Mutter. Meinem Kind wuerde ich so was niemals durchgehen lassen” Torey tertawa. “Doch du bist meine Mutter. Wenn ueberhaupt jemand meine Mutter ist, dann bist du’s, weil ich dich genauso liebe wie eine Mutter. Und ich weiss, dass du mich auch liebst”. “Ok good. Do what you think right. I do trust you” “Thank you, Mama” demikian Torey menutup buku Tiger’s Child ini.
Kisah menarik yang menyentuh jiwa, saya dapatkan kembali ketika membaca karya Torey ini. Emosi saya pun terpengaruh mengikuti turun naiknya emosi Sheila dan Torey dalam Tiger’s Child. Kadang saya tak habis pikir, ternyata masih saja ada orang sebaik Torey yang menyayangi anak bimbingnya dari hati yang terdalam dan rela berkorban waktu, tenaga bahkan materi di zaman di mana dunia dipenuhi nilai nilai kapitalis dan materialis. Apakah saya juga dapat berlaku demikian?.

Selebihnya, saya amat terkesan dari beberapa untaian kalimat Sheila dalam buku ini yang membuat nurani saya tersentuh: Accept, Forgiving and then Releasing….We must look forward and we’ve to think more at the future than a past. Mungkin benar, kejadian masa lalu yang pahit terutama yang melukai hati serta kadang tak kita mengerti mengapa harus terjadi akan lebih baik bila kita menerimanya. Menerima bahwa itu telah terjadi dan tak akan bisa dirubah lagi. Akan lebih baik lagi bila kita memaafkan penyebab kepahitan tersebut dan berusaha untuk ikhlash melepaskan masa lalu yang menyakitkan. Hati memang berubah ubah, namun dengan selalu berkomitmen melakukan ketiga hal di atas, rasanya akan lebih mudah bagi kita untuk menjalani masa depan. Masa lalu biarlah kita jadikan kenangan dan pengalaman hidup yang berharga, namun janganlah menjadi penjara bagi kita untuk tidak lebih banyak memikirkan masa yang akan datang. Benarlah kiranya nasihat bijak yang sering saya dapati…adalah manusia merugi, bila saat ini tak lebih baik dari masa lalu, dan bila masa depan tak lebih baik dari hari ini.

Satu lagi yang membuat saya berkaca diri..mungkinkah kiranya di satu saat nanti buah hati saya dapat berbangga hati memiliki saya sebagai ibunya. Dapatkah satu saat mereka berkata pula pada saya, yang ibu kandungnya ” You’re my ummi….I do love you Ummi, and I’m sure that you do love me too” . Ah, semoga…(@DAI)

*Sheila is now in her thirties. She has moved from fast food into the restaurant business and seems to have quite an astute business mind. She remains single and shares her home with two cats and two dogs. Animal rights has become an important cause in her life and she devotes a considerable amount of free time to this work.

July 19, 2005

Terimakasih, Yusuf Islam…

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=487&Itemid=64

Beberapa hari yang lalu saya dan suami sempat mengikuti acara dokumentasi perjalanan hidup Yusuf Islam alias Cat Stevens. Cat Stevens: eine Wahre Geschichte sebuah sendung 56 menit yang produksi oleh stasiun televisi ternama ORF di Austria, amat menarik untuk diikuti. Khususnya bagi saya yang memang teramat menyukai musik musik yang Yusuf Islam a.k.a Cat Stevens ciptakan.

Stevens kecil yang bernamakan Stephen Demetre Georgiou lahir di london, berdarah campuran Swedia dan Yunani. Sejak kecil ia jatuh cinta pada musik. Ia tuliskan lirik lirik ciptaan pribadinya yang kemudian dituangkan dalam alunan gitar. Karena matanya yang indah, banyak para teman teman wanitanya memanggil Stevens remaja dengan julukan “cat” alias kucing. Sehingga terciptalah nama Cat Stevens yang akhirnya ia gunakan tatkala masuk ke dunia seni.

Setelah terbilang sukses di awal perjalanan karirnya melalui managerisasi dari Mike Hurst, Cat Stevens sempat menghilang beberapa saat akibat penyakit tuberkolosis kronis yang ia derita. Namun keberadaan di rumah sakit selama beberapa saat ternyata tak memadamkan kreativitas yang ia miliki. Lima puluh lagu berhasil ia ciptakan setelah ia keluar dari perawatan intensif di awal th 1969. Dengan keyakinan akan mampu menaklukkan dunia musik era 60-an, ia menjanjikan pada manager keduanya, Barry Korst, untuk menghadiahkan sebuah Rolls Royce bila sang manager dapat menjadikannya nomor satu di tangga lagu pop pada masa itu. Akhirnya tak hanya Rolls Royce yang dapat Cat muda hasilkan, 40 juta album pun mengiringi kesuksesan karirnya di th 60′an dan 70′an. Lagu seperti “Morning has Broken”, “Father and Son” atau “Peace Train” menjadi Megahits di masa tersebut, bahkan menjadi lagu abadi yang selalu nyaman di telinga sepanjang masa. Teks teks lagu yang ia ciptakan tak hanya menandakan jeniusnya Stevens di bidang musik, lebih dari itu menggambarkan sifat kepeduliannya pada lingkungan dan alam sekitar. Bahkan sejak ia sembuh dari tuberkolosis kronis, ia bertekad tak ingin mati meninggalkan dunia tanpa mengetahui makna kehidupan yang dijalaninya. Di tahun 1974 ia pun menjadi duta kehormatan Unicef di Ethiopia.

Pencarian makna hidup melalui pendalaman beberapa agama dan kepercayaan yang ada, terus ia jalani. Bahkan mempengaruhi corak dan tema musik yang ia ciptakan. Di tahun 1975, David Gordon–kakak dari Cat Stevens- menghadiahkan Al Qur’an padanya, karena ia tahu betul bahwa sang adik sedang mencari kehidupan spiritual yang “pas” dengan keadaan jiwanya. Maka sejak saat itulah Stevens mulai berkenalan dengan Islam melalui Al Qur’an yang ia baca.

Kejadian traumatis di pantai Malibu tatkala Cat Stevens terbawa arus hingga makin menjauhi daratan dan hampir tenggelam, makin menyadarkan dirinya akan arti kepasrahan tulus padaNya. “Bila saya selamat ya Tuhan, maka saya akan menjalani hidup sebagaimana yang Engkau harapkan!” demikian berulang kali Cat Stevens memohon lirih di keadaan tubuhnya yang lemah. Tak lama kemudian datang ombak besar yang menghalau tubuh Cat Stevens makin mendekati arah pantai. Ia selamat!.

Di Mai 1978 secara resmi ia mengumumkan bahwa era Cat Stevens berakhir dan di tahun itu pula resmilah dirinya menjadi seorang muslim. Ia menggunakan nama Yusuf Islam, nama yang ia pilih karena kekagumannya akan kandungan yang terdapat di surat Yoseph dalam al Qur’an.

Melalui gadis muslimah pilihan orang tua, menikahlah Yusuf Islam. Ayah dari lima anak ini kini aktif dalam kegiatan kemanusiaan khususnya yang berhubungan dengan anak anak. Ia pun mendirikan sekolah islam di London yang bahkan disubsidi oleh pemerintah setempat.

Sebenarnya, di posting ini saya tak ingin menceritakan lebih banyak perjalanan hidup Yusuf Islam, karena saya yakin teman teman mungkin banyak lebih mengetahui dibanding saya. Terus terang saya lebih tertarik menceritakan pengaruh mengikuti perjalanan hidupnya di diri saya, tepatnya teguran pada ruhani saya pribadi.

Terbayang di benak saya saya akan kepasrahan total dirinya tatkala didera cobaan di ombak laut pantai Malibu, ah…betapa tulusnya, betapa pasrahnya. Pembicaraan hati dan mulut yang hanya diketahui oleh seorang Cat Stevens dengan Sang Pencipta, namun toh ia wujudkan dan laksanakan secara konsisten hingga saat ini, pun tatkala kekayaan, kemasyhuran tetap ada padanya. Bisakah saya berlaku demikian pula? Ah, tak sanggup rasanya menjawab.

Kekaguman saya pun bertumpuk melihat kekhusyu’an dirinya berkhalwat berduaan dengan Dia dalam mesjid sambil bercengkrama mesra dengan lembar lembar Al Qur’an yang ada di dua buah telapak tangannya. Keteduhan pun seakan menghiasi wajah dan perilakunya tatkala seorang Yusuf Islam menjalin kata, seakan terpancar keramahan islam ada di dalamnya. Semua nilai kebaikan berislam itu ada pada dirinya yang baru 28 th beragama. Duh..makin malu rasanya bila melihat diri ini yang telah dikaruniai nikmat beragama hingga di 31 tahun hidup yang telah saya lewati. Rasanya kebaikan yang tertinggal di diri masih tak terlalu banyak berbeda dari kemarin dan hari sebelum kemarin. Ah, merugi sekali diri ini. Sedih nian hati ini.

Kembalinya Yusuf Islam ke dunia seni yang ia yakini dapat menjadi duta yang baik untuk mengenalkan islam pada masyarakat dunia, juga duet terbarunya melalui “Father and Son” dengan Ronan Keating membuat saya kagum. Kagum akan keberaniannya mengambil sikap atas pendapat dan keyakinan yang ia miliki tanpa takut di cela dan dikritik oleh orang lain. Semoga sedikit banyak saya dapat mengambil pelajaran darinya.

Terimakasih Yusuf Islam akan pelajaran berharga dari berbagi kehidupan yang telah engkau jalani.

It’s not time to make a change,
Just sit down, take it easy.
You’re still young, that’s your fault,
There’s so much you have to go through.
…….

I was once like you are now, and I know that it’s not easy,
To be calm when you’ve found something going on.
But take your time, think a lot,
Why, think of everything you’ve got.
For you will still be here tomorrow, but your dreams may not. * (@DAI)

*”Father and Son” Song

**Fotos von Spiegel.de und ORF

April 26, 2005

Kevin Yang Tak Mau Bicara

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=350&Itemid=69

Buku Non Fiksi karya Torey L Hayden kali ini menceritakan tentang pengalaman Torey menghadapi Kevin, seorang remaja tanggung usia 16 tahun yang hampir setengah usianya menghabiskan waktu di lembaga perawatan mental dan panti panti asuhan.

Kevin hidup dalam dunianya sendiri dan memutuskan untuk memutuskan kontak dengan dunia luar dengan kebisuannya. Ia dijuluki dengan sebutan “Zoo Boy” karena tak pernah mengeluarkan sepatah katapun dan selalu mengurung dirinya di bawah meja yang dikelilingi oleh kaki kaki tempat duduk. Ia takut air, tak mau mandi dan tak mau berganti pakaian.

Datangnya Torey ke dunia Kevin membawa kejutan bagi semua orang: sedikit demi sedikit Kevin berbicara!. Bahkan lama kelamaan tingkah laku Kevin berubah tak seperti Kevin yang pertama kali Torey temui. Bersamaan dengan kooperatif-nya Kevin bersuara, maka terkuak pula sisi hitam masa kecil kehidupan Kevin. Monster yang selama ini terpenjara oleh kebisuan Kevin akhirnya muncul melalui perkataan, perbuatan dan tuangan karya lukis yang Kevin lakukan ketika menghabiskan waktu bersama Torey di ruang terapi. Melalui bakat menggambarnya yang luar biasa, Torey kerap dibuat bergidik dengan lukisan lukisan Kevin yang menggambarkan skenario kebrutalan yang teramat detail.

Kasus Kevin yang membawa Torey keluar masuk di kehidupan Kevin selama 2,5 tahun bahkan sempat membuat Torey frustasi mencari penjelasan dan jalan keluar masalah yang Kevin hadapi. Terlalu sedikit catatan tentang masa lalu Kevin. Tak ada penjelasan memuaskan mengapa Kevin begitu memiliki dendam membara, sekaligus memiliki ketakutan yang luar biasa. Dengan sedikit banyak bantuan koleganya–Jeff–, Torey akhirnya menemukan penjelasan kasus Kevin. Bahkan Toreypun berhasil mengumpulkan catatan yang terserak dari masa kecil Kevin. Darinya Torey mengetahui bahwa Kevin mengalami penganiayaan yang teramat parah di masa kecilnya. Penganiayaan yang dilakukan oleh ayah tirinya, yang bahkan sampai menyebabkan Carol–saudara wanita Kevin– meninggal dunia. Kevin membenci sungguh ayah tirinya. Kebencian sekaligus kecintaan Kevin pun menggunung pada ibu kandungnya, yang sama sekali tak berbuat apapun melihat penganiayaan yang suaminya lakukan. Dengan terkumpulnya informasi berharga tersebut, Torey mulai merancang jalan keluar agar Kevin tak lagi terkungkung oleh dendam kesumat dari masa lalu yang ia hadapi. Torey mencari jalan agar seorang Bryan yang selalu Kevin impikan dapat menjadi kenyataan.

Bagi saya pribadi, mengikuti pengabdian profesi Torey dalam menghadapi kasus Kevin amat membuat saya terpaku. Terlepas dari emosi Torey yang turun naik, Torey begitu sabar menemani Kevin memperbaiki hidupnya. Saya begitu terkesan ketika Torey mengajak pertama kali Kevin ke Restaurant setelah bertahun tahun Kevin tak pernah keluar dari dunia kecil yang ia ciptakan. Begitu sabarnya Torey menunggu restaurant tutup hanya untuk menunggu Kevin yang tak mau keluar dari bawah meja makan. Begitu tenangnya Torey menghadapi Kevin yang seringkali mengeluarkan kata kata pedas pada dirinya, walau sebenarnya dalam hati Torey sendiri bergejolak. Rangkaian kata Torey “In the wreck of this world, love still works”, “We can heal each other, if we listen teramat memukau. Tak heran bahkan Kevin pun teramat mempercayai Torey akan selalu siap membantu dirinya bila satu saat ia mengalami kesulitan “Weisst du, ich will von hier weggehen und immer glauben, dass du mir wieder helfen wuerdest. Ich will nicht wissen, ob du es tun wuerdest oder nicht. Ich will nur wissen, dass ich dich gefragt habe und dass du nicht nein gesagt hast.” (p. 320).

Mengikuti kisah Kevin sendiri membuat saya kembali diingatkan, bahwa kasih sayang, cinta dan didikan yang baik akan berpengaruh besar pada perkembangan emosi anak. Perilaku yang kita lakukan akan selalu teramati, dan kan disimpan baik di memori anak kita. Rekaman rekaman itu akan mengiringi perkembangan dirinya di sepanjang hidupnya, bukan tidak mungkin akan turut mempengaruhi tingkah laku dirinya di masa depan. Karenanya teramat bijak bila kita harus selalu memperhatikan tingkah laku kita baik dengan anak ataupun bersama anak.

Perpisahan Torey dengan Kevin bahkan membuat air mata saya menetes...“Er drehte sich um und lief den langen Flur hinunter, der an diesem Winternachmittag hell erleuchtet war. Und so begleitete ihm kein Schatten. Ich stand regungslos unter der Tuer und sah ihm nach. Als er am andern Ende des Flurs angekommen war, blieb er stehen, wandte sich um und winkte. “Wiedersehn, Torey” rief er. “Ich werde dich nicht vergessen” sagt er, bevor er verschwand. “Ich dich auch nicht Kev. Ich werde dich nicht vergessen”. Wiedersehn, Bryan. ” (p. 320). Satu penutup yang indah.

Bagi yang menyenangi liku liku terapi dan psikologi remaja, buku ini teramat menarik untuk dinikmati. (@DAI)

* Kevin kini berusia 30 th-an. Ia berhasil menjalani masa kedewasaan dengan sukses. Kevin telah berhasil lulus dari Highschool dan College. Ia bekerja di rumah sakit dan amat menyukai pekerjaannya. Kevin menikah dengan Sue dan kini memiliki 2 putra: Daniel dan Matthew. Kevin bertekad untuk tak menyia nyiakan hal yang terpenting dalam hidupnya: istri dan dua putranya. Ia ingin menjadi ayah yang terbaik bagi Daniel dan Matthew.

March 29, 2005

Jurnal Seorang Nadiye

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=284&Itemid=69

Akhirnya tepat hari ini saya berhasil menyelesaikan novel non fiksi karya Nadiye Coskuner “High Tide Low Tide: A Journal of Manic Depression” di sela sela aktivitas harian yang tak kunjung habisnya. Novel pertama yang ditulis oleh Nadiye, seorang wanita 25 th yang memiliki darah turki plus bali, membuat saya makin mengerti dan berempati pada penderita depresi.

Di usianya yang belia, Nadiye akhirnya dapat menemukan kembali harapan dan tujuan hidupnya setelah menjalani bertahun tahun hidup berdampingan dengan manic depression yang ia derita. Ia mengungkapkan catatan pribadi dirinya secara detail di tapak perjalanan hidupnya dalam usaha mencari jawaban atas perilaku manic depression yang ia derita dalam buku ini. Seorang Nadiye yang menderita penyakit mood disorder –di mana 1 dari 100 orang yang berusia di atas 18 th kemungkinan mengidap penyakit tersebut– menggambarkan dengan gamblang di lembar lembar jurnalnya tentang perilakunya dapat berubah setiap saat dan sulit diperkirakan.

Dalam novel ini, saya juga turut hanyut bersama Nadiye; tatkala ia terombang ambing di dengan lautan kebingungan yang ia miliki kala mencari jawaban atas ribuan pertanyaan perilaku yang muncul di dirinya; ketika muncul pertentangan persepsi dirinya terhadap realita yang ada; saat muncul pasang surut emosinya dalam mencari jawaban kunci perbaikan perilaku manic depression yang ia derita. Melalui Jurnal ini pula, saya dapat berempati merasakan penderitaan yang Nadiye derita akibat trial-error obat obat kimia dari kalangan professional yang harus masuk dalam tubuhnya serta perjuangannya mencari pertolongan ke tempat lain karena ketidakmampuan “sistem” yang ada memainkan peran optimal dalam upaya kesembuhan dirinya. Perjalanan panjang menuju “stabilitas diri” yang akhirnya ia temukan dan keinginan dirinya membagi pengalaman agar dapat memberikan secercah harapan pada sesama penderita, cukup menggetarkan hati saya.

Dengan kekuatan cinta dan komitmen keluarga, Nadiye akhirnya mampu menemukan solusi sederhana atas perilaku manic depression-nya melalui kombinasi pengobatan dengan menggunakan asam amino dan vitamin-mineral, menggantikan obat obatan keras yang malah memperparah kondisi fisik dan batin Nadiye. Betapa beruntungnya Nadiye memiliki dukungan moril dan materil yang tak terbatas…

Dari membaca buku ini, diri saya seakan makin diingatkan, bahwa menjaga kesehatan diri (baca: jasmani dan ruhani) dengan berperilaku sehat adalah hal yang teramat penting dan merupakan modal utama dalam menjalani kehidupan. Segala intake yang masuk ke tubuh kita apapun bentuk dan jenisnya, pasti akan mempengaruhi tubuh kita: ini adalah pesan lain yang terekam oleh saya. Pentingnya exercise, stretch dan relax yang kadang saya abaikan keberadaannya sepertinya harus saya koreksi, karena kedudukannya teramat penting untuk mendapatkan kondisi tubuh yang optimal.

Up to date terhadap segala macam informasi adalah mutlak dilakukan, demikian yang Nadiye yakini. Kesadaran untuk mencari informasi terhadap apapun serta melakukan perbandingan darinya akan selalu menguntungkan diri. Saya juga disadarkan dari membaca jurnalnya bahwa menerima keadaan apapun, termasuk kekurangan (baca: dalam bentuk penyakit dalam hal ini) yang kita miliki adalah bijaksana. Namun hal itu tak harus menutup keoptimisan diri untuk mencari upaya penyembuhan dan perbaikan.

Terakhir dan mungkin pesan yang paling berkesan dari membaca buku Nadiye ini adalah pentingnya berserah diri total pada Dia, pun setelah kita berusaha; selalu berprasangka baik padaNya, pun di tiap kondisi diri kita…
” …I believe that because I maintained my awareness of my Creator, I was actually sustained and cared for by God. The most important thing for me is to have faith and trust God. I also believe that every single thing in my life happens for good reasons. Putting all my trust in God, I came to understand that what I experienced was actually used by God, for a good purpose in my life. Because God loves me, He allowed me to experience weakness and limitations so that in the end, I came to know that it was He indeed, who sustained me all the way” (Coskuner: p. 210-213
Ah Betapa indahnya…(@DAI)

*Sejak buku ini dicetak, Nadiye banyak menerima dukungan moril dari sesama penderita, keluarga maupun teman temannya baik di indonesia dan mancanegara. Ia banyak bertemu langsung dengan orang-orang yang mengalami hal serupa dengannya. Banyak dari orang tersebut yang telah terdorong secara positif oleh cerita Nadiye serta mendapatkan kesembuhan setelah menjalani terapi nutrisi yang Nadiye terima dari seorang dokter di US.

February 7, 2005

Bila Sembelit Melanda

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=480&Itemid=32

Keluhan sembelit dapat melanda siapa saja, termasuk si kecil di rumah kita. Semakin cepat kita sebagai orang tua menangani dengan tepat keluhan sembelit pada si kecil, maka akan semakin cepat pula gangguan pencernaan pada anak kita dapat dipulihkan.

Umumnya tidak banyak ditemukan keluhan sembelit pada bayi, terutama pada bayi yang masih mengkonsumsi ASI. Masalah ini biasanya dihadapi oleh anak yang telah memiliki kontrol terhadap otot dubur, yaitu ketika anak berusia 1,5-3 tahun. Kejadian sembelit pada anak di usia tersebut banyak ditemukan. Dari segi medis, seorang anak dikatakan memiliki masalah sembelit atau obstipasi bila ia tidak dapat menunaikan “hajat besar” nya minimal selama 4 hari berturut turut (definisi ini tidak berlaku pada bayi yang masih disusui). Selain itu gejala yang paling mengganggu selain sedikitnya frekuensi buang air besar yang ada, si kecil juga mengalami kesulitan dalam proses mengeluarkan fesesnya, kadang ditandai rasa sakit yang luar biasa.

Takut BAB

Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya ketakutan pada anak ketika ingin menunaikan hajat besarnya antara lain disebabkan oleh pengalaman buruk BAB yang telah lalu, dimana si anak merasakan rasa sakit yang luar biasa ketika ia berusaha untuk buang air besar. Luka di pantat si anak ataupun infeksi bakteri pada otot penutup di duburnya juga dapat menyebabkan sakit pada proses BAB . Tak mengherankan dengan adanya beberapa pemacu di atas menyebabkan semakin tertimbunnya feses di usus. Timbunan feses tesebut akhirnya semakin lama semakin mengeras dan memadat komposisinya, dan hal tersebut makin menyebabkan si anak mengalami kesakitan yang amat di BAB pada saat berikutnya. Kadang si anak sudah berusaha mengeluarkan fesesnya di sela rasa sakit yang timbul, namun proses tersebut terhenti di tengah jalan akibat masuknya kembali feses yang telah berusaha ia keluarkan. Adapula faktor penyebab lain terjadinya sembelit yaitu faktor organik yang biasanya muncul dalam jumlah yang teramat kecil. Pada kondisi ini si anak memiliki kelainan sel syaraf yang terdapat di permukaan usus yang mengatur proses terjadinya BAB. Gejala yang dapat diamati ada tidaknya kelainan organik tsb antara lain bila timbulnya gejala sembelit telah ada walau si kecil masih bayi. Bila sering ditemukan keluhan sembelit di usia dini tersebut, padahal pola makanan yang sehat telah diterapkan, maka hendaknya orang tua segera berkonsultasi dengan dokter, agar terdapat terapi yang tepat. Sembelit juga dapat timbul akibat pola makan yang salah. Sedikitnya cairan yang diminum, miskinnya bahan makanan berserat yang dikonsumsi dan sedikitnya bergerak aktif adalah beberapa penyebab yang dapat di catat. Jarang sekali sembelit ini timbul akibat allergi atau tidak cocoknya terhadap konsumsi jenis produk susu tertentu.

Penanganan Yang Tepat

Pertanyaan yang penting untuk dijawab dalam kondisi sembelit ini adalah: bagaimana cara memutuskan lingkaran setan antara sakit ketika BAB dan masuknya kembali feses yang telah diusahakan untuk keluar?. Satu hal yang tabu untuk dilakukan oleh para orang tua di kondisi ini adalah berusaha “memanipulasi” keluarnya feses si anak dengan penggunaan satu benda tertentu misalnya termometer atau benda sejenis lainnya. Pemaksaan pada si anak agar ia tetap di kamar mandi atau melepaskan popoknya hingga ia melakukan BAB juga bukan merupakan tindakan yang tepat karena malah membawa dampak negatif bagi anak. Anak merasa disalahkan dan tertekan atas kondisi yang terjadi. Timbulnya kondisi psikologis ini bahkan makin memperburuk lingkaran setan yang telah ada. Anak akan kembali dapat BAB tanpa merasakan kesakitan yang luar biasa bila ia menjalaninya dalam keadaan tenang. Bersaman dengan itu orang tua hendaknya merubah pola makan yang si kecil ; banyak cairan dan bahan makanan berserat harus ada di menu sehari hari yang ia konsumsi. Bila hal di atas tidak dapat mengatasi keluhan sembelit yang si kecil alami, maka orang tua harus segera berkonsultasi dengan dokter. Dokter biasanya akan memberikan obat yang berfungsi untuk menarik cairan yang ada di sekitar pencernaan dan membuat feses yang ada lebih lunak sehingga relatif lebih mudah dikeluarkan dari dubur. Namun para orang tua hendaknya tidak mengharapkan hasil yang “ekspres” dari terapi yang ada, karena hilangnya gejala sembelit memerlukan waktu yang cukup lama bahkan dapat berbulan lamanya. Di sinilah kesabaran anda juga merupakan salah satu faktor utama keberhasilan “mengusir” sembelit yang ada sehingga si kecil dapat menjalani BAB yang normal dan sewajarnya.

Beberapa Hal Yang Penting Diperhatikan

1. Perbanyak minum: Berikan si kecil cairan yang cukup, yang paling baik adalah minuman non kalori seperti air putih (ataupun air mineral), teh buah-buahan ataupun jus buah yang telah dicampur dengan air putih (sehingga kekentalan dan manis dari gula buahnya sedikit terkurangi).

2. Perbanyak konsumsi buah segar: Berikan anak anda sebanyak mungkin buah buahan segar untuk dikonsumsi, terbaik bila buah tsb dimakan dengan kulitnya. Carilah buah yang memiliki kandungan fruktosa dan sorbit yang cukup banyak, misalnya apel, melon dan aprikosa. Fruktosa dan sorbit berfungsi untuk menarik kandungan air di daerah sekitar pencernaan sehingga dapat memperlunak feses yang ada.

3. Perbanyak konsumsi sayur mayur: Berikan si kecil lebih banyak sayur mayur baik yang dapat dimakan mentah ataupun yang di masak terlebih dahulu. Wortel, Paprika dan sayur mayur lainnya memiliki kandungan serat yang berfungsi mengisi saluran usus dan mengatur elastisitas dinding usus. Dengan demikian signal yang tepat dapat timbul pada otot usus, dan feses dapat diarahkan dengan baik ke arah dubur.

4. Perbanyak konsumsi makanan dari sumber biji-bijian: Musli ataupun makanan lain yang bersumber dari biji bijian merupakan alternatif yang tak kalah penting karena di sana terkandung kadar serat yang tinggi dan kaya akan kandungan vitamin dan mineral.

5. Batasi konsumsi susu dan produk turunannya: Susu dan produk turunanannya seperti keju dan yogurt memang baik untuk pertumbuhan tulang dan gigi, namun tidak begitu menguntungkan pada saat si kecil mengalami sembelit. Mengapa? karena tak lain produk tersebut tidak memiliki kandungan serat namun hanya memiliki banyak kandungan kalori. Selain itu hendaknya susu sebaiknya diberikan tidak terlalu kental, ikuti petunjuk di kaleng dengan seksama. Beberapa jenis susu yang mengandung faktor bifidus bisa dicoba dan mungkin bisa membantu meringankan keluhan yang ada.

6. Stop konsumsi coklat: Coklat adalah benda tabu yang dikonsumsi selama si kecil mengalami sembelit. Demikian halnya sumber manis lainnya seperti permen dan kembang gula lainnya. Produk tersebut sama sekali tidak mengandung serat bahkan malah menimbulkan masalah pencernaan yang lebih berat. (@DAI)

January 31, 2005

Dimana Sopan Santunmu Nak?

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=303&Itemid=28

(bunyi bel apartemen)
+ Hallo,
- Ja hallo.
+ Haben Sie Pizza bestellt? (anda mesan pizza?)
- Nein, leider habe ich nicht bestellt (sayangnya tidak. saya tidak mesan pizza)
+ Sie haben bestellt und zwar mit Salami und Pepperoni (anda mesan kok, ini pakai salami dan pepperoni)
- Nein. Ich habe gar nicht bestellt (maaf ndak, saya sama sekali ngga pernah mesan pizza)
+ aaaaaaa (teriak keras sekali dan bersumpah serapah yang tak mengenakkan telinga)

Mulanya saya ingin marah karena adanya keisengan semacam itu. Namun saat saya mengintip dari balik jendela untuk mengetahui siapa gerangan yang memainkan bel apartemen di rumah kami beberapa menit yang lalu, kemarahan saya langsung luntur. Malah muncul rasa prihatin pada segerombolan anak usia 3-4 sd yang berkumpul dan sedang tertawa tawa di halaman depan gedung apartemen kami. Rasa kasihan muncul di diri, mengapa anak anak yang tak bisa lagi dikatakan kecil tak memiliki sopan santun di lingkungan masyarakat seperti ini. Siapakah yang salah menjadikan mereka individu tak kenal berbudi pekerti: sekolah, lingkungan ataukah keluarga mereka?.

Setelah memakai mantel, saya menuju ke lantai dasar. Selain memang harus menjemput putra dari TK, sayapun sudah berniat akan sedikit “menceramahi” mereka. Sambil saling melempar kesalahan karena ketakutan, mereka berusaha mengelak dari keisengan yang tertangkap basah oleh saya. Sepuluh menit saya berdialog dengan mereka dengan sedikit menyampaikan ajaran moral yang mungkin sudah bukan jadi bagian yang penting di keseharian anak anak tersebut. Sudah tertebak bagaimana akhir kejadiannya, mereka meminta maaf pada saya. Saya pun mengucapkan selamat tinggal sambil berpesan “jangan lakukan sekali lagi!”.

Hilangnya sopan santun di kalangan generasi muda di negeri ini, secara umum juga telah di rasakan oleh masyarakat. Terbukti dari hasil survey tentang tema sopan santun yang dilakukan oleh Allensbach, 87 % responden memandang masalah sopan santun dalam pendidikan anak harus kembali menjadi prioritas di dunia pendidikan. Mereka merasakan bahwa nilai sopan santun telah semakin hilang dan pudar seiring munculnya generasi yang lebih muda. Survey survey sejenis pun banyak menghasilkan temuan yang tak jauh berbeda. Jangankan hasil survey, secara kasat mata pun kecenderungan ini dapat mudah teramati.

Trend hilangnya Benehmen ini akan semakin terlihat jelas di institusi pendidikan dasar. Seorang anak yang mengumpat gurunya karena nilai yang ia peroleh tak memuaskan bukanlah satu pemandangan aneh di sini. Bahkan bukan hanya sampai batas mengumpat, aksi teror fisik juga sering ditemui. Untuk hal yang kecil pun semisal pengucapan “maaf” dan “terimakasih” bukan lagi jadi hal yang umum didengar. Tak heranlah bila di beberapa sekolah di negara ini telah memasukkan mata ajaran sopan santun sebagai mata ajaran yang wajib diikuti oleh para siswanya. Namun, apakah upaya tersebut sudah terbilang cukup untuk memperbaiki moral generasi muda yang sudah makin menyedihkan ini?.

Mengajarkan sopan santun pada anak memang bukanlah tugas dan pekerjaan yang mudah. Terlebih bila kita hidup di lingkungan yang kurang kondusif bagi anak untuk belajar bagaimana berbudi pekerti yang mulia. Metode pendidikan lama yang menggunakan ancaman dan tekanan “Kalau kamu tidak merapihkan…maka kamu tidak akan….” banyak terbukti kurang efektif menanamkan kesadaran bagi anak untuk berperilaku yang diharapkan. Ketaatan mereka biasanya hanya berbatas waktu dan jarak. Bila tak ada lagi sang orang tua, maka mereka lepas dari perjanjian yang ada.


Belajar dari rumah. Ya, dari banyak literatur yang kebetulan saya baca tentang masalah ini, akhirnya semua menyimpulkan bahwa metode mempelajari sopan santun terefektif adalah melalui fungsi tauladan orang tua di rumah. Bila orang tua dapat menjadi contoh yang baik bagi anak dalam hal sopan santun, maka anak akan mampu pula belajar berperilaku yang baik. Karenanya tak usah kita berharap sang anak akan mudah mengucapkan “maaf” dan “terimakasih” bila kita sebagai orang tua juga jarang mengenalkannya pada anak di keseharian interaksi kita dengan mereka. Demikian pula halnya dengan kata kata sumpah serapah. Jangan berharap sang anak mengeluarkan kata kata sopan dari mulut kecilnya bila kita sebagai orang tua malah mencontohkan kata kata cacian yang tak terkendali keluar dari mulut kita.

Hasil temuan penelitian ilmuwan pada otak manusia, khususnya pada usia menyusui: sopan santun dipelajari melalui imitasi atau peniruan, mungkin dapat menjadi pertimbangan bagi kita sebagai orang tua untuk makin berhati hati dalam berperilaku . Anak umumnya senang sekali menirukan sosok yang ia kagumi. Pada anak kecil tentu sosok yang dimaksud tak lain orang tua mereka. Dalam satu tahun pertama kehidupan, anak biasanya akan mengkopi mimik dan sikap yang orang tuanya contohkan. Dari penelitian tersebut juga disimpulkan bahwa dasar hubungan sosial yang ada banyak direkam pada satu tahun pertama kehidupan mereka.

Lepas dari hasil penelitian di atas atau tidak, saya pribadi yakin bahwa pendidikan anak memang dimulai dari rumah, mau atau tidak. Seorang anak memang belajar dari modelling. Ia akan banyak mengamati bagaimana sang orang tua bersikap, dan biasanya akan ia serap perilaku serupa. Mendidik seorang anak memang membutuhkan waktu dan perhatian khusus. Sehingga memang benar bila mendidik anak tak dapat menjadi pekerjaan sambilan belaka. Mendampingi anak belajar kehidupan pun bukan seperti mengikuti air mengalir tanpa ada upaya yang direncanakan dan dipertimbangkan. Karenanya memang tak heran, bila saya harus belajar dan terus belajar untuk menambah ilmu mendidik anak yang masih minim sekali saya miliki. Sayapun harus makin banyak memperbaiki diri dan emosi, sehingga nantinya dapat menjadi tauladan yang baik bagi anak anak kami. Namun, memang sulit nian untuk menutup lubang kekurangan dengan tambalan kebaikan.

+ Di mana sopan santunmu nak?
- Contohkan kami bersopan santun ayah dan ummi..
+ (ohhh sulitnya nak menjadi orang tua, tapi akan ayah dan ummicoba..) (@DAI)