February 27, 2006

Tindakan Antisipasi Kebakaran

Filed under: Summary: Haushold

Biasanya kejadian kebakaran timbul dari tindakan kelalaian yang ada. Beberapa hal di bawah ini adalah hasil dari diskusi tentang antisipasi timbulnya kejadian kebakaran yang berlangsung di milist wrm-indonesia.

- Dalam proses menggoreng apapun, sedapat mungkin tunggui wadah penggorengan tersebut untuk memastikan panas yang terjadi tidak membahayakan.

- Bila menggunakan oven atau memasak sesuatu yang membutuhkan waktu cukup lama, usahakan sering melihat keadaan masakan tersebut dalam interval waktu yang tidak terlalu lama.

- Jauhkan barang barang yang mudah terbakar dari kompor dan oven.

- Ajarkan anak dari kecil tentang bahaya dan manfaat api sesuai dengan kemampuan pencernaan informasi yang si kecil miliki.

- Pada anak yang lebih besar, jelaskan benar benar tentang bahaya api. Bila sang anak ingin sesekali menyalakan lilin atau apapun, minta pada dirinya agar melakukan kegiatan tersebut hanya dengan di bawah pengawasan orang tua.

- Sebelum meninggalkan rumah, periksa selalu kompor dan yakinkan diri sudah dalam keadaan padam. Demikian halnya pula pada stop kontak yang ada. Akan lebih baik bila seluruh kabel yang berhubungan langsung dengan stop kontak dicabut terlebih dahulu sebelum kaki beranjak keluar rumah.

- Bila terpaksa harus mengontrak, cari sedapat mungkin rumah kontrakan yang juga menyediakan tabung pemadam kebakaran.

- Hindari penggunaan pengharum ruangan yang menggunakan pembakar lilin, terlebih bila mommies punya sifat “pelupa”.

- Buat desain dapur sedemikian rupa sehingga aliran udara yang masuk dan keluar dapat mengalir dengan baik. Bila kejadian kebocoran gas terjadi, maka akan lebih mudah mengatasinya dengan desain ruangan yang tepat.

- Dalam beberapa bulan sekali, cek kabel kabel listrik di rumah, termasuk yang tidak terlihat oleh mata. Hal tersebut penting dilakukan untuk tindakan antisipasi terjadinya korsleting atau sejenisnya. Terutama sekali, kabel kabel yang dimakan oleh tikus harus sesegera mungkin diganti!.

- Bila kejadian kebakaran kecil terjadi akibat korsleting listrik, matikan cepat pengaman listrik utama kemudian segera padamkan api dengan cara yang aman. (DaI/WRM)

February 21, 2006

Masalah di Masa Pemberian ASI: Diet dan BB Yang Meningkat!

Filed under: Summary: Health

Berat badan yang “tak balik modal” setelah melahirkan ataupun BB yang makin meningkat setelah melahirkan biasanya merupakan beberapa masalah yang dimiliki wanita setelah si kecil lahir ke dunia. Diet, baik melalui pengkonsumsian jenis pil pil tertentu, produk herbal atau bahkan radikal membatasi asupan makanan sehari hari kadang pun menjadi pilihan agar “si langsing” kembali dimiliki. Namun, tepatkah langkah diet yang dilakukan? Berpengaruhkah produk diet bagi kualitas dan kuantitas ASI ibu?. Rangkuman kali ini membahas tentang permasalahan tersebut. Silakan simak tema tersebut di bawah ini.

Bolehkah ibu melakukan diet untuk menurunkan berat badan pada masa menyusui?

Tindakan diet radikal saat masa menyusui sama sekali tidak dianjurkan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Strode et al (1986), di kondisi ekstrim asupan kalori yang kurang dari 1500-1700 kcal per hari maka volume ASI yang diproduksi dapat berkurang sebesar 15% dari produksi normal. Tak heran, anjuran “reduktionsdiaet” sama sekali tidak dianjurkan pada masa ibu memberikan ASI pada buah hatinya.

Bagi ibu yang overweight, adakah komposisi zat tertentu yang berbeda dibandingkan ibu yang memiliki BB normal?

Sayangnya sampai sekarang hampir dapat dikatakan belum banyak dilakukan studi yang meneliti khusus tentang perubahan komposisi ASI pada busui yang memiliki masalah overweight. Hanya terdapat sedikit informasi yang menyatakan bahwa ASI dari busui yang kelebihan BB memiliki kadar lemak yang tinggi (Prentice 1994).

Dalam kondisi busui yang overweight, dapatkah tindakan diet dilakukan?

Tindakah diet tetap tidak dapat ditolerir!. Simpulan dari studi Mackey et al (1998) menganjurkan bahwa busui jangan sampai melakukan diet (apalagi yang bertujuan untuk mereduksi BB) “tanpa” melalui konsultasi profesional dengan ahlinya. Hal tersebut membahayakan karena akan memperbesar bahaya terjadinya under supply beberapa mikronutrisi yang ada di ASI.

Bagi ibu yang memiliki masalah malnutrisi, berubah pulakah komposisi zat zat yang terdapat di ASI?

Di beberapa publikasi ilmiah memang disinggung adanya keterkaitan antara kondisi busui yang malnourished dengan asupan kalorinya yang juga amat buruk dengan kuantitas dan kualitas ASI. Selain volume ASI yang berkurang, ada juga perubahan konsentrasi zat imun tubuh, beberapa vitamin yang larut dalam air/lemak dan mineral
(selenium, iodium).

Bisa diberikan contoh realnya?

Sebagai contoh, busui yang melakukan tabu konsumsi susu dan produk daging dagingan dalam waktu yang cukup lama biasanya memiliki konsentrasi kandungan vitamin B12 yang rendah dalam ASInya. Demikian juga bila asupan sayur-sayuran dan buah-buahan yang tidak cukup akan berpengaruh terhadap konsentrasi vitamin C nya (Bates et al 1982).

Katanya kan menyusui dapat menurunkan BB, tapi kok banyak juga yang merasakan “resep” itu tidak berlaku ya?

Bila boleh sedikit menyinggung hubungan pemberian ASI dan BB, dari penelitian penelitian yang mengkaji tentang fisiologi penurunan BB busui semisal dari Butte dan Hopkinson (1998) yang dimuat dalam J Nutr 128, memang disimpulkan bahwa busui dapat turun BB nya di 4-6 bulan pertama masa menyusui sekitar 0,6-0.8 kg BB per bulannya: kemudian pemberian ASI setelah masa masa tersebut juga memberikan hasil penurunan BB tapi minimal.

Namun keberhasilan penurunan BB ini ternyata banyak faktor yang mempengaruhinya, tak hanya sekedar memberikan ASI. Di sana terdapat pengaruh manajemen laktasi yang tepat, modus menyusui yang benar, pengaturan asupan kalori perhari sesuai dengan anjuran bagi busui, aktivitas tubuh yang memadai, penambahan BB saat hamil yang ideal (sesuai dengan BMI yang dimiliki) dan banyak faktor lainnya.

Jadi, kenapa kok banyak sekali busui yang tidak bisa mencapai BB sebelum hamil?

Kalau boleh sedikit cerita, memang banyak wanita (khususnya di negara industri) tidak dapat meraih BB sebelum hamilnya akibat terlalu besarnya asupan kalori harian saat masa menyusui, ditambah dengan aktivitas tubuh yang rendah (Winvkist dan Rasmussen 1999).

Tapi walaupun tidak dapat meraih BB sebelum hamil,bila dibandingkan dengan para ibu yang tidak memberikan ASI (dengan kondisi asupan kalori tinggi, aktivitas tubuh rendah), mereka tetap menunjukkan penurunan BB dibandingkan kelompok kedua tadi
(Kramer et al 1993).

Simpulannya apa ya agar BB busui dapat kembali ke BB sebelum melahirkan?

Seperti yang telah disampaikan di atas, agar busui

Sejauh Apa Kewajiban Orang Tua Pada Anak?

Filed under: Summary: Haushold

Sampai sejauh mana kewajiban orang tua terhadap anaknya?. Demikian tema diskusi yang beberapa saat lalu muncul di milist wrm-indonesia. Berawal dari keprihatinan seorang mom yang sedang merantau saat mengamati beberapa temannya yang harus “banting tulang” bekerja 12 jam sehari demi memenuhi kebutuhan tiga anak anaknya: mobil untuk transportasi, uang perkuliahan yang 15 ribu dollar per tahun per anak dll. Kondisi yang agak serupa juga ditemui di teman sang mom yang bersedia bekerja mati matian demi memenuhi anggaran asuransi pendidikan agar anak anaknya nanti dapat hanya berkonsentrasi belajar di sekolah tanpa harus terbebani pikiran biaya pendidikan. Bagaimana pendapat mommies di WRM Indonesia tentang hal tersebut? Sampai sejauh mana orang tua bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup anaknya?

” Menurut saya sih sampai si anak bisa mandiri” tulis mom ini yang mengirimkan komentar pertama di tema tersebut. Buat menuju kemandirian sang anak, orang tua juga harus membantu misalkan dengan memberikan pekerjaan sampingan yang tidak sampai menyita waktu sekolahnya. Dapat juga dengan mengajarkan bahwa bila sang anak menginginkan sesuatu, maka ia harus berusaha. Hal tersebut tak lain dilakukan agar si anak tidak memiliki prinsip “aji mumpung” dan terbelenggu dengan sikap manja. Pola pikir ” ah masih ada orang tua yang pasti mau membayarkan kok, buat apa pusing mencari duit” dapat saja muncul akibat kebiasaan manja dan selalu tergantung pada orang tua.

Mom yang memberikan tanggapan kedua juga setuju dengan apa yang telah disampaikan mom di atas. “Kalau saya lebih menyukai tindakan berikut: selain orang tua mempersiapkan biaya pendidikan, anak juga harus diajarkan mandiri dalam memenuhi sebagian keperluannya” pendapat beliau. Kemandirian dalam memenuhi sebagian keperluannya dapat diperoleh melalui prestasi diri yang seoptimal mungkin sehingga si anak dapat mendapatkan beasiswa ataupun dalam bentuk lainnya. Anak juga harus dikenalkan dengan makna pengorbanan dan pembuatan prioritas keinginan. Anak juga harus menyadari bahwa tidak semua keinginan dapat tercapai dengan mudah, demikian tulis mom ini menutup postingannya.

Mom ketiga yang turut meramaikan diskusi tema ini juga setuju, bahwa sebagai orang tua memang sudah merupakan suatu kewajiban untuk semaksimal mungkin mempersiapkan biaya pendidikan untuk masa depan anak. Hal itu tak lain dilakukan agar sang anak anak dapat berkonsentrasi di sekolah dan memiliki banyak waktu untuk mengembangkan diri dan bersosialisasi. Sebagai konsekuensi dari kemudahan yang telah diterima oleh dirinya maka ia harus berprestasi, baik di sekolah atau di bidang lain
seperti olah raga, kesenian, dll. Mungkin tidak perlu harus berada di tempat paling atas tetapi tidak sampai berada
di tempat yang terbawah.

Kalau si anak berkeinginan membeli sepatu baru padahal sepatu yang lama belum rusak maka ia harus menunjukkan kepada orangtua bahwa ia memang pantas mendapatkan “reward” tersebut seperti dari nilai nilai baik yang diperolehnya. Disamping itu, anak harus dibimbing untuk memiliki rasa tanggung jawab, mandiri (bukan dalam hal finansial), mampu melihat hal hal yang prioritas serta rasa inisiatif. Paling tidak kemudahan yang ia dapat sekarang ini merupakan faktor pemicu semangat bagi si anak tersebut. “Tetapi saya tidak menutup kemungkinan jika si anak ingin bekerja paruh waktu pada saat dia kuliah nanti
sepanjang hal tersebut tidak mengganggu pelajarannya” demikian pendapat mom ketiga tersebut di akhir sharingnya.

Mom keempat menilai bahwa kewajiban atau tugas kita sebagai orang tua adalah mendidik anak agar dapat menjadi anak yang mandiri,anak yang selalu berusaha/belajar serta menjadi anak yang beriman (tak lain agar usahanya terarah dan prinsip menghalalkan segala cara dapat ditepis). Sebaiknya orang tua yang memiliki kemampuan finansial berlebih juga tidak memanjakan anak anaknya, karena warisan yang tak akan abis dari orang tua adalah didikan/ajaran yang baik, tentu selain pendidikan
formal.

Buat mom tersebut, persoalan asuransi, tabungan buat pendidikan anak adalah hal yang perlu, namun dengan syarat orang tua memang mampu untuk menyisihkan dana untuk hal tersebut “kalau untuk kehidupan sehari hari saja masih pas pasan, bagaimana dong..bila dipaksakan yang ada nantinya malah muncul mencari usaha kilat asal untung aja!”. Memikirkan masa depan anak itu penting, tetapi jalani saja hidup sesuai dengan keadaan, jangan dipaksakan. Hal yang terpenting adalah mencari harta yang halal dan jalannya baik hingga anak keturunan kita dapat selamat di dunia-akhirat. Pendidikan agama buat mom ini merupakan prioritas nomir satu, baru menyusul pendidikan formal.

Jangan sampai rasa bersalah timbul bila orang tua tidak mampu membiayai anak anaknya hingga selesai pendidikan formalnya.
Tidak perlu merasa bersalah kalau orang tua tidak mampu membiayai pendidikan anak sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Rezeki sudah ada yang mengatur, tinggal diri kita yang berusaha dan berdoa. ” Orang tua yang baik tidak akan berharap mendapatkan balas jasa. Yang diharapkan tak lain agar anaknya dapat menjadi anak yang sholih/sholihah dan bertanggung jawab untuk kehidupannya sendiri. Tercapainya hal itu tentu telah membuat orang tua bahagia!” tutup mom keempat ini dalam akhir tulisannya.

Apa kewajiban yang harus dipenuhi orang tua pada anaknya menurut versi mom kelima ini? Pemberian perasaan dicintai, disayangi, dibutuhkan serta pemenuhan kebutuhan perasaan aman dan nyaman di rumah ! demikian pendapat beliau. Berkaitan dengan pendidikan,kewajiban orang tualah yang harus memberikan pendidikan agama dan pendidikan formal “semampu kita” dan seoptimal mungkin. Definisi “semampu kita” adalah mulai menabung sejak si kecil lahir. Bahkan bila dirasa perlu dan orang tua memiliki uang lebih, maka buat asuransi pendidikan buat anak. Bila tak ada uang lebih, usahakan tindakan “pemaksaan” dengan nilai persentase tertentu dari pendapatan per bulan kita yang dialokasikan untuk menabung dan “terlarang” untuk “di otak atik”. Beliau mengingatkan bahwa pendidikan akan semakin mahal dari tahun ke tahun. Bila tidak disiapkan sedini mungkin, mungkinkah dapat terbayar saat si kecil mengenyam pendidikan, terlebih pendidikan tinggi?.

Bagi mom kelima ini, mendidik kemandirian anak harus dilakukan secara perlahan dan berproses. Mendidik kemandirian anak adalah sebuah proses yang berkembang sejalan dengan usia anak dan bukan sebuah hal yang mutlak harus dapat dilakukan dalam
tempo satu bulan. Anak harus bisa mengerti bahwa hidup ini tidak mudah (meskipun misalnya orang tuanya cukup kaya secara materi). Bahwa untuk mendapatkan apa yang dia inginkan,dia butuh perjuangan dan pengorbanan. Bahwa tidak semua yang dia
inginkan bisa dia dapatkan meskipun dia sudah berjuang untuk itu. Hal tersebut akan menjadi dasar buat sang anak dalam menjalani kehidupan di dunia.

Mom keenam berprinsip bahwa memikirkan pendidikan anak adalah hal yang penting sekali. Beliau dan suaminya sudah sepakat
untuk memikirkan biaya pendidikan anak sampai dengan lulus S-1. Setelah itu terserah sang anak. ” Berhubung saya dan suami dahulu kuliah sambil bekerja dan kami berdua membiayai kuliah kami sendiri sampai selesai, maka hal itu pula yang akan kami terapkan ke anak-anak” tulis beliau. Anak harus dilatih mandiri!. Disamping itu anak juga harus dilatih untuk memahami bahwa hidup adalah perjuangan.

Beliau menceritakan bahwa dengan latar belakang keluarga beliau dan suami yang berasal dari keluarga sederhana, maka untuk mencapai hidup yang sekarang mereka miliki, mereka harus meniti jalan satu persatu penuh dengan keringat dan doa. Hal itulah yang juga akan mereka terapkan pada anak anaknya. Walau nantinya beliau dianugerahi rezeki yang berlebih, beliau dan suami tidak akan memanjakan anak dengan materi yang “plus” tersebut. Hidup itu seadanya. Kalau ada yang lebih maka berikanlah ke yang membutuhkan. Mom tersebut juga menceritakan diskusi dengan suaminya saat melihat anak-anak SMA yang pergi sekolah dengan mobil pribadi. Ia bertanya pada suaminya bagaimana dengan anak-anak mereka kelak?. ” Anak anak kita kalau sudah SMP sekolah naik bis atau angkot, take it or leave it!. Tidak ada antar-jemput apalagi sampai minta dibelikan motor atau mobil. ” demikian jawab sang suami.

” Kalau saya pribadi setuju dengan mommies yang lainnya. Tapi kalau di kultur saya, kewajiban orang tua itu hingga si anak sudah menikah” pendapat mom ketujuh ini. Menurut beliau, saat si anak menikah maka saat itu pula orang tua tidak berkewajiban terhadap si anak. Orang tua hanya berperan sebagai penasehat/advisor bila di perlukan.

Sharing mom kedelapan? Dari pengalaman pribadinya, orang tua beliau “mengurus” dirinya hingga ia menikah. Orang tua membiayai kuliah, ‘meminjamkan’ mobil, bahkan sebelum beliau dapat menyupir sendiri, ayahnya yang mengantar jemput ke sekolah. Bahkan
beliaupun kadang merasakan protektifitas orang tua terhadap dirinya, pun setelah ia menikah.

Menurut beliau, kewajiban orang tua yang pertama adalah memberi landasan Iman/Agama ” Insya Allaah dengan ilmu agama yang baik, rezeki mereka akan halal & thayib serta dapat selamat di dunia akhirat”. Mengenai sekolah yang resmi, bagi beliau itu adalah prioritas nomor dua. Kewajiban orang tua dalam masalah finansial bagi beliau adalah sampai si anak tersebut menikah, terutama anak perempuan. Bagi anak laki-laki, akan lebih baik bila terlebih dahulu diajar untuk mandiri, karena dia akan menjadi pencari nafkah utama dalam keluarganya saat dia menikah.

Namun hal diatas jangan diartikan bahwa anak diberikan semua yang ia inginkan “seperti yang salah satu mom katakan, bahwa anak juga harus diajarkan bertanggung jawab dan juga berprioritas”. Anak pun baiknya diajarkan berusaha untuk mendapatkan
apa yang dia inginkan. Beliau menceri

” Tapi mungkin ada baiknya kalau anak diajar untuk kerja sampingan saat dia masih sekolah ya ? Saya tidak pernah melakukannya. Bahkan begitu lulus kuliah saya langsung dilamar. Enam bulan kemudian menikah, 10
bulan kemudian punya anak. Karenanya, saya belum pernah merasakan dunia kerja :-( ” tulis beliau di akhir sharing pendapat dan pengalamannya. (DaI/WRM)

February 7, 2006

Fisiologi Menyusui dan Faktor Sukses Pemberian ASI

Filed under: Summary: Children

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=712&Itemid=157

Kuantitas produksi ASI banyak ditentukan oleh isapan bayi pada puting areola serta rasa percaya diri ibu bahwa ia dapat sukses menyusui dan memproduksi ASI yang cukup buat bayinya. Mekanisme ini melibatkan permainan di otak untuk mengatur mekanisme pengaturannya. Bagaimana sebenarnya mekanisme produksi ASI? Proses fisiologi apa yang terjadi?. Diskusi tentang tema produksi ASI di milist wrm-indonesia akhirnya menyinggung permasalahan fisiologi menyusui. Silakan simak ringkasannya di bawah ini.

Apa sih peran penghisapan puting serta areola terhadap produksi ASI?

Saat bayi menghisap puting areola maka syaraf afarent akan merangsang hipofise anterior untuk memproduksi prolaktin yang nantinya akan merangsang sekresi ASI (Bintaryati, 1992). Jumlah prolaktin yang akan diproduksi tersebut akan banyak bergantung dari frekuensi dan intensitas isapan bayi (pro lactin reflex).

Pembendungan ASI yang terjadi dalam alveolus akan menyebabkan adanya penekanan pada pembuluh darah. Hal itu akan menyebabkan penurunan pro laktin dalam darah sehingga sekresi ASI juga akan berkurang.

Pengeluaran ASI juga terjadi karena adanya rangsangan mekanis ujung syaraf pada puting dan areola oleh isapan bayi. Rangsangan itu nantinya akan diteruskan ke bagian hipotalamus dan menyebabkan hipofisa posterior mensekresikan oksitosin ke dalam peredaran darah. Oksitosin itu akan merangsang sel mioepitel sehingga menyebabkan ASI diperas melalui salurannya ke muara di puting susu untuk diisap bayi (let down reflex).

Katanya keyakinan ibu bahwa produksi ASI nya mencukupi kebutuhan bayi akan berpengaruh besar terhadap produksi ASI. Kok bisa sih?

Benar, keyakinan atau “pede” ibu bahwa ia dapat sukses menyusui si kecilnya berperan tidak kalah pentingnya terhadap produksi ASI. Keyakinan ibu yang ada di otak
juga akan mempengaruhi kerjanya hipofisa anterior (–> pro lactin reflex) dan hipofesa posterior (–> let down reflex) seperti yang telah disinggung di atas.

Karenanya tak mengherankan, salah satu kunci sukses menyusui adalah keyakinan ibu
bahwa ia dapat memproduksi ASI sesuai kebutuhan bayinya!

Ada tidak faktor emosi dan sosial lain yang juga berpengaruh terhadap sukses menyusui?

Dengan mengacu teori dari G.J Ebrahim (1978) di bukunya Breastfeeding- the Biological Option, ia tuliskan bahwa terdapat beberapa faktor emosional dan sosial yang mempengaruhi sukses menyusui. Salah satu faktor yang dapat disebutkan diantaranya adalah nasehat dan pengalaman selama masa kehamilan dan persalinan. Karenanya penting sekali bagi para ibu mengunjungi klinik laktasi terdekat untuk mendapatkan “support” pemberian ASI pada sang buah hati.

Selain itu faktor laktasi yang berhasil pada kehamilan terdahulu juga disebutkan pula. Hal itu tak lain akan berhubungan dengan kepercayaan diri sang ibu bahwa ia akan mampu mula memberikan ASI secara sukses dengan berpatokan pada pengalaman menyusui pertamanya yang berhasil.

Nilai nilai yang berlaku pada masyarakat juga disebutkan oleh Ebrahim sebagai faktor penting penunjang keberhasilan menyusui. Dalam masyarakat yang menganggap tak lazim menyusui anak lepas usia satu tahun, biasanya ibu pun memilih menyapih sang anak bila tak “kuat” dengan tekanan tatanan norma yang berlaku.

Di atas adalah sebagian faktor emosi dan sosial penunjang keberhasilan pemberian ASI. Bila faktor tersebut dapat dijadikan faktor pendukung yang berefek positif pada busui, maka sukses menyusui relatif akan lebih mudah dicapai. (DaI/WRM)

February 3, 2006

Produksi ASI Menurun, Puting Susu Lecet

Filed under: Summary: Health

ASI mommies semakin sedikit kuantitasnya? Proses pemompaan ASI tidak memberikan hasil yang optimal?. Bila permasalahan tersebut sedang mommies hadapi, simak rangkuman diskusi di milist We R Mommies Indonesia tentang tema terkait. Selamat menyimak ya!.

Mengapa ASI saya jumlahnya tetap sedikit walau telah dipompa? Haruskan dihentikan upaya pemompaan ASI tersebut?

Salah satu mom di milist wrm-indonesia menyarankan agar upaya pemompaan tetap dilakukan. Namun jangan lupa untuk tetap melatih si kecil untuk menyusui langsung dari areola sang ibu. Kegiatan menyusui itu hendaknya tetap diteruskan walau ASI yang keluar dinilai sedikit “makin disedot, makin banyak ASI yang akan diproduksi!”.

Apa yang harus dilakukan agar ASI dapat berlimpah?

Selain si kecil harus sering menyusu, usahakan busui mengkonsumsi minum air putih sebanyak mungkin dan susu untuk menyusui, demikian pendapat mom ini. ” Dulu saya diberikan vitamin penambah air susu dari dokter, kalau tidak salah MOLOCO” tulis mom tersebut. Beliau menilai efek vitamin tersebut amat terasa dengan terbuktinya kuantitas produksi ASI dirinya yang makin melimpah.

Mom yang lain berpendapat bahwa hal yang terpenting harus dilakukan agar produksi ASI meningkat tak lain meningkatkan frekuensi breastfeeding-nya disertai dengan penanaman keyakinan bahwa sang ibu pasti dapat menghasilkan ASI yang mencukupi kebutuhan si kecil.

Benarkah saya harus minum cairan yang banyak agar ASI saya berlimpah?

Sebenarnya busui tidak memerlukan intake cairan yang sangat banyak. Yang terpenting diperhatikan adalah terpenuhinya asupan kebutuhan cairan per harinya. Wanita usia reproduksi biaasa membutuhkan liquid sekitar 2,25 l, ibu hamil 2.35 l dan busui kurang lebih 2,7 l. Bila busui mengkonsumsi cairan lebih dari batas kebutuhan tubuh (ca. 2,7 l tsb), biasanya tak akan banyak berpengaruh terhadap kuantitas produksi ASI yang dihasilkan (hasil dari beberapa penelitian ilmiah).

Adakah jenis jenis makanan tertentu yang dapat meningkatkan kuantitas produksi ASI?

Menurut mom ini, jenis jenis makanan atau bantuan supplementasi yang katanya akan mempengaruhi produksi ASI, entah benar atau tidak, namun yang saya tahu, efek langsung laktogenik beberapa makanan terentu tersebut belum dapat dibuktikan secara ilmiah hingga saat ini.

Berapa sih jumlah asupan kalori yang diharapkan dikonsumsi oleh bumil?

Yang terpenting, usahakan mom memenuhi asupan kalori yang dibutuhkan. Busui membutuhkan kalori yang lebih tinggi dibandingkan ibu yang hamil. Bila seorang bumil membutuhkan ca 2350 kcal perhari, nah busui sendiri memerlukan 2700 kcal per hari agar asupan energinya tercukupi.

Itupun dari 2700 kcal, 200 kcal nya sudah tersedia dalam bentuk fat deposit wanita saat ia menjalankan kehamilannya. Karenanya, asupan energi yang harus dikonsumsi hanya sekitar 2500 kcal. Sebagai pembanding, kebutuhan wanita usia reproduksi sekitar 2100 kcal, jadi pertambahan kalori sebenarnya dari pola makan normal sebelum hamil dan menyusui ya jatuhnya hanya 400 kcal saja per hari. Asupan energi harus diusahakan tercapai agar kondisi yang optimal untuk produksi ASI dapat tercapai.

Boleh tidak sih melakukan diet saat hamil?

Tidak boleh!!. Jangan membatasi makan yang “sangat” juga saat masa menyusui. Walau asupan tidak begitu banyak mempengaruhi kualitas dan kuantitas ASI, namun dalam
kondisi ekstrim seperti asupan < 1700 kcal, maka kuantitas ASI akan berkurang 15%. Jadi jangan berusaha menjaga berat badan dengan alasan diet ya mommies saat menyusui.

Kalau puting susu saya lecet, apa yang harus saya lakukan?

Mom ini berpendapat, pemberian minyak kelapa asli amat bermanfaat. Pembaluran dilakukan saat si kecil tidak menyusu. Bila si kecil akan menyusui, puting dibersihkan dengan kasa yang telah dibasahi oleh air hangat. Beliau juga menganjurkan untuk menggunakan produk VCO dalam mengatasi masakah puting susu lecet.

Faktor apa juga yang berpengaruh terhadap sukses menyusui?

Munculkan kegembiraan dalam diri busui, karena bila sang ibu stress, si kecil juga akan merasakan. Terlebih dengan kepesimisan bahwa ASI yang dipompa atau diproduksi hanya akan memberikan hasil minimal. Hal tersebut juga akan mengakibatkan produksi ASI akan menurun dan si kecil juga tidak bersemangat untuk menyusu pada ibu. Kondisikan pula agar faktor-faktor eksternal mendukung pilihan menyusui si kecil!. (DaI/WRM)