http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=565&Itemid=157
- Untuk menjadikan seorang anak mandiri tidak hanya dari faktor pisah tidur. Tapi bisa juga dengan kebiasaan sehari hari. Bagaimana kita memperlakukan anak kita. Apakah harus diladeni terus menerus, atau sedikit demi sedikit si anak diberi tanggung jawab, paling tidak untuk dirinya sendiri. Namun memang hal tersebut tergantung bagaimana penerimaan sang anak maupun didikan kita sebagai orang tua.
- Seorang anak yang baru melakukan pisah kamar saat kelas 3 SD tidak mengartikan ia tak memiliki kemandirian. Terbukti dengan kemandirian yang ia lakukan sejak kelas 1 SD dimana ia melakukan hampir segala aktivitasnya sendiri. Mandi sendiri, meletakkan baju kotor di keranjang baju kotor, membereskan mainannya, belajar bahkan mainpun tak membutuhkan pengawasan khusus lagi.
-Tidak ada batasan kapan waktu yang tepat pisah tidur dilakukan. Yang perlu diperhatikan untuk memutuskan kapan waktu yang tepat dilakukannya pisah kamar adalah kesiapan anak dan orang tuanya sendiri serta pertimbangan faktor lain yang dianggap penting.
-Buat ibu bekerja, pisah kamar dengan buah hatinya yang masih balita cukup menyulitkan. Setelah masa berpisah cukup lama di siang hari saat ibu bekerja, rasanya sayang sekali bila waktu malam hari harus terkurangi pula akibat si kecil harus tidur di kamar berbeda.
- Walau pisah kamar tidak memiliki hubungan langsung dengan kemandirian, namun bukan berarti tidak ada dampaknya sama sekali terhadap kemandirian.
- Beberapa pertimbangan lain perlunya dilakukan pisah kamar adalah hal yang penting dicermati, khususnya pada anak anak yang sudah lepas dari usia balita. Faktor “keamanan” adalah hal yang perlu dipertimbangkan, khususnya saat orang tua sedang melakukan aktifitas intim. Hal ini penting karena bila anak-anak ‘memergoki’ sang orang tua, khawatirnya ada masalah yang timbul di kemudian hari, terutama persepsinya soal pengetahuan seks. Bila “kepergok” saat anak bangun, maka dialog bisa langsung dilakukan antara orang tua dan anak. Namun bila ia menyaksikan karena pura-pura tidur atau terbangun sebentar karena keributan orang tua, tanpa sang orang tua menyadari, maka anak akan memiliki pemikiran tersendiri yang bisa jadi tidak dikomunikasikan kepada orang tuanya.(DaI/WRM)