September 28, 2005

Pisah Kamar dan Kemandirian Anak

Filed under: Summary: Children

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=565&Itemid=157

Kapan sebaiknya anak dipisah tidur dengan orang tuanya? Benarkah dengan tidur sendiri akan melatih kemandirian seorang anak? Sulitkah memisah tidur seorang anak besar bila ia semakin bertambah usianya?. Beberapa pertanyaan ini menjadi topik diskusi menarin di milist We R Mommies. Beberapa temuan penting diskusi yang berjalan adalah sebagai berikut:

- Untuk menjadikan seorang anak mandiri tidak hanya dari faktor pisah tidur. Tapi bisa juga dengan kebiasaan sehari hari. Bagaimana kita memperlakukan anak kita. Apakah harus diladeni terus menerus, atau sedikit demi sedikit si anak diberi tanggung jawab, paling tidak untuk dirinya sendiri. Namun memang hal tersebut tergantung bagaimana penerimaan sang anak maupun didikan kita sebagai orang tua.

- Seorang anak yang baru melakukan pisah kamar saat kelas 3 SD tidak mengartikan ia tak memiliki kemandirian. Terbukti dengan kemandirian yang ia lakukan sejak kelas 1 SD dimana ia melakukan hampir segala aktivitasnya sendiri. Mandi sendiri, meletakkan baju kotor di keranjang baju kotor, membereskan mainannya, belajar bahkan mainpun tak membutuhkan pengawasan khusus lagi.

-Tidak ada batasan kapan waktu yang tepat pisah tidur dilakukan. Yang perlu diperhatikan untuk memutuskan kapan waktu yang tepat dilakukannya pisah kamar adalah kesiapan anak dan orang tuanya sendiri serta pertimbangan faktor lain yang dianggap penting.

-Buat ibu bekerja, pisah kamar dengan buah hatinya yang masih balita cukup menyulitkan. Setelah masa berpisah cukup lama di siang hari saat ibu bekerja, rasanya sayang sekali bila waktu malam hari harus terkurangi pula akibat si kecil harus tidur di kamar berbeda.

- Walau pisah kamar tidak memiliki hubungan langsung dengan kemandirian, namun bukan berarti tidak ada dampaknya sama sekali terhadap kemandirian.

- Beberapa pertimbangan lain perlunya dilakukan pisah kamar adalah hal yang penting dicermati, khususnya pada anak anak yang sudah lepas dari usia balita. Faktor “keamanan” adalah hal yang perlu dipertimbangkan, khususnya saat orang tua sedang melakukan aktifitas intim. Hal ini penting karena bila anak-anak ‘memergoki’ sang orang tua, khawatirnya ada masalah yang timbul di kemudian hari, terutama persepsinya soal pengetahuan seks. Bila “kepergok” saat anak bangun, maka dialog bisa langsung dilakukan antara orang tua dan anak. Namun bila ia menyaksikan karena pura-pura tidur atau terbangun sebentar karena keributan orang tua, tanpa sang orang tua menyadari, maka anak akan memiliki pemikiran tersendiri yang bisa jadi tidak dikomunikasikan kepada orang tuanya.(DaI/WRM)

Kala Musim Gugur Tiba…

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=573&Itemid=2

Menjelang akhir musim panas, saya selalu menanti nanti datangnya musim gugur menyapa bumi. Tak sabar rasanya untuk dapat mengucapkan selamat tinggal pada rasa panas yang tak meninggalkan keringat, kemudian menyapa dengan ucapan selamat datang pada musim gugur yang penuh pesona dan teramat menawan.

Entah mengapa, saya amat menyenangi sekali nuansa yang muncul dari musim gugur dengan segala macam pernak perniknya: aneka ragam warna dedaunan yang kan berubah di sepanjang harinya, bau tanah yang khas setelah tersirami sejuknya air hujan, hujan yang kadang turun dengan butiran lembutnya dari langit, bahkan derasnya hujan yang disertai tiupan angin yang kencang pun seakan tetap menyimpan satu daya tarik tersendiri bagi saya.

Warna-warni dedaunan di pohon yang berubah di sepanjang hari, yang kemudian diikuti dengan bergugurannya satu persatu dedaunan di pepohonan pun tak bosan bosannya membuat mata ini menatap. Setinggi, sekuat dan sebesar apapun jenis pohonnya, maka semua akan menjalani fitrah. Dedaunannya yang lebat, satu persatu akan lepas dari ranting kemudian akan jatuh ke tanah. Seluruh ranting akan menjadi gundul, tanpa ada daun yang tersisa. Hanya tegak pohon berbatang coklat yang akan ada, di akhir musim gugur, menjelang awal musim dingin yang kan datang menggantikan.

Telah sembilan kali musim gugur saya lewati di negeri ini. Namun sembilan kali itu pun tetap tak cukup bagi saya untuk menikmati dan mengamati pesona keindahan yang tercipta dari tiap musim gugur yang tiba. Di sembilan kali itu pula, diri selalu diingatkan oleh Pencipta akan hikmah permisalan dari musim gugur yang menyapa, minimal bagi saya pribadi.

Kala butiran lembut hujan menyentuh raga, maka butiran air tersebut seakan menyapa jiwa saya yang rapuh…”wahai dinda..kubasahi dirimu dengan lembut, agar nantinya kesegaran dan kesejukan dapat kau nikmati. Maka syukurilah datangnya ku padamu. Berterimakasihlah padaNya yang telah segarkan diri dan sekitarmu dengan sapaan lembut dariku. Datangnya diriku adalah salah satu nikmat bagimu, walau mungkin kadang dirimu tak tahu. Semoga melalui diriku, jiwamu kan bersih dan segar kembali. Sebagaimana doamu pada Penciptaku , agar kau dibersihkan dari segala kesalahanmu dengan air, salju dan embun “. Ah, betapa indahnya.

Saat hujan deras datang dengan disertai tiupan angin kencang yang menemani, maka seakan saya di sadarkan akan keterbatasan diri yang saya miliki. Tak pantas rasanya bersombong dan berbangga diri padahal badan masih harus berjalan terhuyung hanya akibat tiupan angin ciptaanNya, yang mungkin tak seberapa kencang. Mampirnya siraman hujan deras ditambah kuatnya tiupan angin ke badan lemah ini, seakan menegur saya.. ” wahai dinda, siapakah engkau..yang kadang terjebak sombong dan bangga, merasa kuat di dunia. Bukankah dirimu pun sudah letih payah hanya karena siraman hujan tak seberapa dan angin yang tak sebegitu kencangnya dariNya?”. Ah benar, kadang sayapun tak menyadari kekhilafan saya.

Ketika saya memandangi warna dedaunan yang beraneka ragam, seakan akan saya melihat manusia dengan segala macam jenis dan karakteristiknya. Tak ada bentuk, warna serta ciri khas daun yang sama. Namun dengan segala macam perbedaan yang tercipta, tak ada satupun daun yang tak akan berguguran ke tanah. Semua akan kering…satu saat akan jatuh ke tanah. Hanya waktu yang membedakan, kapan mereka akan pergi menemui bumi.

Saya adalah salah satu daun yang ada di pepohonan itu. Daun yang satu saat akan berubah warnanya. Daun yang bila waktunya tiba ‘kan menjadi tua, lepas dari ranting dan jatuh ke tanah. Satu saat saya akan meninggalkan pohon kehidupan dunia dengan ranting rantingnya yang kini masih saya genggam. Satu saat nanti, yang sayapun tak tahu kapan menghampiri.

Ah, saya ingin di saat saya harus lepas dari pohon kehidupan, warna di daun yang saya miliki adalah warna yang indah, yang tak terlalu punya banyak bercak bercak noda hitam di daunnya. Bercak hitam yang hanya akan mengurangi nilai keindahan warna yang telah tercipta. Saya ingin memiliki warna akhir di daun, yang dengannya Sang Pencipta akan melimpahkan rasa Sayang dan Cinta pada saya yang telah Dia ciptakan. Warna akhir di daun, yang dengannya manusia akan terhibur akan keindahannya serta akan selalu mengenang pesona yang timbul darinya, walau sang daun telah tiada.

Robbi, bila saatnya tiba…perkenankanlah Engkau tutup hidup hamba dengan satu penutup yang baik. Satu penutup dimana hamba telah dapat membuat kebun kebaikan, yang kan selalu dapat menghantarkan amal kebaikan ketika hamba tak lagi di dunia fana. Satu penutup yang indah, dimana hamba kan diperkenankan olehMu untuk dapat menikmati keindahan alam abadi yang sesungguhnya. Robbi, kabulkanlah doa hamba….(@DaI)

September 21, 2005

Strategi Pembagian Waktu Bagi Ibu Bekerja di Rumah

Filed under: Summary: Haushold

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=560

Mungkin tidak sih seorang wanita dapat melakukan pekerjaan sampingannya di rumah saat si kecil masih berusia batita? Bagaimana cara efektif melakukan pembagian waktu antara bekerja di rumah dengan memberikan perhatian pada si kecil? Kapan waktu efektif melakukan pekerjaan di rumah tanpa harus mengorbankan badan dengan tidak tidur terlalu malam?. Deretan pertanyaan ini berusaha para moms di milist We R Mommies jawab dari berjalannya diskusi bertema” membagi waktu antara pekerjaan di rumah dan anak”. Berikut beberapa inti sari dari diskusi yang berjalan.

1. Bila anak sudah besar dan mengerti saat diajak bicara (sekitar usia SD), maka jelaskan pada mereka betapa moms membutuhkan waktu khusus untuk menyelesaikan pekerjaan moms serta moms memiliki komitmen yang harus dijalankan dan ditepati.

2. Bila anak sudah cukup besar dan dapat beraktivitas sendiri (sekitar usia TK nol besar), minta mereka untuk beraktivitas sendiri untuk beberapa saat saat moms bekerja. Sebagai kompensasinya, moms sediakan waktu khusus berdua saja dengannya
entah di pagi hari atau sore hari.

3. Bila anak masih terlalu kecil dan sangat tergantung (sekitar usia di bawah 3 th), mungkin terpaksa dibutuhkan orang lain untuk menemaninya bermain. Anak seusia tersebut biasanya memiliki rentang perhatian yang masih pendek. Artinya ia betul-betul perlu seorang teman yang menemani dirinya. Seandainya belum memungkinkan untuk mengirimnya ke taman bermain, mungkin diperlukan asisten hanya untuk menemani ia bermain di rumah. Sehingga bermainnya pun masih dalam pengawasan moms.

4. Saat anak beristirahat siang adalah salah satu waktu yang dapat dicuri moms untuk melakukan “cicilan” aktivitas pribadi. Demikian halnya waktu setelah anak anak pergi tidur di malam hari. Karenanya usahakan si kecil cepat pergi tidur malam agar moms tak perlu “begadang” menyelesaikan pekerjaannya. Bila keadaan tidak memungkinkan untuk “menyicil”, tuliskan minimal point point atau ide ide yang harus dikerjakan dalam sebuah buku catatan khusus. Tanpa disiplin mencatat, maka ide ide tersebut akan menguap begitu saja tanpa bekas dan waktu luang moms yang juga sedikit akan sia sia.

5. Minta pengertian suami agar pulang tidak terlalu malam sehingga dapat bergantian menjaga si kecil sementara moms menekuni pekerjaannya.

6. Tekankan di diri moms tentang prinsip disiplin karena itu adalah kunci keberhasilan bekerja dari rumah. Lebih baik menyicil pekerjaan sedikit demi sedikit, daripada harus semalaman tak tidur yang hanya menimbulkan kepenatan.

7. Bila pekerjaan membutuhkan konsentrasi tinggi (baca: dead line yang “mepet”), tak ada cara lain selain meminta bantuan seseorang untuk menjaga si kecil untuk beberapa saat. Dapat saja si kecil diungsikan sementara ke luar rumah, dengan risiko moms akan rindu kehadiran si kecil. Alternatif lain, meminta bantuan seseorang untuk menemani si kecil di rumah sementara moms menekuni pekerjaannya, dengan risiko pula harus bersiap siap “pecah konsentrasi” sesaat karena tangisan atau rengekannya.

8. Hindari penggunaan non stop media elektronik sebagai “baby sitter pengganti” sementara moms beraktivitas. Hal tersebut merupakan sikap yang tak bertanggung jawab pada penggunaaan media tersebut dan dapat menjadi contoh yang buruk bagi si kecil tentang interaksi dengan media elektronik di kemudian hari. (DaI/WRM)

Pembaca diperkenankan mengutip artikel di halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.@2005 We R Mommies All Rights Reserved.

Pembaca diperkenankan mengutip artikel di halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.@2005 We R Mommies All Rights Reserved.

Marah dan Mengomel Pada Anak, Perlukah?

Filed under: Summary: Children

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=564

Apa yang moms bayangkan saat di perjalanan pulang ke rumah ?. Idealnya, moms menemukan si kecil dalam keadaan bersih dan bertingkah manis serta keadaan rumah yang rapih terkendali kan?. Nah, bila ternyata yang dijumpai si kecil dengan tingkahnya yang membuat pusing, ditambah dengan keadaan rumah yang tidak seperti moms harapkan, kira kira apa yang akan moms lakukan? Berperilaku manis dengan menganggap tak terjadi apa apa ataukah marah secara wajar untuk pelampiasan kekesalan yang telah menumpuk. Demikianlah kurang lebihnya kondisi yang mom ini alami. Kemarahan yang dirasa sudah ditebus dengan permintaan maaf dan kasih sayang ternyata masih saja berbekas di hati si kecil. “Apa kita sebagai ibu tidak boleh marah-marah, meski magma di dalam diri ini sudah begitu meletup? belum lagi di luar diri kita banyak hal memicu kemarahan” pertanyaan ini beliau ajukan di milist We R Mommies beberapa waktu lalu.

Diskusi yang berjalan cukup mengasyikkan. Adanya toleransi atau tidak dalam kasus marahnya seorang ibu membawa para moms mengemukakan argumen, opini dan pengalamannya. Berikut hal hal yang dapat dicatat dari jalannya tukar pendapat yang ada.

1. Marah ataupun marah marah (baca: “mengomel”) adalah satu emosi yang wajar dan alami, namun sedapat mungkin lakukan seminimal mungkin plus tanpa memaki atau memukul.

2. Bedakan kemarahan kita, adakah manfaat yang mengikutinya. Marah-marah terhadap anak usia 1 tahun yang sedang senang-senangnya membuang-buang minumannya ke mana-mana, pasti kurang berguna. Namun memarahi anak usia 4 tahun
yang mainan gunting dan menggunting rambut adiknya, adalah hal yang perlu dilakukan.

3. Sesekali berbicara dengan nada keras kadang dibutuhkan agar anak mengetahui “batas” yang ada. Dengan hal ini, anak akan mengetahui kesalahan yang diperbuat dan mengerti mengapa tindakan mereka tidak tepat. Moms harus dapat membuat si anak mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam bahasa yg dapat dimengerti mereka.

4. Sedapat mungkin, hindari pelampiasan kemarahan pada anak walau emosi sedang memuncak. Terlebih bila penyebab kemarahan berasal dari hal yang lain.

5. Lampiaskan kemarahan di tempat yang tepat. Cari teman bicara yang bersedia menampung kekesalan dan keluh kesah yang telah “memenuhi kepala”. Kadang moms hanya memerlukan teman bicara yang netral agar kemarahan yang ada padam.

6. Jauhkan anak dari moms sejenak agar keinginan untuk menyentuh secara fisik dapat dihindari.

7. Penguasaan teknik pengolahan kata kata dengan “tekanan” marah adalah alternatif yang amat baik dan efektif agar anak mengetahui moms sedang marah dan ia berbuat kesalahan, tanpa sang anak harus ketakutan bila dibentak atau disakiti.

8. Bila kejadian “membentak” terlanjur terjadi, sedapat mungkin dekati si anak dengan cara yang menyenangkan hingga permintaan maaf moms dijawab dengan senyuman tulus darinya.

9. Setelah kejadian “mengomel” usai dan sang anak tetap memberikan respon kata kata yang membuat moms sedih semisal “Mama, you’re mean!”, “Mama, you’re not nice” atau yang paling menyakitkan “I hate you”, maka moms harus “kebal” dengan kata kata tersebut. Yakinkan diri bahwa moms pun marah bukan tak berdasar dan tanpa tujuan.

10. Sesekali anak harus menyadari bahwa bila orang tuanya marah, bisa jadi karena mereka takut terhadap bahaya yang bisa dihadapi anak-anaknya karena kekonyolan mereka sendiri.

11. Bila memungkinkan, ajarkan anak untuk mengingatkan moms dengan cara yang menyenangkan saat “muka cemberut” kita
muncul. “Ibu senyum dong, nanti nggak cantik lagi lho” adalah salah satu good reminder yang dapat memotivasi moms mengatur kemarahan. (DaI/WRM)

Pembaca diperkenankan mengutip artikel di halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.@2005 We R Mommies All Rights Reserved.

September 13, 2005

Co-Sleeping: Tradisi Menguntungkan Yang Makin Menghilang

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=557&Itemid=2

Tidur bersebelahan antara ibu dan bayi adalah satu tradisi alami yang biasa ditemui di setiap kelompok masyarakat sekaligus merupakan kegiatan yang menguntungkan, baik bagi ibu dan bayinya. Aktivitas yang biasa dikenal dengan istilah ‘Co-Sleeping’ memang telah terbukti memiliki keunggulan secara klinis dan berperan penting pula terhadap tingkat ‘ke-survive-an’ anak. Sayangnya, kecenderungan yang kini teramati malah berbeda: semakin banyak para orang tua yang memutuskan tidak tidur bersama bayi mereka di satu tempat tidur.

Neonatal yang hanya memiliki 25% volume otak seorang dewasa membutuhkan dukungan sosial dan emosional yang intens, termasuk di dalamnya kebutuhan terpenuhinya rasa lapar. Tak mengherankan, pemberian ASI siang ataupun malam adalah hal terefektif yang tak dapat disangkal peranannya dalam mengatasi pemenuhan rasa lapar si kecil. Hal tersebut dapat teramat mudahnya didapatkan di malam hari melalui aktivitas Co-Sleeping yang sekaligus membawa kenyamanan pada ibu dan anak. Karenanya penelitian ilmiah tentang pola tidur bayi manusia yang tidak memperhitungkan peran pemberian ASI malam hari, faktor kedekatan ibu-anak dan kontak yang terjadi dapat dianggap sebagai satu penelitian yang tak lengkap dan tidak tepat (McKenna 1986).

Kondisi Yang Harus Terpenuhi

Untuk menjamin keamanan Co-Sleeping yang dilakukan, terdapat satu syarat utama yang harus terpenuhi: terciptanya kondisi yang memungkinkan si kecil mampu “merasakan” serta “menyadari” kehadiran ciri khas sang ibu. Signal ibu seperti bau khasnya, desah nafas, gerakan tidur, perkataan serta ‘undangan’ menyusui di malam hari haruslah si kecil ‘mengerti’. Dengan terpenuhinya kondisi di atas, tidur bersama antara ibu dan bayinya dapat dikatakan aman untuk dilakukan.

Sebaliknya, kondisi yang membahayakan dilakukannya Co-Sleeping harus dihindari. Tidur bersebelahan dengan bayi di sofa, ibu perokok yang mendampingi tidurnya si kecil, anak balita yang tidur di samping si bayi (Young dan Fleming 1998) dan penggunaan matras empuk serta bantal bayi (Drago und Danneberg 1999, Scheer 2000) adalah beberapa faktor yang dapat dicatat. Ibu pengkonsumsi alkohol dan obat obatan (termasuk narkoba) juga dianjurkan tidak melaksanakan Co-Sleeping karena dikhawatirkan memiliki kemampuan reaksi spontan yang terbatas.

Keuntungan Tidur Bersama bagi si Kecil

Co-Sleeping terbukti berperan penting terhadap penjagaan kestabilitasan suhu bayi. Temuan studi Mc Kenna (1986) menyimpulkan bahwa seorang bayi yang sejak lahir diletakkan berjauhan dengan perut ibunya mengalami penurunan suhu tubuh hingga 1 derajat celcius. Kondisi ini pun dapat diamati pada bayi yang berada di dalam inkubator dimana suhunya telah diatur sedemikian rupa mendekati suhu tubuh sang ibu. Kontak kulit dengan orang tuanya pun terbukti berpengaruh positif terhadap bayi — prematur ataupun normal. Melalui sentuhan kulit tersebut, bayi biasanya akan memiliki pola nafas lebih teratur, menggunakan energi lebih efisien, memiliki pola tumbuh-kembang lebih cepat serta mengalami lebih sedikit stress. (Stewart dan Stewart 1991, Field 1995).

Bayi yang tidur terpisah dari orang tua pada awalnya biasa menunjukkan gejala rewel dengan menangis dan berteriak. Hal tersebut dapat didefinisikan sebagai tanda protes terhadap keadaan yang dianggap membahayakan dirinya, yaitu terpisah dari orang yang dianggap sebagai bagian terpenting dari hidupnya. Karenanya tak heran pada bayi yang tidur bersebelahan dengan orang tuanya relatif lebih ‘anteng’ dan ‘tidak rewel’ pada saat akan tidur.

Anjuran pemisahan tidur sejak kecil banyak ‘terdengar’ di beberapa tahun kebelakang. Hal itu dilakukan dengan alasan agar otonomi sang anak sejak kecil dapat terasah. Intervensi minimal orang tua pada si kecil, termasuk halnya pemberian ASI, bahkan kadang datang dari petugas kesehatan sendiri. Tak hanya itu, ‘nasehat’ untuk menghindari agar sang anak tertidur saat menyusui pun banyak didengungkan. Tips yang banyak beredar tersebut biasanya didasarkan atas studi terdahulu yang menyatakan bahwa anak yang dibiasakan tidur bersama orang tuanya umumnya memiliki permasalahan psikologi, emosional dan hubungan sosial di masa depan (Ferber 1985).

Hal yang menarik, temuan studi cross sectional di Inggris menyimpulkan hal berbeda. Responden pada studi tersebut yang memenuhi kriteria “tidak pernah tidur di tempat tidur orang tuanya” malah terbukti banyak memiliki masalah, baik menurut orang tuanya dan guru di sekolah. Sulit dikontrol, merasa tak berbahagia, emosional, mudah marah adalah beberapa permasalahan yang tercatat di studi tersebut. Selain itu, anak anak tersebut lebih gampang ketakutan di banding mereka yang pernah tidur bersama orang tuanya (Herons 1994).

Keuntungan Co-Sleeping juga disimpulkan dari temuan penelitian Lewis & Janda (1988). Studi tersebut menyimpulkan, pada responden pria yang sejak lahir hingga usia lima tahun pernah tidur bersama orang tua, umumnya memiliki kepercayaan diri yang tinggi, jarang memiliki ketakutan dan rasa bersalah serta kualitas seksual yang baik. Bagi wanita, ‘efek’ dari kegiatan tersebut diasosiasikan pula dengan adanya rasa ‘affection’ saat ia dewasa.

Pada penelitian tema sejenis juga ditemukan bahwa anak anak yang pernah tidur bersama orang tuanya lebih jarang menjalani terapi psikiatri (Forbes et al 1992). Bahkan dari studi terbesar dengan tema terkait yang melibatkan 1400 orang lintas etnis di Chicago menghasilkan temuan bahwa pada orang dewasa yang pernah melakukan Co-Sleeping di masa kecil memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi dibanding rekannya yang tidak pernah melakukan (Mosenkis 1998).

Co-Sleeping dan SIDS

Para penganut faham kontra terhadap Co-Sleeping biasanya menggunakan argumentasi kemungkinan terjadinya Sudden Infant Death Syndrom (SIDS) ataupun kematian bayi seperti halnya yang ditemukan dari penelitian Mortimer (2001) yang dilakukan di beberapa kota besar seperti Chicago, Cleveland, Washington D.C dan St. Louis . Sayangnya, argumentasi tersebut tidak memperhatikan faktor keamanan yang harus dipenuhi saat dilakukannya Co-Sleeping.

Responden pada studi tersebut adalah para ibu miskin keturunan afrika yang umumnya mengkonsumsi rokok, narkoba dan alkohol. Selain itu bayi bayi mereka pun biasa ditidurkan dalam posisi tengkurap tanpa memperhatikan jenis matras tidur yang digunakan. Tak heran dalam kondisi di atas ditemukan tingginya angka kematian bayi. Karenanya argumen yang berangkat dari penelitian serupa tanpa memperhatikan terpenuhinya syarat Co-Sleeping yang aman sebenarnya tidak dapat digunakan sebagai bukti yang menyatakan adanya keterkaitan langsung antara SIDY dengan praktek Co-Sleeping.

Hubungan antara Co-Sleeping, menyusui eksklusif dan rendahnya SIDS bahkan dapat dibuktikan dari studi yang dilakukan di Kanada oleh Sankaran et al. (2000). Kesimpulan serupa juga ditemukan dari hasil penelitian di Afrika Selatan : bayi yang tidur bersama ibunya memiliki peluang untuk hidup lebih besar (Kibel und Davies 2000). Pada beberapa wilayah dimana Co-Sleeping dianggap sebagai satu norma umum yang berlaku seperti di Hongkong dan Jepang, bahkan memiliki angka terendah kasus SIDS di dunia.

Dari penjelasan yang telah dikemukakan, maka moms telah dapat mengetahui beberapa manfaat dari tidur bersama antara ibu dan si kecil. Kombinasi Co-Sleeping dan menyusui bahkan merupakan tindakan terefektif dan integratif pelayanan akan kebutuhan si kecil di malam hari. Kepercayaan, komunikasi, sentuhan, pemberian makanan dan penguatan sistem kekebalan tubuh: kesemuanya dapat diperoleh dari dua kegiatan yang dilakukan dalam satu waktu tersebut.

Belum lagi ditambah dengan semakin kecilnya risiko terjadinya kematian bayi secara mendadak melalui aktivitas Co-Sleeping. Tak dapat dipungkiri, kegiatan tidur bersama tersebut adalah tindakan yang tepat bagi moms yang memiliki si kecil. Karenanya pertanyaan “Amankah bila saya tidur bersama si kecil?” seharusnya tak lagi mommies ajukan, namun kalimat berikut yang sebaiknya moms tanyakan “Amankah bila saya tidak tidur bersama si kecil?”. (DaI)

Referensi:


Ferber R (1985) Solve Your Child’s Sleep Problems. New York: Simon and Schuster
Heron P (1994, April) Non reactive Co-Sleeping and Child Behaviour: Getting a Good Night’s Sleep All Night Every Night. Masters Thesis, University of Bristol, Department of Psychology
McKenna JJ (1986) An anthropological perspective on the sudden infant death syndrome (SIDS): the role of parental breathing cues and speech breathing adaptations. Med Anthrop 10: 9-53
McKenna JJ (2003) Co-Sleeping In Scherbaum et.al: Stillen, Fruehkindliche Ernaehrung und reproduktive Gesundheit. Deutscher Aerzte Verlag, Koeln: 268-270
Mortimer A (2001) Sudden infant death syndrome, bed-sharing, parental weight and age at death. Pediatrics 107(3): 530-536
dan berbagai macam jurnal ilmiah dan buku dengan tema terkait.

*Foto dari www.corbis.com

Info Sumber Nama Sanskerta

Filed under: Summary: Children

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=555&Itemid=164

Mommies ingin mencari nama calon putra/i yang berbau bahasa sanskrit? Nah, silakan mommies membaca informasi
di bawah ini yang merupakan hasil diskusi tema terkait di milist We R Mommies.

Info Sumber Nama Nama Sanskrit di Internet

http://www. kabalarian.com
http://www,babycenter.com
http://www.indiaexpres.com/specials/babynames/
http://www.indianchild.com/indian_baby_names.htm
http://www.babynology.com/sanskrit/
http://www.babyzone.com/babynames (terus cari ke sanskrit name)
http://www.babynamenetwork.com/baby_names/origins/sanskrit_baby_names.cf
http://www.namabayi.com
http://www.ibujari.com

Buku Berisi Informasi Nama Nama Sanskrit

The Dictionary od Sanskrit Names, lihat di : www.wuperbookdeals.com
Buku Nama Bayi dari Bahasa Jawa dan Sansekerta (ada di Gramedia)
Kamus Bahasa Kawi (jawa kuno). (DaI/WRM)

Daster, si Baju Yang Nyaman: Pro vs Kontra


http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=554&Itemid=157

Pro-Kontra pemakaian baju daster bagi wanita yang telah berkeluarga mewarnai topik diskusi di milist We R Mommies
beberapa saat yang lalu. Terlepas dari jenis bahan dan kualitas pakaian yang digunakan, hampir semua mommies menyetujui bahwa pakaian rumah berkategori daster adalah perlengkapan badan yang amat nyaman untuk dikenakan. Berikut beberapa pro-kontra yang dapat dirangkum dari jalannya diskusi yang ada.

“YES” Pemakaian Daster di Rumah

- Bila nyaman digunakan, why not?. Terlebih pada saat hamil dan menyusui, daster adalah alternatif pakaian terbaik.
- Dapat menutupi kekurangan bagian tubuh akibat proses melahirkan dan menyusui (baca: kenaikan BB) dengan modelnya
yang longgar dan melebar.
- Bagi muslimah, daster dengan model kaftan sangat praktis karena dapat langsung digunakan keluar rumah.
- Perawatannya tidak rumit dibandingkan daster ala Amerika (yang biasa ditemukan di bagian lingeri/lounge-wear )karena
tidak perlu ‘dry clean’, khususnya pada yang berbahan baku silk/polyster.
- Membuat suasana rumah menjadi hangat karena kenyamanan yang didapatkan dari si pemakai.

Tips bagi moms yang pro:

- Jauhi penggunaan daster ‘lusuh’ sedapat mungkin. Namun bila suami tidak berkeberatan, silakan tetap gunakan
daster ‘lusuh’ kesayangan.
- Gunakan daster yang bermotif menarik, semisal daster produksi dari daerah yogya atau bali yang kaya akan motif.
- Variasikan pemakaian agar tidak menimbulkan kejenuhan. Penggunaan piyama atau kaos-celana selama di rumah adalah
beberapa alternatif yang dapat dipilih.
- Pilih daster yang berlengan pendek dengan panjang hingga lutut Untuk menjauhi kesan ‘ibu-ibu’.
- Gunakan daster bali bertali spaghetti agar nampaklebih trendy dan sexy,
- Pilih daster dengan model bahu setali agar terlihat lebih “menarik” bagi suami.

“NO” Pemakaian Daster di Rumah

- Tidak tega memberikan pemandangan lusuh pada suami,
- Munculnya kesan ‘wanita pemalas’.
- Munculnya kesan ‘tidak rapih’.
- Gerakan menjadi terbatas, ‘ribet’ dan tidak praktis. Terlebih bila sudah memiliki anak.
- Terlihat tidak seksi.
- Munculnya kemungkinan sang suami tidak ‘betah’ berada di rumah karena melihat sang istri dengan daster batiknya
yang ‘kucel’.
- Berat badan tidak terkontrol karena daster selalu dapat menutupi badan yang semakin membesar dengan sempurna.
- Tampak merepotkan pada saat menyusui dengan adanya proses buka-tutup kancing.(DaI/WRM)

September 7, 2005

Seputar Tips Mencuci Pakaian

Filed under: Summary: Haushold

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=550

Beberapa tips mencuci pakaian yang didapatkan dari diskusi di milist We R Mommies.

BRA

1. Hindari pencucian dan pengeringan bra di dalam mesin cuci karena akan mempengaruhi kualitas bra, terlebih pada bra yang tidak mencantumkan aturan perawatannya.
2. Pada bra berkawat, lihat terlebih dahulu petunjuk pencuciannya. Bila terdapat gambar tangan, maka pencucian harus dilakukan dengan metode handwash. Bila terdapat simbol mesin cuci atau suhu, maka cuc bra tersebut di mesin cuci dengan suhu dingin.
2. Bila bra dicuci dengan tangan,gunakan gerakan yang tak terlalu keras dalam mencuci bra .Pemerasan air pun jangan dilakukan dengan cara memelintir bra melainkan dengan cara diremas secara lembut.
3. Tindakan “pengucekan” bra dapat dihindari dengan meletakkan bra dalam rendaman air sabun cuci selama beberapa waktu.

SWEATER/PULLOVER

1. Bila terdapat petunjuk ‘dry clean”, jangan coba coba dicuci dengan mesin cuci. Minta bantuan jasa laundry untuk membersihkan sweater tersebut atau cuci dengan menggunakan tangan. Biasanya sweater berbahan wool atau cashmere harus dibersihkan dengan cara “dry clean”.
2. Gunakan produk yang biasa digunakan di mesin cuci biasa untuk pencucian ala dry clean. Di US, salah satu merk yang dapat digunakan adalah DRYEL.
2. Pada sweater yang dapat dicuci dengan mesin cuci, balik bagian luar sweater ke dalam dan sebaliknya. Gunakan air dingin, bukan hangat ataupun panas.
3. Pilih cara mencuci yang “delicate” dengan air dingin.
4. Perhatikan boleh tidaknya penggunaan ’softener’. Pada beberapa bahan garment, penggunaan softener harus dihindari.
5. Perhatikan boleh tidaknya penggunaan “bleach”.
6. Gunakan pemakaian jaring untuk mencuci atau sarung bantal (pencucian boneka boneka berbulu juga dapat ditrik dengan metode ini).
7. Bila tidak terdapat petunjuk pencucian, cari tahu bahan pembuatan sweater tersebut. Pencucian dilakukan berdasarkan jenis bahan sweater tersebut.

PAKAIAN BIASA

1. Pisahkan antara baju berwarna terang dan baju berwarna gelap. Cuci berdasarkan kesamaan warna tersebut.
2. Pada baju berwarna putih lebih baik dicuci sendiri.
3. Gunakan deterjen cuci sesuai dengan takaran yang yang dianjurkan.

(DaI/WRM)

Memilih Tahu Yang Aman dan Sehat

Filed under: Summary: Haushold

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=551

Tahu yang berbahan asal kedelai memang sehat. Namun terdapat beberapa kondisi yang harus diperhatikan sebelum memakan si putih yang sehat tersebut agar terhindar dari bahaya zat zat kimia yang membahayakan. Beberapa informasi terkait dapat mommies baca dalam informasi di bawah ini. Rangkuman informasi tersebut berasal dari milist We R Mommies.

Mengapa tahu dan produk turunan kedelai lainnya adalah makanan yang sehat, khususnya bagi wanita?

Kedelai dan produk olahannya seperti tahu, tempe dan susu telah terbukti dapat membantu menurunkan kolesterol darah, mengurangi risiko penyakit jantung dan kanker, serta meredakan perasaan tak nyaman saat menopause. Fungsi sehebat itu dikarenakan adanya komponen fitoestrogen. Menurut para peneliti, fitoestrogen kedelai juga dapat menghambat efek negatif estrogen alami dan juga memasoknya jika estrogen itu bekerja lamban. Dalam hal ini fitoestrogen akan menurunkan aktvitas estrogen alami saat hormon itu memicu pertumbuhan kanker payudara misalnya.

Adakah hubungan antara makan kedelai dengan risiko terkena penyakit jantung?

Ya ada. Salah satu contoh yang dapat diamati adalah rendahnya prevalensi penyakit jantung di jepang. Orang Jepang beresiko rendah untuk mendapat penyakit jantung atau kematian akibat sakit jantung karena mengonsumsi kedelai rata-rata 30 gr perhari atau 12 kg per tahun. Bandingkan dengan konsumsi kedelai pada orang Amerika yang hanya 2 kg per orang per tahun.

Apakah bila seorang wanita banyal mengkonsumsi kedelai maka akan menurun masalah menopause di masa mendatang?

Ya. Wanita Jepang tidak mengenal hot flashes (rasa panas di tubuh bagian atas) karena tidak mengalaminya. “Itu karena kedelai dapat menurunkan gejala menopause seperti hot flashes,” ujar Mark Messina, Ph.D. Sementara setengah dari wanita Amerika mengeluh hot flashes dan keluar keringat di waktu malam,
saat menopause.

Menurut penelitian yang dilakukan Universitas Nasional Singapura, perempuan di saat pra menopause yang mengonsumsi kedelai, makanan sumber betakaroten, dan asam lemak tak jenuh, mempunyai risiko mendapat kanker 50 persen lebih rendah dibanding mereka yang mengonsumsi protein hewani secara berlebihan. Di sini estrogen kedelai membantu meningkatkan estrogen alami, sehingga dapat juga mencegah osteoporosis tanpa meningkatkan risiko kanker.

Apakah diet tinggi kedelai ada hubungannya dengan siklus menstruasi?

Diet tinggi kedelai juga dapat memperpanjang siklus menstruasi. Sepanjang kehidupan, tubuh menghasilkan banyak estrogen, bahkan dapat mengubah sel sehat menjadi kanker. Lamanya siklus hiad dapat mengurangi jumlah hormon. Karena itu, diet tinggi kedelai sangat baik bila dilakukan sejak wanita mulai mendapat haid.

Adakah keunggulan kedelai buat pria?

Ya, keunggulan kedelai juga dapat dimanfaatkan pria. Diet tinggi kedelai padat membantu mengurangi efek hormon testosteron, yang dapat menyulut pertumbuhan sel kanker alam kelenjar prostat. Penelitian terhadap 8.000 pria Jepang yang tinggal di Hawaii, yang banyak makan tofu (tahu), beresiko rendah untuk terkena kanker prostat. Angka kematian akibat kanker prostat pun rendah. Itu karena mereka tetap mempertahankan kebiasaaan konsumsi kedelai, meski tinggal di negara barat.

Terdapat pulakah kandungan nutrisi lain pada tahu yang mendukung fungsi tahu sebagai makanan sehat?

Ya, terdapat banyak lagi kandungan dalam tahu, tempe, dan produk olahan kedelai lainnya. Proteinnya senilai daging, juga vitamin, mineral, dan lemaknya. Lemak dalam kedelai adalah lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated) yang dapat membantu menurunkan kadar kolesterol darah dan menghindari penggumpalan lemak dalam darah, serta menurunkan risiko penyakit jantung koroner. Selain itu terdapat nilai ekonomis olahan kedelai ini, karena lebih murah dibandingkan protein hewani, sehingga baik sebagai menu sehari-hari.

Tips apa yang harus diperhatikan saat memilih tahu?

Sebelum membeli tahu, hendaknya perhatikan tips berikut ini. Pada produk tahu yang mengandung formalin dapat ditandai dengan :
a.. Semakin tinggi kandungan formalin, maka tercium bau obat yang semakin menyengat; sedangkan tahu tidak berformalin akan tercium bau protein
kedelai yang khas;
b.. Tahu yang berformalin mempunyai sifat membal (jika ditekan terasa sangat kenyal), sedangkan tahu tak berformalin jika ditekan akan
hancur;
c.. Tahu berformalin akan tahan lama, sedangkan yang tak berformalin paling hanya tahan satu dua hari.
d.. Tahu yang memakai pewarna buatan dapat ditandai dengan cara melihat penampakannya. Jika tahu memakai pewarna buatan, warnanya sangat
homogen/seragam dan penampakan mengilap. Sedangkan jika memakai pewarna kunyit, warnanya cenderung lebih buram (tidak cerah). Jika kita potong tahunya, maka akan kelihatan bagian dalamnya warnanya tidak homogen/seragam. Bahkan, ada sebagian masih berwarna putih.*

Apa sih formalin dan mengapa penggunaaannya pada produk tahu berbahaya?

Formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar 30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk sudah diencerkan, yaitu dengan kadar formaldehidnya 40, 30, 20 dan 10 persen serta dalam bentuk tablet yang beratnya masing-masing sekitar 5 gram. Formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan keracunan pada tubuh.

Selain itu, kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan), serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang disebabkan adanya kegagalan peredaran darah. Formalin bila menguap di udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau yang tajam menyesakkan, sehingga merangsang hidung, tenggorokan, dan mata.

Jadi cara mudah memilih tahu bagaimana ya?

Intinya, pilihlah tahu sedapat mungkin yang warna kuningnya tidak mencolok serta yang tidak kenyal dan berbau kedelai alami. (DaI/WRM)