July 26, 2005

Game Elektronik Untuk Balita: Pro vs Kontra

Filed under: Summary

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=496&Itemid=157

“Suami saya dapat hadiah dari temannya, sebuah nintendo DS. Nah rencananya ingin diberikan pada anak kami (5 th), kemudian dicarikan game yang edukatif. Tapi saya kok belum sreg saja” tulis mom ini mengawali postingannya di milis We R Mommies. Menurut beliau, usia putranya masih terlalu muda untuk berkenalan dengan teknologi game seperti nintendo dan khawatirnya malah kecanduan. Karenanya beliau menanyakan pendapat mommies di WRM berkaitan dengan permainan game pada anak anak.

Tanggapan pertama datang dari seorang Mom berputra satu (6 th) yang bermukim di Amerika. Beliau dengan tegas menyatakan bahwa bila kasus itu menimpa dirinya, maka jawabannya jelas: tidak ada tempat untuk permainan semacam nintendo di rumahnya !. “Kalau komputer sejak awal saya tanamkan ke putra saya bahwa ini merupakan workstation. Komputer bukan hanya sekadar tempat main game. Dari komputer ia bisa berkirim e-mail, mengirim foto, mengirim hasil gambar, memprint hasil kerjaannya, hasil fotonya serta untuk mencari sesuatu jawaban atas keingintahuannya (dari mulai soal dinosaurus sampai solar system)” tulisnya. Menurut beliau, Nintendo player nya memang didesain khusus untuk game saja. Isi yang lainpun (edukatif maupun yang sifatnya game) ia rasakan hanya setengah setengah “bahkan yg ekstrim kok kayaknya menipu, setidaknya itu menurut saya”.

“Rasanya saya dulu juga gitu deh, berusaha selama mungkin mencegah agar si buyungku jangan sampai ‘dijajah’ ama gameboy. Masalah prinsip juga sih” tulis mom yang lain di awal tanggapan tentang tema diskusi game. Namun ketika usia 6 tahun, putranya mulai diajak oleh teman temannya main ke rumah mereka untuk bermain gameboy. Akhirnya saat mom ini mendapat bonus dari kantor, mereka memutuskan untuk membeli gameboy yang sudah lama putranya idam idamkan. Pada saat yang sama beliau membuat kesepakatan dengan putranya tentang perjanjian dan persyaratan bermain gameboy yang harus putranya penuhi. ” Ia boleh nonton tv, main game di komputer, sekarang ditambah dengan gameboy, (tetap) maksimal 1 jam sehari” satu syarat yang harus putranya penuhi.

Namun yang namanya permainan baru, tetap pada hari hari pertama waktu satu jam putranya hanya dihabiskan untuk bermain gameboy. Tapi akhirnya hal ini bergeser dengan sendirinya. Menurutnya, yang lebih sulit adalah menjaga peraturan agar persyaratan yang kita ajukan tadi terpenuhi semisal karena rasa iba atau kita sibuk dengan hal lain sehingga kita lupa waktu. Saat ini putranya telah berusia 9,5 th dan sejak 1,5 tahun lalu arena permainan elektroniknya telah bertambah dengan PS2. Kejadian yang sama pun berulang: ada perjanjian sebelum game baru digunakan. Hingga kini peraturan yang dibuat masih konsekuen dijalani seoptimal mungkin. Sejak PS2 hadir di rumah mereka maka putranya sendirilah yang menghitung alokasi penggunaan waktunya. ” Ide suami bikin perjanjian dengan anak untuk mengatur waktu dan gamenya rasanya sih bagus. Tapi pengawasannya itu tadi lho, siapa dan bagaimana upaya pengawasannya. Mengikuti peraturan secara konsekuen, apalagi kita sendiri yang membuat, mengartikan bahwa kita harus ikut menepatinya. Nah itu yang perlu sekali dipikirkan!” ulas mom ini mengakhiri postingannya.

Seorang mom yang kebetulan bekerja di bidang yang ada hubungannya dengan game juga menyarankan untuk menunda pemberian Nintendo DS pada anak balita mengingat game game Nintendo DS belum banyak yang mengandung unsur edukatif. “Menurutku juga nih anak umur 5 tahun kan belum dapat dikasih tanggung jawab untuk membatasi berapa lama ia bermain, kecuali bila ada orang yg benar benar strik mengawasi. Yang saya takutkan juga, anak seusia itu kan emosinya belum matang ya. Nanti dia malah kepikiran terus dengan game-gamenya dibanding hal-hal lain” pendapat mom satu ini. Beliau lebih menyetujui permainan berupa software software edukatif untuk komputer, walaupun pembatasan waktu tetap berlaku. Hal ini perlu dilakukan mengingat game ataupun yang bentuknya edukatif pasti menimbulkan rasa penasaran, dan akhirnya bila tidak ada campur tangan “pembatasan waktu” akan menjadi candu yang tak terkendali. “Bukan berarti saya anti game loh ya. Banyak sekali unsur-unsur positif dari game, seperti mengasah kemampuan analisa, kerja sama dll. Tapi ya itu pemilihan game harus selektif, disesuaikan dengan umurnya. Karena tiap game sebenarnya sudah memiliki rating sendiri (kecuali game bajakan yang memang sudah tak jelas ratingnya” tulis mom ini menutup diskusi tentang tema permainan game pada balita. (WRM/DAI)

July 19, 2005

Kapan Anak Diberikan Makanan Terpisah?

Filed under: Summary

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=485&Itemid=158

Mulai umur berapa sebaiknya anak mulai makan makanan yang dipisah pisah (sayur sendiri, lauk sendiri, nasi sendiri)? Pertanyaan ini ditanyakan oleh seorang mommies anggota milist We R Mommies beberapa saat yang lalu. Selain itu beliau pun ingin mengetahui lebih lanjut cara pembuatan resep resep sop seperti sop wortel. sop kacang merah dan jenis sop lainnya “apa sih yang harus diperhatikan?”.

Tanggapan pertama datang dari seorang mommies yang menceritakan pengalaman cara pengenalan makanan tambahan pada putrinya. Metode pengenalan makanan yang ia jalankan adalah sbb:

1. Pengenalan bubur nasi dari beras putih atau beras merah pada bulan ke enam usia anak. Dimasak hanya sedikit (kira kira 1 sdm), kemudian setelah masak bubur nasinya disaring. Setelah beberapa saat, porsinya ditambah menjai 2 sdm, 3 sdm dst. Semakin lama kekentalan bubur semakin ditambah. Bubur nasi tersebut beliau berikan pada pagi hari. Namun menurut info yang pernah ia baca, pengenalan makanan baru baik dilakukan pada saat malam hari.

2. Pada bulan ketujuh, anak mulai dikenalkan makanan lain: kentang, buah, sayur, tahu, tempe dll. Untuk mengenalkan satu makanan baru, biasanya makanan tersebut diberikan beberapa hari terus menerus agar si anak kenal akan rasa makanan barunya. Pada awalnya semuanya diberikan secara terpisah. Bila digabung, biasanya ia sertakan pula makanan yang telah putrinya kenal. Semua bahan tersebut melalui proses penyaringan manual dengan saringan. Saat itu putrinya sudah makan tiga kali sehari.

3. Pengenalan bubur yang tidak disaring dimulai di usia 8 bulan. Semua makanan dipotong dengan ukuran kecil kecil. Beliau mengatakan, pada periode ini ia menggunakan slow cooker, jadi semua makanan-termasuk sayur- menjadi empuk sekali. Pada usia ini, putrinya sudah makan 5 kali sehari termasuk snack.

4. Pada bulan ke sembilan, baru dikenalkan protein hewani. Cara pemasakannya juga dicampur, namun bentuk aslinya masih terlihat.

Menanggapi “makan terpisah” beliau menuliskan “Mungkin maksud yang terpisah-pisah itu, semua masih ada bentuk aslinya. Jadi anak dikenalkan dengan tekstur makanan sehingga mereka tidak malas mengunyah. Karena yang dikhawatirkan bila kita terlambat memperkenalkan makanan kasar, pertumbuhan rahang akan menjadi terhambat”.

“Kalau masak sop-sopan, biasanya semua bahan saya potong kecil-kecil disesuaikan dengan kemampuan mengunyah putri saya” tulisnya dalan menjawab pertanyaan tentang cara pembuatan sop pada anak anak. Beliau juga menuliskan bahwa ia tidak memberikan putrinya makanan instant yang tinggal ditambah air. Bila dalam keadaan repot, biasanya ia membeli gerber. Untuk snack beliau biasa memberikan produk jadi seperti biskuit, yoghurt dan ice cream. Menu sarapan pun bisa bervariasi, kadang cornflakes atau roti berlapis butter dan keju.

Penundaan pemberian telur juga perlu dipertimbangkan pada anak yang memiliki potensi alergi. “Dari awal hingga kini, makanan putri saya selalu dicampur.
Seperti menu hari ini: bubur+wortel+kacang polong+buncis+jagung+ayam+bawang bombay. Semuanya dimasak jadi satu, tapi ada teksturnya” demikian mom ini menutup postingannya di WRM. (WRM/DaI)

Pemakaian Anting Baru Pada Balita

Filed under: Summary

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=486&Itemid=157

Tema perawatan pada pemasangan anting baru menjadi topik yang ditanyakan oleh mom berputra tiga di milis We R Mommies ini. ” Jadi ceritanya begini moms, dua minggu yang lalu kami memasangkan anting baru pada putri kami (22 bl). Selama ini saya merawatnya hanya dengan mengoleskan baby oil. Dua minggu berjalan kupingnya baik baik saja, namun beberapa hari ini kok saya melihat kulit di sekitar antingnya menjadi merah ya. Jadi terlihat luka sepertinya. Kami jadi khawatir . Baiknya digimanakan ya, apa dicopot anting tembakannya, atau diganti anting benerannya atau dicopot saja semuanya ya?.” tulis beliau.
Tanggapan dari para mommies di milist WRM?. Kita simak yuk.

Mom yang bermukim di belanda ini memberikan pengalamannya. “Dulu juga anakku suka merah seperti itu, apalagi bila tidak menggunakan emas alias imitasi. Tidak hanya merah, tapi langsung borokan. Saat baru dipasang rasanya juga sering merah ” cerita beliau. Bila kulit nya sudah mulai memerah, beliau biasa memberikan salpe anti inflamasi, kortikosteroid. Diberikan tipis tipis hingga berhari hari, biasanya setelah dua kali oles akan sembuh. Perlu tidaknya dicopot sang anting baru, beliau menyarankan ya bila kondisi kulitnya hingga borokan. Namun bila hanya memerah, tak perlu.

Pengalaman “memerah” juga dialami mom yang memiliki dua putri ini ” Selama dua minggu sesudah ditindik, kuping anak anak saya olesi alkohol yang buat luka. Antingnya jangan dilepas, karena nanti lubangnya jadi tertutup lagi. Diperhatikan juga bila si anak menarik narik telinganya atau menggaruk. Karena kan itu luka yang mau sembuh, jadi wajar bila gatal dan agak panas rasanya. Bila nanti antingnya ditarik tarik, maka lukanya sulit untuksembuh”. Beliau juga menceritakan bahwa pada putri keduanya, ia memberikan alkohol pada kupingnya hingga lukanya kering dan kulitnya mulus. Agar tidak gatal, beliau juga pernah memberikan obat bebas untuk gatal gatal seperti hydrocortisone 1 %.

” Saya biasa memberikan putri saya minyak kelapa / minyak goreng baru bila bekas tindikan di kupingnya lecet lecet/merah. Tapi mungkin karena licin, putri saya sudah ganti anting empat kali jadinya. Lukanya sih sembuh tapi antingnya menjadi sering hilang karena antingnya berada di kuping yang licin” demikian tips yang mom ini berikan.

Pengalaman mom satu agak berbeda. Putri beliau ditindik sebelum usia tiga bulan, karenanya benar benar ditusuk menggunakan jarum suntik bukan menggunakan metode tembak yang kini sudah lazim dilakukan. Karenanya anting emasnya langsung dipakaikan di bekas tindikannya. Setelah beliau menindik putrinya, oleh sang bidan diberikan petroleum jelly. Jelly ini harus sering diberikan agar bila kulit bekas tindikannya tergeser geser anting tidak terlalu sakit.

Bila mommies sebelumnya membagi pengalaman tentang perawatan pemasangan anting pada putri putri mereka, mama mom member milist WRM ini menceritakan tentang pengalaman pribadinya. “Sampai saat ini bila bekas tindikannya merah dan gatal gatal memang inginnya sih menggaruk dan melepas anting. Namun gejala itu hanya ditemui bila saya sedang menggunakan anting imitasi atau anting emas kuning. Keluhan ini tidak dijumpai bila saya menggunakan emas putih. Sepertinya saya tidak cocoknya pada kedua jenis bahan anting tersebut. Nah bila sudah kambuh, saya selalu olesi dengak minyak tawon, allhamdulillah langsung hilang rasa gatal dan merahnya” tutup mom ini di postingannya.

Senada dengan mom di atas, mom ini pun menceritakan pengalamannya tentang tindik ulang. ” Saya pernah memakai anting imitasi terlalu lama dan lupa mencopotnya sehingga kuping menjadi merah dan gatal. Setelah dilepas, saya tidak memakai anting beberapa saat, akhirnya harus ditindik baru lagi. Perawatannya biasa saja sih. Memang sebisa mungkin bila menggunakan anting imitasi jangan terlalu lama, karena ternyata ada orang orang yang alergi dengan logam yang non emas dan perak, terlebih bila keringatan” tulis mom ini. Untuk mengatasi merah dan gatal pada penggunaan anting imitasi, beliau memberikan tips agar melepas semua perhiasan, kemudian kulit yang gatal tersebut dilap dengan air hangat, dikeringkan, kemudian diolesi dengan minyak tawon hingga gatal gatalnya sembuh. Kemudian bila gejala telah hilang, baru dikenakan anting kembali. (WRM/DAI)

Terimakasih, Yusuf Islam…

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=487&Itemid=64

Beberapa hari yang lalu saya dan suami sempat mengikuti acara dokumentasi perjalanan hidup Yusuf Islam alias Cat Stevens. Cat Stevens: eine Wahre Geschichte sebuah sendung 56 menit yang produksi oleh stasiun televisi ternama ORF di Austria, amat menarik untuk diikuti. Khususnya bagi saya yang memang teramat menyukai musik musik yang Yusuf Islam a.k.a Cat Stevens ciptakan.

Stevens kecil yang bernamakan Stephen Demetre Georgiou lahir di london, berdarah campuran Swedia dan Yunani. Sejak kecil ia jatuh cinta pada musik. Ia tuliskan lirik lirik ciptaan pribadinya yang kemudian dituangkan dalam alunan gitar. Karena matanya yang indah, banyak para teman teman wanitanya memanggil Stevens remaja dengan julukan “cat” alias kucing. Sehingga terciptalah nama Cat Stevens yang akhirnya ia gunakan tatkala masuk ke dunia seni.

Setelah terbilang sukses di awal perjalanan karirnya melalui managerisasi dari Mike Hurst, Cat Stevens sempat menghilang beberapa saat akibat penyakit tuberkolosis kronis yang ia derita. Namun keberadaan di rumah sakit selama beberapa saat ternyata tak memadamkan kreativitas yang ia miliki. Lima puluh lagu berhasil ia ciptakan setelah ia keluar dari perawatan intensif di awal th 1969. Dengan keyakinan akan mampu menaklukkan dunia musik era 60-an, ia menjanjikan pada manager keduanya, Barry Korst, untuk menghadiahkan sebuah Rolls Royce bila sang manager dapat menjadikannya nomor satu di tangga lagu pop pada masa itu. Akhirnya tak hanya Rolls Royce yang dapat Cat muda hasilkan, 40 juta album pun mengiringi kesuksesan karirnya di th 60′an dan 70′an. Lagu seperti “Morning has Broken”, “Father and Son” atau “Peace Train” menjadi Megahits di masa tersebut, bahkan menjadi lagu abadi yang selalu nyaman di telinga sepanjang masa. Teks teks lagu yang ia ciptakan tak hanya menandakan jeniusnya Stevens di bidang musik, lebih dari itu menggambarkan sifat kepeduliannya pada lingkungan dan alam sekitar. Bahkan sejak ia sembuh dari tuberkolosis kronis, ia bertekad tak ingin mati meninggalkan dunia tanpa mengetahui makna kehidupan yang dijalaninya. Di tahun 1974 ia pun menjadi duta kehormatan Unicef di Ethiopia.

Pencarian makna hidup melalui pendalaman beberapa agama dan kepercayaan yang ada, terus ia jalani. Bahkan mempengaruhi corak dan tema musik yang ia ciptakan. Di tahun 1975, David Gordon–kakak dari Cat Stevens- menghadiahkan Al Qur’an padanya, karena ia tahu betul bahwa sang adik sedang mencari kehidupan spiritual yang “pas” dengan keadaan jiwanya. Maka sejak saat itulah Stevens mulai berkenalan dengan Islam melalui Al Qur’an yang ia baca.

Kejadian traumatis di pantai Malibu tatkala Cat Stevens terbawa arus hingga makin menjauhi daratan dan hampir tenggelam, makin menyadarkan dirinya akan arti kepasrahan tulus padaNya. “Bila saya selamat ya Tuhan, maka saya akan menjalani hidup sebagaimana yang Engkau harapkan!” demikian berulang kali Cat Stevens memohon lirih di keadaan tubuhnya yang lemah. Tak lama kemudian datang ombak besar yang menghalau tubuh Cat Stevens makin mendekati arah pantai. Ia selamat!.

Di Mai 1978 secara resmi ia mengumumkan bahwa era Cat Stevens berakhir dan di tahun itu pula resmilah dirinya menjadi seorang muslim. Ia menggunakan nama Yusuf Islam, nama yang ia pilih karena kekagumannya akan kandungan yang terdapat di surat Yoseph dalam al Qur’an.

Melalui gadis muslimah pilihan orang tua, menikahlah Yusuf Islam. Ayah dari lima anak ini kini aktif dalam kegiatan kemanusiaan khususnya yang berhubungan dengan anak anak. Ia pun mendirikan sekolah islam di London yang bahkan disubsidi oleh pemerintah setempat.

Sebenarnya, di posting ini saya tak ingin menceritakan lebih banyak perjalanan hidup Yusuf Islam, karena saya yakin teman teman mungkin banyak lebih mengetahui dibanding saya. Terus terang saya lebih tertarik menceritakan pengaruh mengikuti perjalanan hidupnya di diri saya, tepatnya teguran pada ruhani saya pribadi.

Terbayang di benak saya saya akan kepasrahan total dirinya tatkala didera cobaan di ombak laut pantai Malibu, ah…betapa tulusnya, betapa pasrahnya. Pembicaraan hati dan mulut yang hanya diketahui oleh seorang Cat Stevens dengan Sang Pencipta, namun toh ia wujudkan dan laksanakan secara konsisten hingga saat ini, pun tatkala kekayaan, kemasyhuran tetap ada padanya. Bisakah saya berlaku demikian pula? Ah, tak sanggup rasanya menjawab.

Kekaguman saya pun bertumpuk melihat kekhusyu’an dirinya berkhalwat berduaan dengan Dia dalam mesjid sambil bercengkrama mesra dengan lembar lembar Al Qur’an yang ada di dua buah telapak tangannya. Keteduhan pun seakan menghiasi wajah dan perilakunya tatkala seorang Yusuf Islam menjalin kata, seakan terpancar keramahan islam ada di dalamnya. Semua nilai kebaikan berislam itu ada pada dirinya yang baru 28 th beragama. Duh..makin malu rasanya bila melihat diri ini yang telah dikaruniai nikmat beragama hingga di 31 tahun hidup yang telah saya lewati. Rasanya kebaikan yang tertinggal di diri masih tak terlalu banyak berbeda dari kemarin dan hari sebelum kemarin. Ah, merugi sekali diri ini. Sedih nian hati ini.

Kembalinya Yusuf Islam ke dunia seni yang ia yakini dapat menjadi duta yang baik untuk mengenalkan islam pada masyarakat dunia, juga duet terbarunya melalui “Father and Son” dengan Ronan Keating membuat saya kagum. Kagum akan keberaniannya mengambil sikap atas pendapat dan keyakinan yang ia miliki tanpa takut di cela dan dikritik oleh orang lain. Semoga sedikit banyak saya dapat mengambil pelajaran darinya.

Terimakasih Yusuf Islam akan pelajaran berharga dari berbagi kehidupan yang telah engkau jalani.

It’s not time to make a change,
Just sit down, take it easy.
You’re still young, that’s your fault,
There’s so much you have to go through.
…….

I was once like you are now, and I know that it’s not easy,
To be calm when you’ve found something going on.
But take your time, think a lot,
Why, think of everything you’ve got.
For you will still be here tomorrow, but your dreams may not. * (@DAI)

*”Father and Son” Song

**Fotos von Spiegel.de und ORF