May 26, 2005

Demam Pada Balita

Filed under: Summary

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=413&Itemid=158

” Semalam bayi saya badannya panas dan kami memberikan kompres dikepalanya. Pada pagi hari panasnya sudah mulai turun tapi suhu badannya masih hangat” tulis beliau mengawali tema demam pada bayi. Beliau juga menceritakan bahwa setelah berkonsultasi dengan dokter, putrinya pun divonis mengalami demam akibat flu mengingat suhu badannya masih berkisar di 37,8 derajat celcius. Karenanya resep obat berkategori antibiotik pun diberikan. “Dari beberapa literature yang pernah saya baca, katanya anti biotik akan membunuh aneka kuman yang ada dalam tubuh, termasuk kuman baik yang dapat menjadi sumber kekebalan bagi tubuh. Karenanya perlu tidak ya saya memberikan obat antibiotik yang telah diresepkan?” tanya beliau. Beberapa moms memberikan tanggapannya lewat milis WRM.

Mom yang beputra satu ini menyarankan agar pemberian antibiotika pada bayi yang demam ditunda terlebih dahulu. Menurutnya flu disebabkan oleh virus, dan virus tak akan pernah mati. Karenanya penyakit yang disebabkan virus seperti Hepatitis B, typhus, flu, dll tidak akan pernah dapat sembuh total. Saat tubuh si empunya lagi “down” maka virus itu akan muncul lagi mengganggu. Panas merupakan hasil reaksi tubuh bayi dan tubuh kita saat memerangi virus tersebut, dan hal tersebut adalah hal yang normal. Biasanya demam akan muncul beberapa hari. “Ditunda saja pemberian antibiotikanya mom” pesan mom ini saat menutup postingannya.

“Setahu saya, bila anak demam kita harus mencari tahu dulu apa penyebabnya. Bila hanya flu, saya pribadi tidak akan membawa anak ke dokter karena setahu saya flu akan sembuh sendiri setelah virus penyebabnya berhasil diatasi oleh tubuh kita. Jadi yang saya pantau biasanya hanya suhu tubuh anak. Bila telah mencapai 38,5° ke atas saya berikan suppositoria yg mengandung paracetamol. Karena penggunaannya lewat dubur maka efek obat tersebut langsung nampak dibanding obat minum” tulis mom satu ini. Selain itu beliaupun memberikan beberapa tips berkaitan dengan demam (dan segala gejala yang menyertainya) yang kerap di derita anak anak:

1. Perhatikan lendir yang ada di hidung anak dan usahakan agar ruangan dalam keadaan lembab. Bila dalam ruangan digunakan pemanas/hitter, maka berikan handuk basah untuk membantu keseimbangan kelembaban yang ada. Penggunaan minyak peppermint dengan pembakar khusus untuk aroma terapi juga amat membantu.
2. Perhatikan gerak gerik keseharian sang anak. Bila ia terlihat normal walaupun menderita demam, batuk ataupun pilek maka orang tua tak perlu cemas sepanjang demamnya tidak naik terlalu tinggi.
3. Usahakan agar si kecil mengkonsumsi cairan sebanyak mungkin untuk menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuhnya.
4. Buatkan sup ayam yang direbus lama agar kaldu keluar dari tulang ayamnya.
5. Bila hidung sang anak “mampet”, maka sedot lendir pilek yang terdapat di hidung. Bila anak agak sedikit besar, bisa digunakan alat penyedot lendir pilek namun bila masih bayi, maka penyedotan dengan mulut sang ibu biasanya lebih efektif. Pemberian obat tetes hidung juga patut untuk dipertimbangkan.

“Jadi intinya bila anak demam, perhatikan asupan cairan dan suhu tubuh. Tanpa diberi obatpun sistem pertahanan tubuh akan bekerja mengatasi virus yang mengganggu” demikian mom ini tekankan di akhir tulisannya. (DAI/WRM)

May 19, 2005

Menghadapi Anak Susah Makan

Filed under: Summary

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=402&Itemid=157

” Semenjak putri saya menginjak umur 3 tahun, duh sulit sekali bila disuruh untuk makan nasi. Kadang aku sampai kehabisan akal harus bagaimana lagi aku bertindak. Memang sih anakku kalau makan sedikit tidak seperti teman sebayanya. Tapi biasanya dia mau makan bila disediakan nasi atau bubur, namun kali ini ia sama sekali tidak mau. Aku bener - bener tidak tahu harus berbuat apa.” keluh mom ini di milis We R Mommies. Bahkan beliau menceritakan bahwa segala macam tips “pemacu” telah ia coba, dari Combantrin anak anak, perangsang nafsu makan, jamu tradisional temu ireng tetap saja tidak “mempan”. Tak hanya stop nasi, putrinya pun juga menolak segala macam makanan kesukaannya. ” Mungkin Momies pernah mengalami hal serupa, harus diberikan perangsang makan merk apa ya agar anak saya dapat makan seperti sedia kala?” tanyanya di akhir postingannya. Ikuti yuk saran para mommies yang bermunculan.

Salah seorang mom member milist WRM segera memberikan feed back dengan mengirimkan beberapa artikel terkait. Artikel tersebut dapat dilihat kembali di postingan mom tersebut di sini. Satu hal yang mom ini tekankan adalah hindari pemberian obat obatan yang sebenarnya tidak perlu. Beliau yakin gangguan makan ini biasanya bersifat sementara, nantinya pun akan ada masanya berakhir. Bila si kecil dibiasakan “didopping” oleh obat obatan, yang ditakutkan nantinya malah sang anak akan mau makan hanya bila ada obat.

Mom yang sedang merantau ini bahkan menyarikan artikel yang ada di majalan Parenting bulan Agustus th 2003 dan ditambah pengalamannya sendiri dalam menghadapi anak anaknya yang dapat dikategorikan “bermasalah” dengan makan. Hampir 40% anak usia di bawah lima tahun di US adalah picky-eater. Biasanya masa tersebut akan berlalu setelah memasuki usia sekitar 8-9 tahun. Beliau memberikan beberapa tips untuk “berdamai” dengan sang picky yang dapat dibaca di bawah ini.

1. “Don’t invest heart and soul in meal prep”: Bila anak-anak menolak makanan yang kita buat dengan bermandikan peluh, kita tidak perlu terlalu kecewa karena hanya berakibat buruk pada emosional kita.

2. “Make mealtime pleasant”: Ciptakan suasana menyenangkan dan hindari perhatian berlebihan pada aktifitas makannya. Anak saya yang super picky biasanya bila semakin diperhatikan, ditawari ini-itu, dirayu maka akan semakin dia bertahan pada pendiriannya.

3. “Serve miniature portions”: Sajikan dalam porsi kecil, untuk membangkitkan keingintahuannya. Menyajikan ala buffet (prasmanan) kadang menarik juga. Letakkan porsi kecil, misal 1 sdm per satu jenis makanan, sehingga ada 3-4 jenis makanan di piringnya.

4. “Spice things up”: Hal ini bahkan berlaku bila yang picky adalah toddler, karena kita kadang ragu untuk memberi si kecil makanan berbumbu “berat”. Biasanya orang tua akan cukup surprise saat melakukan eksperimen ini karena biasanya si kecil akan memberikan reaksi berbeda dari reaksi yang semula kita harapkan.

5. “Abide by the one-bite-rule”: Tips ini memang agak susah, terutama bila sang anak termasuk kategori “ngeyel” . Namun tidak ada salahnya dicoba agar si kecil dapat mencicipi segala jenis makanan, walaupun dengan sedikit kuantitas.

6. “Be sneaky”: Tips ini seperti yang sudah dibahas sebelumnya, yaitu kita hendaknya pandai-pandai membuat variasi masakan agar makanan mereka lebih bergizi tanpa mereka ketahui. Beberapa contoh yang mom ini berikan adalah sebagai berikut:
- masukkan veggie/sayuran yang diblender ke dalam saus spaghetti,
- masukkan beans yang diblender ke dalam daging giling untuk rolade,
meatloaf dll
- iris telur dadar dan cabbage tipis-tipis kemudian campurkan ke dalam
fried noodle,
- telur dikocok dicampur irisan tahu, diberi sedikti bumbu, didadar,
- Macaroni schotel plus sayuran,
- Lasagna bayam,
-dll

7. “Get creative”: Misalkan berikan nama makanan dengan hal-hal yang lucu, fantastic, hebat, dsb. Contoh : tree untuk broccoli. Sajikan dalam wadah yang unik, misal potongan buah di dalam cone ice cream. Atau buah ditusuk seperti sate.

8. “Encourage grazing”: Ada saat dimana anak-anak karena sibuk bermain atau lelah, mereka malah menjadi lapar. Saat itu sodorkan saja snack yang menyehatkan misal potongan buah, tanpa menyuruh mereka makan.

9. “Call on the power of sugar”: Taburi sedikit gula di atas makanan bergizi (misal : potongan pepaya ditaburi gula). Sebagai pengganti gula dapat juga digunakan madu. ” Anak saya suka sekali avocado yang dipotong kecil-kecil dan diberi madu. Sementara kakaknya, secara sembunyi-sembunyi, corn kesukannya suka saya tambahkan madu. Atau jagung manis + susu kental manis + mayonnaise” demikian mom ini memberikan contoh.

10. “Keep trying”: Bahasa Indonesianya : Maju Tak Gentar. Menurut expert, anak-anak biasanya memerlukan pengenalan paling tidak 10 kali sebelum benar-benar menyukai suatu makanan. Tapi jangan terlalu ambisius, misal untuk orang dari Sunda jangan terlalu mengharap anaknya menyukai leunca atau anak orang surabaya harus suka akan petis udang.

Mom ini pun juga mengingatkan agar tak melupakan ukuran perut si kecil yang memang kecil “Jadi kalau dia sudah makan seporsi kecil yang menurut kita belum mengenyangkan, bisa jadi ya memang sedemikian kapasitas perutnya. Apalagi bila mereka sering ngemil, akan semakin penuh saja perutnya”. Menurut seorang dokter, anak yang tidak suka makan akan jarang sekali berada di kondisi kurang gizi. Anak yang kekurang gizi biasanya adalah anak yang tidak disediakan cukup makanan, misalnya karena kehidupan kluarganya memang kurang mampu atau anak tersebut memang tidak terurus. ” So….Don’t worry, be happy!” demikian tulis mom ini di akhir postingannya. (DAI/WRM).

May 9, 2005

Info Baju Muslimah Untuk Gymnastik

Filed under: Summary

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=382&Itemid=164

Bagaimana sih cara berpakaiannya muslimah yang menggunakan tutup kepala saat melakukan olahraga khususnya gymnastik? Demikian tanya mom ini mengawali postingannya. Pertanyaan ini muncul karena sang mom jarang sekali melihat seorang berjilbab dalam pakaian olahraga yang sedang ia kenakan. Mari simak tanggapan para moms yang muncul di milist We R Mommies.

“Di sports centre Kota Wisata Cibubur sepertinya ada yang menjual tuh baju senam dan renang untuk wanita berjilbab” tulis mom ini dalam postingannya. Namun beliau pun sayangnya tak ingat bentuk pakaian olah raga yang ada. Karenanya beliau menganjurkan agar sang mom datang langsung ke sports centre tersebut.

Menurut mom satu ini, untuk senam biasanya digunakan baju senam biasa. Namun bagi yang bertutup kepala hendaknya dicari celana dan baju yang agak panjang. ” Menurut ku sih kalau ketat ketat sedikit, ya tidak apa apa. Namanya juga untuk olah raga” ungkapnya. Untuk topi, beliau biasanya menggunakan jilbab biasa yang hanya diikatkan ke belakang agar tidak lepas. Bahkan untuk praktisnya dapat digunakan model penutup kepala dari bahan kaos atau topi dari bahan kaos yang tetap dapat menutup kepala dan leher.

Demikian halnya dengan pakaian renang, hanya berbeda dalam hal bahan yang digunakan. ” Sekarang sepertinya sudah banyak yang menjual baju baju senam atau renang untuk wanita berjilbab; di ITC, mangga dua bahkan yang murah meriah di sogo jongkok samping ex kantorku (Ged.Landmark-Sudirman)” demikian info terakhir yang beliau berikan. (DAI/WRM)

May 3, 2005

Disiplin vs Kreativitas: Haruskah Menjadi Dilema?

Filed under: Summary

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=364&Itemid=158

Tema Disiplin vs Kreativitas menwarnai diskusi moms di milis We R Mommies beberapa minggu belakangan ini. Diawali dengan penuturan seorang mom yang menanyakan tentang batasan yang harus diperhatikan antara membebaskan kreativitas dan disiplin “merapihkan”. “Masalahnya anak anakku yang berusia 5 dan 3 tahun terlalu “aktif”, sehingga sepertinya tidak bisa melihat keadaan rumah yang sedikit rapih” tulis mom ini. Beliau juga menceritakan bahwa aktivitas kreativitas yang melibatkan aksi “obrak abrik” seluruh sudut rumah selain menggembirakan dirinya namun sekaligus menyusahkan sang mom. Tak lain tak bukan, sang mom lah yang terkena efek “rapih-rapih” hasil petualangan si kecil yang memiliki energi luar biasa. Beberapa tips “rapih rapih” sudah beliau coba, entah dengan trik kotak sedih - kotak senang, reward dan tips tips lainnya, namun nampaknya belum memberikan hasil yang optimal. Karenanya beliau menanyakan bagaimana cara efektif mengajarkan anak disiplin membereskan mainannnya tanpa mengganggu energi berkreasi yang anak miliki.

Tanggapan pertama datang dari seorang mom member milis We R Mommies yang mengisahkan kisah senada. Beliau menceritakan tentang “aksi kreatif” putrinya yang gemar sekali membongkar keranjang cucian dan tempat sampah. Tak hanya sebatas itu, putrinya pun menyukai kegiatan “bongkar bongkar” di lemari yang telah tersusun rapih. ” Aku jadi ingin bertanya, perlu tidak sih melarang anak yg terlalu aktif seperti saat ia bereksplorasi dengan keranjang sampah? Bila ya, bagaimana trik efektif menjalankannya?” tanya mom ini saat menutup postingan dengan tema terkait.

Aksi “bongkar bongkar” ternyata tak hanya terbatas pada si kecil dengan jenis kelamin wanita, karena mom satu ini pun mengisahkan “nasib” yang serupa menimpa dirinya. ” Aksi bongkar bongkar putraku tak hanya terbatas pada keranjang cucian, bahkan kotak mainan rasanya tidak pernah dalam keadaan rapih. Tak hanya itu, komputer dan laptop pun kini mulai menjadi sasaran barunya. Dan biasanya, bila dilarang maka akan semakin bersikeras putraku untuk mencobanya” ungkap beliau di milis WRM. Bila kondisi “berantakan”-nya sudah tak terkendali, maka mom ini biasanya langsung mengalihkan si kecil untuk beraktivitas yang lain. Bahkan bila nampak si kecil sedang mengeskplorasi keranjang cucian, mom inipun malah mengajak si kecil untuk kembali membereskan kembali hingga putranya merasa bosan. “Tapi benar tidak ya cara saya mengajarkan disiplin pada si kecil” tanya mom ini di akhir tulisannya.

Berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah bermunculan, mom ini menuliskan di WRM tentang hal berikut. Menurut beliau, sebaiknya orang tua jangan melarang anak saat ia melakukan aksi eksplorasinya (termasuk di dalamnya aksi bongkar bongkar). Namun bersamaan dengan itu, anakpun harus sedikit demi sedikit diajarkan untuk turut pula merapihkan mainan yang baru saja ia gunakan. ” Kalau saya biasanya melakukan sebuah trik. Bila si kecil menjatuhkan mainannya, maka kami meminta agar ia juga memasukkan mainan yang baru saja ia jatuhkan ke dalam kotak mainannya. Bila berhasil masuk, maka kami semua memberikan hadiah berupa tertawa lebar dan bertepuk tangan. Biasanya si kecil akan menikmati permainan tersebut” tulis mom ini. Menurut beliau, ajaran disiplin membereskan mainan buat si kecil adalah hal yang penting selain memberikan kebebasan pada si kecil untuk berkreasi.

Bagi mom satu ini, beliau meyakini bahwa memang ada masa masa sang anak gemar melakukan aksi “berantakan” dan “bongkar bongkar”. Namun ia yakin, satu saat masa ini akan berlalu. Untuk menanamkan kebiasaan merapihkan mainannya, beliau membagi tips berikut: ” Setiap anak saya telah selesai dengan satu permainan tertentu dan akan beralih ke permainan yang lain, maka mainan yang baru saja dimainkan harus terlebih dahulu dirapihkan” tulis beliau. Peraturan ini tak hanya berlaku di dalam rumah sendiri, namun juga harus dilaksanakan saat si kecil bermain di rumah orang lain. Biasanya seiring dengan bertambahnya umur, maka kekooperatifan sang anak akan bertambah.

Selain itu beliau menginformasikan tentang tips yang diberikan oleh Montessori dalam mengajarkan kebiasaan merapihkan mainan pada anak anak. Montessori menyarankan agar disediakan tempat sederhana yang mudah dijangkau oleh anak untuk menyimpan mainanannya. Tempat penyimpanan inipun harus dikategorisasi sehingga memudahkan anak untuk mengenal dimana mainan tersebut harus diletakkan. Salah satu keuntungan dari metode ini adalah sang anak akan mengetahui ditempat mana dapat dijumpai mainan/peralatan yang diinginkan.

Perihal “mengobrak-abrik” peralatan rumah tangga oleh si kecil yang memang sulit untuk dihindari, mom ini membagi tips dengan berusaha menjalin komunikasi dua arah dengan sang anak. “Nah kalau yang ini, saya hanya sering-sering mengatakan bahwa yang berkewajiban menjaga rumah dan
kebersihan adalah saya. Dan tugas itu dapat berjalan dengan bantuan semuanya, karena bila tidak demikian maka ibu akan repot, lelah dan akhirnya sakit” demikian mom ini membagi tipsnya. Mengikutsertakan sang anak dalam kegiatan rumah yang sederhana juga merupakan salah satu alternatif untuk mengajarkan anak tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kerapihan rumah. Selain sang anak merasa dilibatkan dalam upaya menjaga kebersihan rumah, merekapun juga dapat menikmati acara permainan “membantu ibu”.

Satu hal lagi yang mom ini biasa lakukan saat meninggalkan rumah: rumah harus sebisa mungkin dalam keadaan bersih dan rapih agar anak anak terbiasa dengan kondisi dan kebiasaan seperti ini. “Saya coba konsisten untuk hal ini, karena efeknya terasa sekali. Ketika pulang sehabis jalan-jalan atau pergi jauh biasanya kita akan merasa lelah. Nah bila saat masuk ke rumah mendapati ruangan dalam keadaan berantakan, biasanya emosi akan terpengaruh” papar mom satu ini. Intinya beliau berpendapat bahwa masalah disiplin memang benar-benar harus dimulai dari hal hal yang kecil. Peran orang tua sebagai teladan pun teramat penting, karena biasanya anak akan mengikuti dan mencontoh apa yang dilakukan oleh sang orang tua.

Hal di atas serupa pula dengan apa yang dilakukan oleh mom satu ini. Selain itu beliau juga setuju dengan prinsip merapihkan mainan terlebih dahulu sebelum beralih ke permainan yang lain. Beberapa alternatif yang beliau ajukan untuk strategi membiasakan tradisi merapihkan mainan adalah sebagai berikut:
1. Orang tua harus menjadi “bagian” dalam aktivitas merapihkan mainan agar terdapat leader dan fungsi teladan. Bila anak anak telah terbiasa, maka dapat dipercayakan kegiatan “rapih rapih” tanpa orang tuanya.
2. Jadikan acara “beberes” ini sebagai ajang permainan. Misalnya saat mengembalikan balok balok/lego, letakkan wadahnya kira-kira semeter (atau lebih tergantung usia anak). Lemparkan balok-balok lego itu ke dalam wadah. Setiap yang masuk mendapat poin 1 dan yang mendapatkan poin terbanyak akan diberikan reward tertentu seperti diperkenankan bermain komputer terlebih dahulu dll.
3. Lakukan pemilahan. Semisal si kakak memasukkan mainan berwarna hijau, si adik yang berwarna biru dan ibu yang berwarna merah. ” Orang tua harus pintar pintar melihat proporsi jumlah mainan menurut warna atau jenis atau pengelompokan lainnya supaya terkesan adil” demikian ungkap beliau.

Pendapat senada juga datang dari mom yang akan memiliki putra sarjana. Beliau menceritakan bahwa prinsip di atas juga berlaku di rumahnya. “Membereskan bersama adalah hal yang penting, terlebih bila baru saja ada kunjungan dari teman temannya. Di kamar mainnya adalah daerah kekuasaannya namun syaratnya ya tetap rapi. Ia saya izinkan untuk mencoret-coret dinding, jadi tembok benar benar penuh lukisan ala ‘Picasso’. Konsekuensi? Kamar di cat tiap 6 bulan sekali. Hasilnya beberapa tahun kemudian anakku ini tergolong anak yang cukup kreatif. Ia pernah ikut lomba poster untuk olympiade fisika mewakili
sekolahnya, lumayan jadi finalis. Terus jadi moderator atau apalah di web animasi, ikut lomba komik dan jadi redaktur untuk buletin di kampusnya. Dia juga bikin comic strips untuk buletin tersebut.” tulis beliau. Di postingannya berkaitan dengan tema ini beliau ingin menegaskan bahwa disiplin tidak harus berlawanan dengan kreativitas, namun dapat berjalan serasi dan beriringan.

Berbeda dengan pengalaman para moms yang setuju dengan aktivitas bersama merapihkan mainan, maka mom ini menilai dengan adanya “bantuan” semisal pembantu rumah tangga, maka anak anak cenderung akan tidak serius dalam melakukan aktivitas tersebut. Berbeda saat mereka tak ada asisten untuk membantu, maka biasanya mereka akan merasa bertanggung jawab terhadap mainan yang disentuhnya. Penggunaan schedule juga beliau tawarkan sebagai alternatif mengatasi “kepusingan” atas kondisi rumah yang berantakan akibat pengeksplorasian. “Saya misalnya mempunyai schedule per minggu/hari untuk cooking time, craft time, music time, quiet time, ‘playing outside’ time, dll. Pada saat cooking/craft/music (=messy time) itu, mereka boleh bereksplorasi apa aja, serupa dengan kita. Kitanya mungkin ikutan messy dan terlihat juga sedang bermain, padahal kita sebenarnya ‘mengontrol’ mereka supaya tidak terjadi mess up di luar kendali. Saya biasanya pilih pagi hari (dan sebentar di sore hari buat kakaknya yang baru pulang sekolah). Mengapa pagi hari? karena pagi biasanya jarang ada tamu yang tiba-tiba muncul. Biasanya rumah bener-benar messy sekali pada saat saat itu. Siang, saat quiet time, barulah rumah dibereskan. Semua painting, craft & any messed up tools disimpen di lemari yang tinggi. Saya katakan pada anak anak: everyone needs a privacy. Privacy-nya saya, ya biasanya waktu quiet time & tv time-nya mereka. Sejauh ini sih, mereka bisa menghargai” demikian cerita beliau.

‘Scheduling’ itu ternyata tidak hanya bermanfaat buat mom ini, namun buat anak anak beliau. Scheduling, rutinitas, batasan-batasan, ternyata memberi mereka rasa aman. Anak-anak memang butuh bereksplorasi dan berkreasi. Sejak diberikan waktu khusus dan difasilitasi untuk ‘messy,’ biasanya anak anak menjadi jarang melakukan aksi “berantakan” yang merepotkan.

Mom satu ini sebagai penganut one at the time juga menerapkan prinsip bermain satu satu “Jadinya kalau main tidak boleh semuanya. Harus dikeluarkan satu-satu”. Tentang aksi corat coret, beliau telah mengantisipasi dari awal dengan menyediakan terlebih dahulu kertas untuk menggambar, sehingga sedari kecil anak anak telah diperkenalkan media yang benar untuk menuangkan ide corat coretnya. Untuk semua mainan, buku milik anak anaknya, beliau meletakkannya dibawah sehingga mudah dijangkau oleh anak anak. Demikian halnya rak buku, sehingga saat anak anak selesai membaca, mereka dapat mengembalikan langsung ke tempatnya semula. Peraturan tersebut juga berlaku saat temannya berada di rumah dan saat anak anaknya bermain di rumah orang lain.

Dua moms yang lain bahkan menceritakan tentang suasana rumahnya yang tak pernah sepi dari eksperimen putra putrinya. Sulitnya, ketika terjadi proses “bargaining” untuk merapihkan mainan yang digunakan, maka yang muncul adalah adu argumentasi yang tak ada habisnya. Argumentasi ini tak hanya membuat sang moms “senewen” tapi juga sekaligus dapat mengundang senyum dan tawa. Kunci mengatasinya? “Tunggu saat anak anak sudah naik ke tempat tidur, baru proses “pembersihan” dimulai” tulis mom satu ini.

Ternyata tak hanya mom yang ada di dalam negeri yang menghadapi masalah “obrak abrik” si kecil, mom ini bahkan mengisahkan tentang keadaan rumahnya yang tak pernah tidak dalam keadaan “berantakan”. ” Waduh kadang kan kalau baru pulang kerja, rumah berantakan, tapi saya sih tetam mementingkan urusan memberi makan dan bermain bersama anak terlebih dulu. Baru beres-beres dilakukan setelahnya” demikian tulis mom dua putra ini.
“Ada saat anak anak boleh messy di rumah seperti saat painting, play dough, main dapur dapuran yang menggunakan air dan berbasah-basahan. Setelah selesai mereka harus ikut membereskan. Lalu barang barang itu disimpan ditempat yang mereka tidak dapat mengambil kembali, walau kadang tetap terjadi kecolongan” tulis mom ini mengawali postingannya. Beliau juga menekankan bahwa anakpun harus diajar bertanggung jawab atas perbuatan (termasuk messy) yang ia lakukan “Walaupun tidak sempurna, tapi yang aku inginkan mereka belajar bertanggung jawab juga”. Walau rumah biasanya di siang hari dalam keadaan berantakan, namun dengan bantuan suami sang mom, maka rumahpun dapat disulap menjadi sangat rapih saat sebelum menjelang tidur.

Mom satu putra yang bermukim di belanda ini bahkan berbagi cerita tentang kekreativan anaknya. “Tapi sepakat dulu ya, apa itu kreatif. Menurut yang punya dongeng katanya kreatif itu adalah cara-cara seorang anak memecahkan masalah dengan caranya sendiri. Jadi seringkali unik dan original. Kreatiflah yang membuat seorang anak fleksibel dalam segala hal, termasuk cara bermain. Anak yang memiliki kreatifitas sedemikian banyak, biasanya selalu memiliki banyak ide. Dan karena terlalu banyaknya ide, maka kadang orang tua dibuatnya susah karena ia ingin mencoba segala sesuatunya sendiri” cerita sang mom.

Anak yang kreatif kadang terlalu tidak sabar untuk mengetahu segala sesuatunya. Akibatnya kadang banyak barang ataupun mainan yang “rusak” karena keingintahuannya yang besar. Namun beliau berpendapat bahwa hal tersebut adalah salah satu bagian pengungkapan kreativitas yang sang anak miliki, karenya orang tua harus pandai pandai menyikapinya. Putra beliau yang tak hanya kreatif namun juga perfeksionis bahkan tak habis habisnya menguji kesabaran kedua orang tuanya “Bila ide kreativitasnya sedang ada di benaknya, ia mirip sekali dengan anak yang tak punya ide. Segala sesuatunya harus mirip dengan apa yang ia inginkan, tak boleh ada yang sedikit berbeda”.

Tak hanya sebatas menceritakan pengalaman sehari hari di rumah, beliau pun juga mengisahkan pengalaman yang ia alami saat mendampingi putranya menjalani rangkaian tes kesiapan anak sebelum masuk sekolah. “Saat ia berusia 4 tahun, anak saya diminta untuk menggambar boneka teddy bear. Ternyata putra saya hanya menggambar outline bonekanya saja, tak heran sih, karena putra saya memang tidak begitu tertarik dalam hal menggambar. Ia baru benar benar bisa menggambar teddy bear saat berusia 6 tahun dengan segala detailnya seperti jari jemari perut yang telah tertutup baju, kaki dengan jari, rambut dllnya” demikian tulis beliau. Disiplin menurutnya sulit untuk diterapkan pada putranya, kecuali aturan yang mungkin dibuat sendiri oleh putranya.

Mom satu putra dan satu putri yang sedang merantau pula memberikan pengalaman sehari hari dalam hal kreativitas dan disiplin pada anak anaknya. Di keluarga beliau berlaku aturan dasar: semuanya ada proses mulai-main-selesai, hal ini berarti bahwa setiap selesai satu mainan dimainkan maka langsung dibereskan, baru beralih pada mainan yang lain; permainan tertentu juga dilakukan di tempat tempat tertentu; sebelum berangkat tidur, semua sudah dalam keadaan rapih dan berada di tempatnya masing masing. “Itu aturannya. Tapi dalam pelaksanaannya, tetap tergantung sikon. Tergantung sepak terjang si kecil.
Kalau sedang deras ide kreativitas, kan biasanya akan terlihat, ya dibiarkan saja. Beres-beresnya terakhir aja menjelang tidur. Atau sudah ada kesepakatan sebelumnya bagaimana. apakah akan dibereskan saat itu juga, satu per satu atau sekaligus. Kalau bisa di pause, ya langsung beres beres saat itu juga” cerita sang mom.

Beliau juga menganggap penting kemampuan orang tua dalam membaca sikap anak. BIla “masa heboh” datang, baik sekali bila mainan dilokalisir dan anak diperkenankan untuk memilih akan main di ruangan mana. Namun selanjutnya si anak hanya terbatas main di ruangan tersebut ” Mau jungkir balik, bikin hutan belantara monggo, asal tidak keluar dari ruang itu. Jadi yang berantakan satu ruang itu aja. Kalau ada tamu, ya harus maklum tamunya. Begitulah keadaannya kalau ada anak di rumah. Kalau yang lagi berantakan ruang tengah, ya tamu harus mengungsi ke kamar”. Pelokalisasian tidak hanya bisa diterapkan pada anak yang sudah agak besar, namun juga pada si kecil yang masih bayi ” Daripada semua laci dan lemari dioprek-oprek dan aku kebanyakan ngomong ‘jangan’, lebih baik aku sediakan satu lemari “serba ada”. Bila anak anak sedang “full loaded”, langkah mengajak anak main di luar rumah sambil melakukan aktivitas permainan out door juga menjadi pilihan yang menarik.

Selain sikon, usia tentu saja mempengaruhi tahap pengenalan “awal-main-selesai”. Makin kecil sang anak maka jelas orang tua alam semakin capek dalam urusan “beres-beres”. Namun di sini tetap dituntut kekreativan sang orang tua dalam hal mengenalkan ” what,why, where, which, dan how - nya” dengan cara yang menyenangkan..”Untuk membantu anakku, aku usahakan mempermudah urusannya. Aku sediakan satu kotak/keranjang untuk satu jenis permainan, misal kotak puzzle, kotak konstruksi, kotak musik, dll. Jadi tiap dia ingin main sesuatu maka dia akan mengambil kotak itu aja. Setelah selesai, nanti dimasukin kembali ke kotak itu lagi, baru di taruh di tempatnya semula.” ungkap beliau. Untuk anak yang belum bisa membaca, strategi gambar di depan kotak juga merupakan cara efektif untuk mengajarkan anak mengidentifikasi tempat masing masing barang. Bila sang anak sudah mulai dapat membaca, gambar dapat diganti dengan tulisan. Hal ini memiliki keuntungan yang lebih dimana si kecil sudah dapat belajar mengkategorisasi dan matematika secara tidak langsung.

Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah fungsi teladan. Jangan harapkan anak akan disiplin dalam merapihkan mainannnya bila sang orang tua tidak berusaha menjalankan hal yang serupa. Konsekwen adalah hal yang patut pula diperhatikan untuk menjamin berlakunya kesepakatan yang berlaku ” Pernah kejadian, kita sudah sepakat agar anakku harus membereskan mainannya sebelum dia tidur. Eh ternyata dia tidak mau. Uh, adu mulut terjadi dan akhirnya dia merapihkan tapi sambil ngambek.Besok-besoknya aku tambahkan kesepakatannya: kalau dia tidak mau merapihkan mainannnya, aku yang akan membereskan tapi aku bereskan SEMUA mainannya. Lalu akan aku masukkan ke kantong plastik sampah yang besar dan aku taruh semua di gudang selama satu minggu. Hehehehe, rupanya yang ini manjur “. (DAI/WRM)