http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=294&Itemid=157
“Waktu kecil dulu, sekitar usia 7 tahun, sudah di SD, aku dan kakak pernah dimodalin ayah ayam petelur 2 ekor plus kandangnya. Nah ayam itu kita pelihara bersama tiap hari, sampai bisa bertelur tiap hari juga. Senengnya tiap hari bisa ngambilin telurnya, dan gak jauh jauh sih, jualnya ke ibu sendiri” demikian cerita mom yang pertama kali menanggapi topik ini. Dari berbagi pengalamannya, beliau ingin menekankan bahwa konsep wirausaha dapat dikenalkan pada anak dengan cara sederhana. Bahwa dalam berwirausaha diperlukan modal, ketekunan dan kemampuan mengenalkan produk sebaik mungkin pada konsumen pun dapat diperoleh dari contoh sederhana yang beliau kemukakan.
Mom yang lain membagi pengalamannya dari pengamatan langsung “anak boss” di tempat kerjanya. Beliau menceritakan bahwa sejak anak tersebut berusia 6 th, sang anak dibiasakan membantu usaha toko kelontong milik kakeknya. Saat mom ini menanyakan langsung pada atasannya alasan apa yang mendasari sang anak diikutkan membantu usaha dagang kakeknya, sang atasan menjawab “biar belajar dagang dan bersosialisasi dengan orang kebanyakan”. Dari cerita ini sang mom ingin menekankan bahwa salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengasah jjiwa wirausaha anak adalah dengan mengikutsertakan langsung sang anak dalam dunia perdagangan, agar anak dapat belajar sedikit banyak tentang dunia perdagangan itu sendiri.
Senada dengan pengalaman yang mom di atas ceritakan, mom ini pun setuju bahwa pelibatan langsung sang anak pada dunia usaha adalah salah satu trik jitu mengasah kewirausahaan pada anak.” Kalau pengalaman aku sih, sejak SD kita semua dilibatin untuk membantu di toko, kebetulan orangtua buka toko bangunan yang jadi satu dengan rumah tinggal. Jadi setiap pulang sekolah habis mandi, makan harus langsung membantu di toko. Begitu juga pada saat libur atau hari minggu kita semua diwajibkan untuk membantu jaga toko. Jadi hampir tidak pernah kelayapan” demikian beliau menuturkan pengalamannya. Namun beliau pun mengingatkan bahwa ada konsekuensi yang harus dipertimbangkan, yaitu sedikit hilangnya masa bermain. Namun menurutnya hal itu baginya tidak begitu merugikan karena akhirnya keuntungan yang beliau petik di masa dewasa amat bermanfaat “keuntungan yang aku petik sekarang ya, pada saat pertama kali terjun ke dunia kerja aku sudah tidak terlalu kagok . Dan kalau kita mau terjun ke usaha sendiri sudah tidak canggung”. Beliaupun menuturkan bahwa dengan metode pengajaran “praktikum” semasa kecil, maka beliau bersaudara akhirnya masing masing mampu menjalankan usaha wiraswasta di masa dewasanya.
“Aku bukan wiraswasta nih, tapi waktu kecil, dari SD aku tu seneng banget nyari duit ekstra. Pengalaman pertama aku wiraswasta tu, pas SD (kelas 2
atau 3 gitu…), kan lagi musim koleksi bulu ayam. Terus aku cobain warnain sendiri. Aku bikinnya banyak, jadi sisanya aku jual ke temen2, abis mereka seneng liat warnanya aneh2″ demikian tulis mom ini mengawali postingannya. Beliau juga menceritakan bahwa “usaha wiraswasta” nya pun makin berubah seiring dengan hitungan usianya: dari berdagang es mambo, penyewaan buku cerita, berdagang jepi rambut produksi pribadi, berdagang minuman bahkan hingga berjualaan makanan bila ada pameran di sekolah putranya pernah beliau lakukan. “Jadi kayaknya diliat liat dulu sama mom, minat anaknya ke mana. Kalo suka baca, bisa diajak bikin perpustakaan kecil-kecilan. Kalau suka masak, bisa diajak bawa makanan hasil karyanya ke sekolah. Asal nggak ganggu kegiatan utamanya aja. Jadi inget Sherina yang suka jual gambar komik buatannya” demikian ungkap beliau menutup tanggapannya berkaitan dengan tema wirausaha pada anak ini.
Bila kebanyakan mom yang lain menceritakan pengalaman masa kecilnya, mom ini membagi pengalaman wiraswasta kecil kecilan putranya. ” Kalau anak lelaki saya 10 tahun membuka perpustakaan kecil-kecilan di rumah…kalau siang, ia menggelar buku buku cerita. Tarifnya bila anak anak Rp 500, orang tua Rp
1000 (kalau baca di tempat ) dan bila bukunya dibawa pulang tarifnya lain lagi” demikian cerita sang mom. Beliau meyakini bahwa usaha kecil kecilan seperti yang putranya lakukan dapat menumbuhkan jiwa wirausaha yang putranya miliki.
Menutup tema diskusi ini, mom yang satu ini memberikan contoh pengamatannya pada jenis kegiatan wirausaha yang dilakukan oleh anak anak di negara tempat beliau merantau. “..aku sering liat para orang tua yang mengajarkan anaknya berwiraswasta dini, misal dengan ikut jualan di pasar loak. Barang barang yang dijual adalah barang barang sang anak sendiri yang mereka sudah tak perlukan, atau memang ingin mereka jual. Mereka menentukan harga sendiri, sehingga mereka merasakan kebanggan tersendiri” tulis beliau. Beliau juga mencontohkan salah satu kegiatan alternatif lainnya yaitu dengan mengikutsertakan sang anak pada acara bazar di sekolah. Di acara tersebut sang anak dapat menjual hasil karya kerajinannya dan sekaligus menentukan harga jualnya. Walaupun nantinya uang yang diperoleh masuk ke kas sekolah atau TK, namun upaya tersebut dapat sedikit banyak mengasah jiwa wirausaha yang ada pada diri sang anak. (WRM/DAI)