http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=349&Itemid=163
Tema Spiral menjadi bahan pertanyaan yang diajukan oleh salah satu teman mom yang telah menjadi member di milist We R Mommies. Beliau menuliskan bahwa sejak ia menggunakan spiral selama satu bulan, ia merasakan tak ada pengaruhnya saat melakukan hubungan suami istri. ” Aku jadi khawatir apakah spiralnya lepas!! . Tolong beritahu saya ya, entah mengapa saya merasa menjadi bodoh sekali” tutup beliau dalam pesan yang disampaikan oleh member milist WRM. Mari kita simak beberapa tanggapan para moms yang bermunculan.
” Saya sudah menggunakan spiral hampir 3 tahun. Selama ini hubungan suami istri tidak ada perbedaan dengan sebelum memakai spiral, malah lebih pe-de karena kemungkinan tidak menyebabkan hamil 99% ” tulis seorang mom yang menanggapi pertama kali tema ini. Bahkan beliau berpendapat bila tidak terjadi efek apapun yang mempengaruhi kualitas hubungan suami istri, hal itu menandakan efek samping yang baik dari penggunaan spiral.
Berbeda dengan mom di atas yang telah berbagi pengalaman tentang efek spiral pada hubungan seksualitas, maka mom members We R Mommies ini membagi pengalamannya saat berkonsultasi dengan dokternya saat pemasangan spiral. Menurut informasi yang beliau terima, setelah dilakukan pemasangan spiral untuk pertama kali, maka sebaiknya suami istri tidak melakukan kontak seksual terlebih dahulu selama satu minggu. Hal tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa spiral masih berada di tempatnya. Setelah masa “larangan”, maka coitus dapat dilakukan kembali, namun sebaiknya masih menggunakan alat kontrasepsi kondom untuk menghindari kehamilan yang tak direncanakan. Hal tersebut dilakukan sebaiknya dalam hitungan beberapa minggu. Setelah tiga bulan setelah pemasangan pertama, kontrol harus dilakukan untuk menjamin bahwa spiral masih berada di tempat semula. “Kalo memang ingin memastikan bahwa spiral masih berada di tempatnya, kita sebenarnya bisa mengecek sendiri dengan cara memasukan tangan bersih kita ke vagina. Bila kita dapat merasakan adanya string atau tali yang menggantung, maka berarti spiralnya masih melekat. Namun awas, jangan ditarik!” satu tips yang mom ini sampaikan untuk mengetes masih melekat tidaknya spiral dalam vagina. Selain itu, beliau mengingatkan agar setelah dilakukan kontrol 3 bulan, maka lakukan kontrol per 6 bulan, baru kemudian satu tahun sekali.
“Saya juga pakai IUD yang jenisnya Copper-T, segera setelah anak saya lahir. Dua setengah tahun kemudian dicabut. Tidak berapa lama kemudian lahir anak kedua kami. Berhubung dahulu saya tak menemui masalah, maka saya memakai lagi jenis yang sama. Alhamdulillah sampai sekarang saya juga tak menemui masalah apapun” ungkap mom satu ini menanggapi tema penggunaan spiral di WRM. Bahkan beliau menceritakan bahwa ia tak mengalami masalah hingga tahun ke enam setelah pemasangan. Air susu yang keluar pun lancar dan ia tak pernah mengalami infeksi seperti keputihan, panas ataupun sakit perut. ” Bahkan hubungan dengan suami tetap hot dan lancar” tutup mom dua putra/i ini saat menutup postingannya. (DAI/WRM).
http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=352&Itemid=157
” Anak pertamaku itu kidal/ left handed. Sejak kecil ia senang melakukan apapun dengan tangan kiri. Hingga pernah dahulu di playgroup saat disuruh gurunya memegang crayon dengan tangan kanan, ia malah ngambek, mogok dan tidak mau melakukan apa apa” demikian tulis mom ini mengawali pertanyaannya tentang Left-Handed di milist We R Mommies. Selain itu beliau juga menceritakan bahwa terdapat riwayat Left-Handed dalam keluarganya. Ada beberapa pertanyaan yang mom ini sampaikan berkaitan dengan tema ini, yaitu: perlu tidaknya merubah kebiasaan left handed; apakah left handed bersifat genetik; tips/trik yang dapat digunakan untuk mengarahkan sang anak menggunakan tangan kanannya;dan latar belakang terbentuknya left handed ditinjau dari segi medis dan psikologi. Tanggapan para moms di WRM? Mari kita simak bersama.
Postingan pertama yang menanggapi tema ini datang dari seorang mom member WRM yang menceritakan pula tentang pengalaman menyikapi Left-Handed di keluarganya. “Aku kebetulan besar di dalam keluarga besar yang menekankan penggunaan tangan kanan untuk “MOST OF ALL”things to do selain untuk berbersih setelah BAK dan BAB. Ini diperkuat oleh pengaruh lingkungan dan sekolah. Alhamdulillah ortuku tidak terlalu memasalahkan “TANGAN KIDAL” asalkan saat makan menggunakan tangan kanan dan menggunakan tangan kiri saat berbersih BAK dan BAB” tulis mom ini dalam postingannya. Menanggapi pertanyaan awal yang diajukan, beliau berpendapat bahwa teknik untuk menjelaskan pada anak bahwa being Left-Handed bukanlah satu kekurangan akan menentukan kepercayaan diri yang sang anak miliki. Karenanya ia bependapat, Left-Handed adalah hal yang tak perlu dirubah.
Menjawab pertanyaan kedua, beliau menuliskan “Setahuku Left-Handed berhubungan dengan fungsi otak belahan tertentu yang dominan pada seseorang. Biasanya seseorang kidal memiliki talent Matematik dan penguasaan logika yang kuat. Namun bila berhubungan dengan gen KIDAl (ada nggak ya), ada potensi berhubungan meskipun tidak mutlak”. Bagi beliau, penting sekali untuk memberikan kebebasan pada anak untuk menggunakan tangan kanan-kiri bersamaan bergantian. Namun tetap perlu diberikan penekanan bahwa pada penggunaan tangan untuk hal tertentu adalah penting, misalnya saat makan, bersih-bersih BAK, BAB. Tentu harus disertai alasan yang dapat diterima oleh nalar sang anak. Tentang pertanyaan terakhir, belia menyatakan tidak begitu memahami ” Aku lebih percaya bahwa kebiasan dan latihan seringkali melampaui talent dan bakat bawaan. Namun apa salahnya bila kita mendukung bakat bawaan, dengan tambahan pengarahan untuk hal-hal khusus?” tutup mom ini dalam akhir postingannya.
Berbeda dengan penuturan mom di atas, mom member We R Mommies ini mengisahkan bahwa ia dibesarkan dalam keluarga yang tak begitu “memusingkan” uusan tangan kanan dan kiri, walaupun di antara keluarganya tak ada yang Left-Handed ” Kita diajarkan bahwa tangan kanan dan kiri memiliki fungsi yang sama”. Dengan perjalanan usia, ia baru mengetahui bahwa etika yang beredar di masyarakat berbeda dengan norma yang ada di keluarganya, karenanya akhirnya ia dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan tangan kanannya dalam beberapa aktivitas yang ia lakukan. “Sampai sekarang, aku kadang masih lupa sering memberikan sesuatu pada orang lain dengan tangan kiri tanpa mengatakan maaf. Buat yang tak faham mungkin aku dibilang kasar dan tidak sopan. Namun bagi teman teman deket, sepertinya mereka sudah memahami dan memaklumi” papar sang mom saat menceritakan pengalaman sehari harinya.
“Anak ke tiga saya juga Left-Handed. Kakak kakaknya semuanya Right-Handed ” tulis mom ini saat menanggapi tema Left-Handed di milist WRM. Beliau menceritakan bahwa Left-Handed yang ada di diri putrinya mulai teramati saat sang anak berusia 1-2 tahun. Tepatnya tatkala sang anak mulai belajar menggunakan pensil. Namun kebiasaan ini sempat berubah saat dilakukannya “intervensi” dari guru di playgroup nya. Saat masuk TK, Left-Handednya muncul kembali karena guru yang mengajar mendukung sang anak menggunakan tangan kirinya untuk beraktivitas. Penggunaan tangan kanan tetap dianjurkan , namun hanya pada beberapa aktivitas tertentu seperti makan dan saat menerima/memberikan barang. Selain menceritakan pengalaman putrinya, beliau pun mengisahkan pengalaman keponaan beliau yang Left-Handed. ” Waktu kecil ia tinggal di Jakarta. Dia dipaksa memakai tangan kanan untuk semua aktifitasnya. Setelah SMA , dia ikut orang tuanya ke Kalifornia. Di sana dia diperkenankan memakai tangan kirinya. Saat ini, setelah ia berusia 25 tahun, ia menceritakan bahwa ia merasa tertekan di indonesia karena diharuskan menggunakan tangan kanan hanya atas nama tatakrama” demikian mom ini menutup postingannya.
Tanggapan selanjutnya datang dari seorang mom member We R Mommies yang dapat mengaktifkan kedua tangannya. ” Kalau aku, tangan kanan dan kiri bisa digunakan untuk menulis. Bila melakukan olah raga, tangan kiri lebih berperan penting. Namun bila makan, menerima barang, menulis, semua itu dapat aku lakukan dengan tangan kanan.” cerita mom ini. Menjawab pertanyaan awal di atas, beliau berpendapat bahwa perubahan semua aktifitas tangan kiri ke tangan kanan mungkin akan mengalami kesulitan “Mungkin kalau kebiasaan Makan, menerima barang itu perlu. Namun untuk aktivitas menulis, rasanya agak susah bila akan di rubah” . Dari informasi yang pernah mom ini dapatkan di siaran televisi, dikatakan bahwa kebanyakan orang orang left-handed adalah orang orang yang cerdas dikarenankan otak kanan mereka berfungsu teramat baik. Berkaitan dengan genetis tidaknya left-handed, beliau beropini bahwa left-handed biasanya akan terbentuk dari kebiasaan anak yang sedari kecil tidak dibiasakan mengaktifkan tangan kanannya. Karenanya salah satu trik yang beliau anjurkan adalah mengajarkan anak sejak dini untuk memegang benda dengan tangan kanan, sehingga tangan kanannya dapat “aktif”.
Mom satu ini menanggapi pertanyaan awal tema Left-Handed dengan penjelasan dan uraian yang cukup lengkap. Dalam menjawab pertanyaan “Perlukah merubah kebiasaan left-handed dan adakah pengaruhnya dengan stress yang akan timbul pada diri anak?”, beliau menuliskan bahwa dari banyak penelitian dengan tema terkait banyak yang menyarankan bahwa left handed tidak perlu di rubah. Hal ini tak lain karena sifat left handed berasal dari “lahir” alias tidak terbentuk dari pengaruh lingkungan/kebiasaan (Hardyck & Petrinovich, 1977; Sattler, 1992; Meyer, 1991) walau mekanisme bagaimana terjadinya seseorang left handed belum dapat dijelaskan oleh stand penelitian saat ini. Dari beberapa literatur yang sempat dibaca oleh member WRM yang memiliki tiga buah hati ini, walaupun mungkin dilakukan perubahan lewat proses pemanipulasian atau pemaksaan untuk menggunakan tangan kanan pada beberapa aktivitas (semisal saat menulis) dapat berhasil (Sattler, 1993a), namun biasanya hal ini membawa konsekuensi yang riskan terhadap otak. Bahkan para ahli mengkategorikan tindakan demikian sebagai “tindakan kekerasan pada otak” yang dapat berefek terhadap kelainan psikis (Sattler, 1985; Sattler, 1986; Sattler, 1995).
Para ahli banyak berpendapat bahwa seorang yang left handed tidak akan pernah bisa dirubah menjadi seorang yang right handed walaupun ia dapat tetap menggunakan tangan kanannya untuk beberapa aktivitas. Left - atau Right Handed akan tetap ada pada seseorang karena hal ini terkait langsung dengan dominansi bagian otak yang bekerja.
“Apakah kidal itu memang keturunan?”, pertanyaan ini dicoba dijawab oleh beliau dengan penjelasan berikut ini. Menurut para ilmuwan yang mendalami bidang ini (paling tidak dari stand research tema terkait hingga saat ini) disimpulkan bahwa leftt handed sifatnya genetis. Karenanya bila dalam keluarga ada yang Left-Handed, maka peluang anak kita left-handed juga ada, walau tidak mesti muncul (Hardyck & Petrinovich, 1977; Sattler, 1992; Meyer, 1991)
Tentang pertanyaan apakah perlu sekali dirubah ke Left-Handed an seseorang dan bagaimana tips/trik mengarahkan anak menjadi si tangan kanan, mom ini tidak dapat memberikan tips. Beliau berkeyakinan bahwa seseorang Left-Handed sebenarnya tidak perlu di rubah dan “kidal” bukanlah hal yang tak lazim. Mungkin untuk beberapa aktivitas yang tidak membutuhkan konsentrasi penuh, dapat saja tangan kanannya digunakan. Bagi beliau pribadi, pun bila putranya Left-Handed, maka fungsi tangan kanannya akan ia anjurkan untuk aktivitas aktivitas yang menurut kaidah religi memang dibutuhkan tangan kanan untuk bekerja, semisal makan (walau hal inipun tetap tidak dianggap tak perlu oleh para ilmuwan bagi para Left-Handed). Namun untuk aktivitas lainnya semisal menulis, melukis, menggambar, menggunting dllnya penggunaan tangan kirinya akan tetap beliau dukung.
Dalam mencoba menjawab pertanyaan ” Apakah latar belakang terbentuknya orang orang yang left handed? Adakah tinjauan medis / psikologi tentang hal ini?”, mom ini menginformasikan di milist We R Mommies bahwa bila dilihat dari tinjauan medis, left handed telah ditentukan oleh sebelum bayi lahir. Karenanya seorang bayi lahir sudah membawa “sifat” left handed atau right handed (Hardyck & Petrinovich, 1977; Sattler, 1992; Meyer, 1991) . “Untuk penjelasan psikologinya kebetulan saya tidak mengetahui” tulis beliau.
Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa di usia anak 1-2 tahun biasanya akan sudah dapat teramati dengan jelas apakah seorang anak left handed atau right handed karena kecenderungan dominasi tangan yang digunakan akan mudah teramati (Sattler, 1999c). Bahkan bila orang tua berkenan mengamati
anaknya secara intensif, di usia 6 bulan pun sudah dapat “terbaca” apakah anaknya left handed atau tidak. Bila perkembangan “penggunaan dominasi tangan” tidak tercampuri oleh faktor faktor luar seperti pendidikan (coba pakai tangan yang bagus nak untuk nulis..dll) atau penyakit/luka/kecelakaan, maka biasanya secara umum left handed atau right handed sudah dapat teridentifikasi di usia 3 tahun, paling terlambat di usia 6 tahun. Paling terlambat di tahun ketiga kehidupan anak. Seorang anak yang usianya lebih dari 4 tahun dan masih menggunakan kedua tangannya secara bergantian untuk aktivitas aktivitasya bahkan di negara tempat mom ini bermukim dianjurkan untuk berkonsultasi dengan para ahli agar dapat ditentukan left handed /right handed sebelum masuk SD dengan harapan agar si anak tak mengalami kesulitan dalam menjalani masa pendidikannya.
Menurut mom ini, salah satu konsekuensi riskan bagi otak akibat pemaksaan penggunaan tangan kanan bagi para left-handed biasanya akan berefek ke psikis. Pada beberapa aktivitas yang membutuhkan kecakapan motorik halus atau yang membutuhkan dominansi tangan maka akan berakibat stress yang berkepanjangan, bahkan bisa berakibat suicide. Di beberapa artikel yang pernah beliau baca, pernah dikisahkan bagaimana tersiksanya psikis seorang musician dan dokter gigi yang terpaksa menggunakan tangan kanannya walau mereka left handed (mengingat beberapa alat yang berhubungan dengan profesi tersebut tidak didesain sedemikian rupa sehingga “ramah” terhadap para left handed) .Karenanya di salah satu studi bahkan sempat diteliti korelasi antara left-handed dengan angka bunuh diri dan aggresivitas.
Info links on line juga mom ini tambahkan sebelum menutup postingannya di milist We R Mommies.
Catatan: untuk mencari artikel yang berkaitan dengan penelitian left handed bisa mom dapatkan dengan baik di Highwire (http://highwire.stanford.edu/) dan Medline (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=PubMed)
Beberapa Info Berkaitan dengan Left Handed:
Aggleton JP, Bland JM, Kentridge RW, Neave NJ (1994): Handedness and longevity: archival study of cricketers. British Medical Journal 1994;309:1681-1684.
Annett M (2002): Non-right-handedness and schizophrenia. Br J Psychiatry 2002 Oct;181:349-350. (http://bjp.rcpsych.org/cgi/content/full/181/4/349)
Bestebroer J, Kneepkens H, Pijpers W, Venema M (1999): Lefthandedness: Priviledge or disease? (http://www.fss.uu.nl/ms/jh/ms1home/f99p10.pdf)
Blatchley B (1998): Drawing on the right side of the conclusions: What neuroscience really says about the notion of left & right-brained humans.
(http://linus.highpoint.edu/%7Ebblatchl/essay/RightBrainLeft.html)
Bolterman H (2000): The left-hander’s dilemma. Good Old Days Magazine Nov 2000:37(11). (http://www.goodolddaysonline.com/pages/stories/archive_stories/
left_handers.html)
Boot E (2003): Left- and right-handedness in classic Maya writing-painting contexts. (http://www.mesoweb.com/features/boot/LeftRight.pdf.)
Bradley N (1992): British survey of left-handedness. Graphologist 1992;10(4):176-182. (http://www.wmin.ac.uk/marketingresearch/graphology/lefthand.htm.)
Britton K (2001): Inconveniences of being a lefty. Daily Trojan Oct 2001;144(41):4-14. (http://www.usc.edu/student-affairs/dt/V144/N41/02-left.41v.html)
Buckler CL (1999): The effects of environment and handedness on writing performance. (http://clearinghouse.mwsc.edu/manuscripts/104.asp.)
Chappell AS (2003): Left-handedness: A blessing or a curse? Medicine and Science in Tennis 2003 April;8(1):12-13. (http://www.stms.nl/april2003/artikel5.htm.)
Cooke J (1999): How and why our right and left sides differ.( http://www.nimr.mrc.ac.uk/MillHillEssays/1999/handedness.htm.)
Danto AC (1999): Handedness and post-modern art. (http://www.educause.edu/ir/library/pdf/EDU0003.pdf.)
Deutsch D (1978): Pitch memory: an advantage for the left-handed. Science 1978 Feb 3;199(4328):559-560. (http://www.philomel.com/pdf/Science-1978-199_559_560.pdf)
Ehrman L, Perelle I (1983): Laterality. Mensa Res J 1983;16:3-32. Eichberg H (2003): Rechte Hand, linke Hand und keine dritte. ìber die Zweiteilung politischer Positionen. (http://www.hirzel.de/universitas/archiv/eichberg.doc.pdf.)
Eidgenössische Technische Hochschule Zürich (2001): Griffarten beim Zôhneputzen. (ttp://www.zahnbuerstenergonomie.ethz.ch/text/Griffarten-1.pdf.)
Galobardes B, Bernstein MS, Morabia A (2001): Can the declining prevalence of left-handedness with age be due to smoking? Eur J Public Health 2001 Sep;11(3):352-353.
Gan L (1997): Left-handedness - a cause for concern? React 1997 Jul;1. (http://eduweb.nie.edu.sg/REACTOld/1997/1/7.html.)
Holder MK (2004): Teaching left-handers to write. Handedness Research Institute papers. (http://handedness.org/action/leftwrite.html.)
Jones GV, Martin N (2000): Handedness and heterogeneity in cognitive science. (http://www.cis.upenn.edu/~ircs/cogsci2000/PRCDNGS/SPRCDNGS/posters
/jon_mar.pdf.)
Klar AJ (2003): Human handedness and scalp hair-whorl direction develop from a common genetic mechanism. Genetics 2003 Sep;165(1):269-276. (http://www.owlnet.rice.edu/%7Ebios201/2003%20news/Hair%20whirls% 20handedness.pdf)
Largo RH, Fischer JE, Rousson V (2003): Neuromotor development from kindergarten age to adolescence: developmental course and variability. Swiss Med Wkl 2003;133:193-199. (http://www.smw.ch/pdf200x/2003/13/smw-09883.PDF)
Left-Handers Club (2002): Left-Handedness and career choices.( http://www.left-handersday.com/survey/Group_survey_analysis.pdf.)
Lüken U (2001): Das Rôtsel der Linkshôndigkeit. Referat. ( http://www.psychologie.uni-freiburg.de/einrichtungen/Neuro/Lehre/asym/uli/menu.htm)
Medland SE, Wright MJ, Geffen GM, Hay DA, Levy F, Martin NG, Duffy DL (2003): Special twin environments, genetic influences and their effects on the handedness of twins and their siblings. Twin Res 2003 Apr;6(2):119-130. (http://genepi.qimr.edu.au/staff/nick_pdf/CV346.pdf)
Reinhard C (2002): Wechselspiel der Hôndigkeit - Ist Ihr Kind Linkshônder? (//www.bildungsoffensive-bayern.de/imperia/md/content/pdf/els/6.pdf.)
van Mensvoort M (2003): Left-handedness: About the myth, the mystery, and the distinctions between both hands. (http://www.hand-in-hand.nl/hand/linkshandigheid%20Engels.htm.)
Zaman A, Moody W, Roberts N (2001): An fMRI study of the relationship between extent of cortical representation of left
and right hand, hand preference and hand performance. (http://www.mariarc.liv.ac.uk/posters/hbm2001/HBM2001-AZ2.pdf.)
Tanggapan berikutnya datang dari seorang mom member WRM yang Left-Handed. Beliau mengisahan bahwa sepanjang ia bermukim di indonesia, ia banyak menemui masalah dengan ke”kidal”annya. Masih banyak anggota masyarakat yang menganggap orang yang Left-Handed adalah golongan orang yang tidak memiliki sopan santun. Di tiap tahap pendidikan, ia pasti menemukan guru/dosen yang menegur dirinya karena ia menulis, menunjuk dan mengangkat tangan menggunakan tangan kiri. Hanya karena keluarga mendukung ke’kidal’an dirinya, maka ia merasa biasa saja. “Tapi ya demi ‘kesopanan’, aku kalo makan pake
sendok-garpu ya normal, garpu kiri, sendok kanan. Tapi kalau sudah makan yang menggunakan satu tangan (pakai tangan, makan sup, pakai sumpit, mengoles mentega, masak), pasti saya pakai tangan kiri” tulis beliau.
Beliau menyarankan agar anak jangan dipaksa menjadi Right-Handed bila ternyata ia Left-Handed. Hal ini pantang untuk dilakukan karena akan berakibat terjadinya pemaksaan kerja pada bagian otak yang lemah untuk melakukan pekerjaan pekerjaan pokok. “Yang jelas kalau aku boleh menyarankan, jangan sampai ada pemaksaan penggunaan tangan kanan bila sang anak kidal. Aku yakin secara otomatis anak akan menggunakan bagian otak/tubuhnya yang
dominan. BIla attern itu dirubah, repot” demikian tulis mom ini saat menutup postingannya. (DAI/WRM)
http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=350&Itemid=69

Buku Non Fiksi karya Torey L Hayden kali ini menceritakan tentang pengalaman Torey menghadapi Kevin, seorang remaja tanggung usia 16 tahun yang hampir setengah usianya menghabiskan waktu di lembaga perawatan mental dan panti panti asuhan.
Kevin hidup dalam dunianya sendiri dan memutuskan untuk memutuskan kontak dengan dunia luar dengan kebisuannya. Ia dijuluki dengan sebutan “Zoo Boy” karena tak pernah mengeluarkan sepatah katapun dan selalu mengurung dirinya di bawah meja yang dikelilingi oleh kaki kaki tempat duduk. Ia takut air, tak mau mandi dan tak mau berganti pakaian.
Datangnya Torey ke dunia Kevin membawa kejutan bagi semua orang: sedikit demi sedikit Kevin berbicara!. Bahkan lama kelamaan tingkah laku Kevin berubah tak seperti Kevin yang pertama kali Torey temui. Bersamaan dengan kooperatif-nya Kevin bersuara, maka terkuak pula sisi hitam masa kecil kehidupan Kevin. Monster yang selama ini terpenjara oleh kebisuan Kevin akhirnya muncul melalui perkataan, perbuatan dan tuangan karya lukis yang Kevin lakukan ketika menghabiskan waktu bersama Torey di ruang terapi. Melalui bakat menggambarnya yang luar biasa, Torey kerap dibuat bergidik dengan lukisan lukisan Kevin yang menggambarkan skenario kebrutalan yang teramat detail.
Kasus Kevin yang membawa Torey keluar masuk di kehidupan Kevin selama 2,5 tahun bahkan sempat membuat Torey frustasi mencari penjelasan dan jalan keluar masalah yang Kevin hadapi. Terlalu sedikit catatan tentang masa lalu Kevin. Tak ada penjelasan memuaskan mengapa Kevin begitu memiliki dendam membara, sekaligus memiliki ketakutan yang luar biasa. Dengan sedikit banyak bantuan koleganya–Jeff–, Torey akhirnya menemukan penjelasan kasus Kevin. Bahkan Toreypun berhasil mengumpulkan catatan yang terserak dari masa kecil Kevin. Darinya Torey mengetahui bahwa Kevin mengalami penganiayaan yang teramat parah di masa kecilnya. Penganiayaan yang dilakukan oleh ayah tirinya, yang bahkan sampai menyebabkan Carol–saudara wanita Kevin– meninggal dunia. Kevin membenci sungguh ayah tirinya. Kebencian sekaligus kecintaan Kevin pun menggunung pada ibu kandungnya, yang sama sekali tak berbuat apapun melihat penganiayaan yang suaminya lakukan. Dengan terkumpulnya informasi berharga tersebut, Torey mulai merancang jalan keluar agar Kevin tak lagi terkungkung oleh dendam kesumat dari masa lalu yang ia hadapi. Torey mencari jalan agar seorang Bryan yang selalu Kevin impikan dapat menjadi kenyataan.
Bagi saya pribadi, mengikuti pengabdian profesi Torey dalam menghadapi kasus Kevin amat membuat saya terpaku. Terlepas dari emosi Torey yang turun naik, Torey begitu sabar menemani Kevin memperbaiki hidupnya. Saya begitu terkesan ketika Torey mengajak pertama kali Kevin ke Restaurant setelah bertahun tahun Kevin tak pernah keluar dari dunia kecil yang ia ciptakan. Begitu sabarnya Torey menunggu restaurant tutup hanya untuk menunggu Kevin yang tak mau keluar dari bawah meja makan. Begitu tenangnya Torey menghadapi Kevin yang seringkali mengeluarkan kata kata pedas pada dirinya, walau sebenarnya dalam hati Torey sendiri bergejolak. Rangkaian kata Torey “In the wreck of this world, love still works”, “We can heal each other, if we listen“ teramat memukau. Tak heran bahkan Kevin pun teramat mempercayai Torey akan selalu siap membantu dirinya bila satu saat ia mengalami kesulitan “Weisst du, ich will von hier weggehen und immer glauben, dass du mir wieder helfen wuerdest. Ich will nicht wissen, ob du es tun wuerdest oder nicht. Ich will nur wissen, dass ich dich gefragt habe und dass du nicht nein gesagt hast.” (p. 320).
Mengikuti kisah Kevin sendiri membuat saya kembali diingatkan, bahwa kasih sayang, cinta dan didikan yang baik akan berpengaruh besar pada perkembangan emosi anak. Perilaku yang kita lakukan akan selalu teramati, dan kan disimpan baik di memori anak kita. Rekaman rekaman itu akan mengiringi perkembangan dirinya di sepanjang hidupnya, bukan tidak mungkin akan turut mempengaruhi tingkah laku dirinya di masa depan. Karenanya teramat bijak bila kita harus selalu memperhatikan tingkah laku kita baik dengan anak ataupun bersama anak.
Perpisahan Torey dengan Kevin bahkan membuat air mata saya menetes...“Er drehte sich um und lief den langen Flur hinunter, der an diesem Winternachmittag hell erleuchtet war. Und so begleitete ihm kein Schatten. Ich stand regungslos unter der Tuer und sah ihm nach. Als er am andern Ende des Flurs angekommen war, blieb er stehen, wandte sich um und winkte. “Wiedersehn, Torey” rief er. “Ich werde dich nicht vergessen” sagt er, bevor er verschwand. “Ich dich auch nicht Kev. Ich werde dich nicht vergessen”. Wiedersehn, Bryan. ” (p. 320). Satu penutup yang indah.
Bagi yang menyenangi liku liku terapi dan psikologi remaja, buku ini teramat menarik untuk dinikmati. (@DAI)
* Kevin kini berusia 30 th-an. Ia berhasil menjalani masa kedewasaan dengan sukses. Kevin telah berhasil lulus dari Highschool dan College. Ia bekerja di rumah sakit dan amat menyukai pekerjaannya. Kevin menikah dengan Sue dan kini memiliki 2 putra: Daniel dan Matthew. Kevin bertekad untuk tak menyia nyiakan hal yang terpenting dalam hidupnya: istri dan dua putranya. Ia ingin menjadi ayah yang terbaik bagi Daniel dan Matthew.
http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=331&Itemid=157
” Saya punya anak laki laki yang saat ini berusia 14 bulan. Bagaimana ya caranya mengajarkan untuk bisa BAB di toilet. Kalau untuk BAK sih, tiap 1/2 jam
diajak aja ke kamar mandi. Tapi untuk mendudukkannya di kloset utk BAB kok agak sulit, ya…?” pertanyaan seorang mom di milist We R Mommies mengawali diskusi tentang cara efektif melatih anak untuk melakukan “Toilet Training”. Tanggapan para mommies di WRM? Mari simak saran saran dari para mommies yang bermunculan.
Saran pertama datang dari mom yang memiliki putra usia 1 tahun. Beliau menceritakan pengalamannya dalam melatih si kecil melakukan toilet training ” Mulanya aku melatih anakku dengan potty yang berbentuk mobil mobilan. Mulainya pun saat anakku sudah dapat duduk tegak (sekitar umur 5-6 bulan)” tulis beliau. Menurutnya memang akan ada kesulitan saat pertama kali melatih, karena biasanya anak akan meronta. Namun bila anak selalu dilatih dengan sabar maka pasti kemungkinan akan berhasil. Keuntungan lain menggunakan potty adalah sang anak tetap dapat bermain saat melakukan BAB/BAK.
Untuk BAB di kloset, beliau mulai mengajarkannya saat si kecil berusia 10 bulan dengan menggunakan cover kloset tambahan (dapat ditemukan di toko khusus perlengkapan bayi). Satu hal yang menurutnya penting menentukan suksesnya toilet training pada anak adalah kemampuan orang tua untuk mengenali “gejala” si kecil yang akan berhajat.
Senada dengan mom diatas, mom satu ini menuliskan di milist WRM tentang tips penggunaan cover kloset tambahan. “Begitu muka si kecilku agak merah dan mulai mengejan, langsung aku bawa ke toilet, kemudian pasang covernya, anak didudukkan sambil dipegani” ungkap beliau. Tambahan bantuan berupa suara suara layaknya orang mengejan juga menjadi tips darinya agar sang anak “terpacu” untuk berhajat.
Berbeda dengan para mommies yang telah memulai putra/i nya melakukan toilet training di usia dini, mom anggota WRM ini menceritakan bahwa putranya mulai dilatih toilet training saat menjelang usia 3 tahun. Menurut beliau, kesiapan sang anak dalam melakukan latihan ini amatlah penting dalam menentukan keberhasilan program “pengontrolan” di diri anak. “Anakku dajarin musti pipis ke kamar mandi perlu waktu 2 minggu untuk mengerti. Sedikit dipaksa untuk tidak pake diapers dan tiap jam di tatur ke kamar mandi. Alhamdullilah……dia bisa langsung bilang pipis kalau akan BAK. Namun sempat “kebablasan pipis” di celana karena sudah tidak tahan. Hal itu terjadi beberapa kali saat sedang diajak jalan-jalan” demikian tulis beliau. Untuk BAB sendiri beliau menggunakan tips penggunaan pispot. “Aku mengambil kesimpulan bahwa bila ia akan BAB maka kakinya harus menyentuh lantai. Bila mengantung, sulit untuk mengejannya. Sejak itu anakku lancar menunaikan BAB dan BAK, walau tetap sulit untuk dibangunkan malam hari untuk BAK” tulis beliau dalam menutup postingannya. (WRM/DAI)
http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=318&Itemid=163
Tema ” Cara Mengatasi Efektif Ketombe” menjadi tema yang mom ini tanyakan dalam postingannya di milis We R Mommies (WRM) kali ini. Beliau mengeluhkan bahwa semenjak dirinya bermukim di negara empat musim maka masalah ketombe tak habis habisnya “menyerang”. Anehnya, saat beliau masih tinggal ataupun saat berlibur di indonesia, maka seketika itu pula hilang masalah ketombe yang memusingkannya. ” Tapi begitu pulang kembali ke Jerman si ketombe muncul lagi.. iihh pusing mikirin obatnya.. sudah pakai shampoo anti ketombe tapi tidak mempan.. sempat coba pakai lemon malah kulit kepalaku jadi perih Tolong dong mommies..” demikian beliau menutup postingannya. Mari kita simak satu persatu pendapat dan saran para mommies di milist We R Mommies yang bermunculan.
Tanggapan pertama datang dari seorang mom yang juga berbagi cerita tentang permasalahan ketombe yang suaminya hadapi. Beliau menginformasikan bahwa “penyakit ketombe” yang suaminya derita dapat “disembuhkan” dengan penggunaan shampoo anti ketombe merk Selsun Yellow keluaran Abbot. “Selsun Yellow itu cuma ia pakai 1 botol saja karena setelah itu biasanya tidak ada ketombenya lagi. Kemudian lanjutkan dengan penggunaan Selsun Blue” demikian saran
beliau.
Berbeda dengan pendapat mom di atas yang lebih menyarankan untuk menggunakan produk jadi/modern, salah satu mom di WRM ini mengusulkan agar menggunakan produk tradisional yang kemungkinan juga dapat ditemukan di setiap tempat. ” Aku dahulu ketika ketombean pakai jeruk nipis, ini resep tradisional dari ibu. Mungkin awalnya agak perih, namun khasiatnya memang terbukti ” ungkap mom ini. Selain itu beliau pun menekankan agar diteliti sumber pencetus munculnya ketombe, karena menurutnya faktor stress pun perlu diwaspadai dan berperan penting terhadap pembentukan ketombe.
Bila penggunaan jeruk nipis menjadi tips jitu mom di atas, maka mom members WRM ini menyarankan penggunaan nanas yang terbukti efektif padanya. “Sekali aku coba, hasilnya enak, terasa bersih. kedua kali, kepalaku gatal gatal dan perih. Mungkin nanasnya tidak boleh yang muda ya?? atau harus dicampur air terlebih dahulu agar tak begitu terasa perih ” demikian tulisnya. Selain itu beliau pun menyarankan pemakaian jeruk nipis dan santan kental untuk menghindari munculnya ketombe. Pemakaian dua produk alami tersebut juga membuat rambut bersinar. Selain penggunaan produk produk alami, hendaknya diperhatikan pula cara dan metode membersihkan rambut (keramas, red) “Biasanya shampoo aku tuang dahulu ke tangan, lalu baru ditambahkan air sedikit, kemudian digosok gosok, baru diratakan di rambut agar tak ada yang menumpuk di satu tempat. Membilasnya pun sebaiknya menggunakan air yang banyak. Caranya dengan disiram dari depan lalu bergantian dari belakang dengan posisi kepala menunduk, rambut disibak ke depan dan menyiramnya dari tengkuk ke depan. Satu lagi tipsnya, setelah keramas sebaiknya jangan langsung menyisir rambut, tunggu setengah kering dan gunakan sisir yang celahnya tidak terlalu rapat” tips yang beliau berikan saat menutup
postingannya.
Mom satu ini bahkan mencoba mengkaitkan dengan kemungkinan timbulnya ketombe dengan kelembabab udara yang rendah di eropa. Beliau menambahkan pula dalam postingannya di milis WRM, bahwa biasanya para pendatang dari negara negara yang memiliki kelembaban tinggi akan menghadapi masalah serupa saat tinggal di wilayah yang “kering” humaditasnya. Salah satu “treatment” yang beliau anjurkan adalah mengurangi kuantitas mencuci rambut hingga
dua hari sekali serta penggunaan jenis shampoo yang lembut dan konditioner. “Setelah keramas aku pakai hair tonic merk N**** untuk rambut berketombe dan 2 minggu sekali usahakan cream bath” ungkap beliau. Menurut pengalamannya, dengan perlakuan demikian terhadap rambut dan kulit kepala, maka masalah ketombe yang ia derita jauh berkurang. (WRM/DAI).
http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=298&Itemid=157
Semua anak pada dasarnya kreatif, namun bila orang tuanya tidak pro aktif atau tak memfasilitasi, maka akan padamlah kreatifitas sang anak, demikian pendapat mom yang memiliki dua putra/i ini. Karenanya dalam tema diskusi yang beliau awali, beliau menanyakan tips apa saja yang dilakukan oleh para orang tua yang telah terbukti dapat mengembangkan bakat kreativitas yang anaknya miliki. Selain itu beliau pun menanyakan tentang pengalaman moms di WRM berkaitan dengan upaya pengoptimalan kreativitas anak
Salah satu mom yang terbukti telah memiliki putra yang kreatif berusaha membagi pengalamannya. Biarkan Imajinasi Anak Berkembang, demikian tips pertama yang beliau sampaikan. Walau mungkin kita sebagai orang tua sudah memiliki bayangan hal apa yang akan dikerjakan, namun biarkan anak berimaginasi. Semakin “bebas” imaginasi yang anak miliki (asal tidak keluar konteks), maka akan semakin muncul ide ide yang brilyan. Selanjutnya beliau menekankan agar anak di arahakan untuk berpikir kreatif. Bila di awal sang anak pesimis untuk tidak dapat melakukan, maka orang tua harus membangkitkan motivasinya untuk mengatasi kepesimisannya. Di sini orang tua dituntut untuk dapat berpikir kreatif innovatif “Misalnya membuat robot kalo kita bayangkan aslinya memang susah, tapi misalkan kita kembali ke bahan bahan yg dimiliki. Kalau kita punyanya kotak susu, gulungan tissue toilet, sapu lidi, tempat jelly. Dari situ aja sebetulnya sudah bisa terbentuk badan robot. Tinggal pikirkan polesannya dan kesan hi-technya, misalnya” demikian mom ini memberikan contoh.
Kiat selanjutnya dari beliau adalah: Biarkan Anak Mengerjakan Apa Yang Ia Suka. Bila ada seorang anak yang tidak begitu menyenangi kegiatan gambar dan mewarnai, jangan pernah paksakan sang anak melakukan kegiatan tersebut. Dukunglah aktivitas yang sang anak suka dan minati, karena setiap anak pasti memiliki kecenderungan untuk menyukai suatu hal. Beliau mencontohkan tentang putranya yang lebih menyukai pembuatan sket dan illustrasi ketimbang acara gambar dan mewarnai ” Kalau ada yang menuangkan imajinasi melalui tulisan, putra saya menuangkannya melalui ilustrasi dan gambar”.
Biasakan Bermain dengan Bahan/Barang Yang Ada di Rumah, tips selanjutnya yang mom ini sampaikan. ” Mainan tidak harus beli kan? Inget nggak dulu kita suka main rumah-rumahan dengan kardus bekas, atau sarung yang diikat dari kursi kursi jadi atap rumah?” tulis mom ini saat menguraikan point ini. Di sini ditekankan bahwa alat dan bahan bermain sebenarnya dapat ditemukan di lingkungan rumah bila saja kita sebagai orang tua dapat sedikit berkreasi dan mengenalkannya pada anak kita.
“Terima Bongkar Tidak Terima Pasang”. Yang dimaksud di tips ini adalah biarkan sang anak mengeksplorasi hal hal yang membangkitkan keinginantahuannya, walau hal tersebut di mata orang tua tak lain merupakan tindakan “perusakan”. “Kadang kita mengeluh bila anak merusak mainannya. Ada saja yang copot. Tapi setelah aku pikir pikir, itu bagian dari proses belajarnya juga. Asal kita arahkan. Coba kalo copot begini, gimana benerinnya? Harus pakai apa? Kalau komponennya hilang, bisa tidak diganti dengan yang lain? Begitu seterusnya” cerita beliau.
Perlunya penyiapan fasilitas penunjang juga hal yang harus diperhatikan. Bila seorang anak menyukai kegiatan pembuatan gambar illustrasi, maka orang tua tentu harus menyiapkan kertas kertas dan alat tulis. Demikian halnya bila seorang menyukai pembuatan modelling, maka sarana sarana pendukung sudah selayaknya harus disediakan oleh orang tua. Selain penyiapan fasilitas penunjang, hal yang tak kalah pentingnya adalah penyiapan literatur pendukung karena melalui referensi pendukung inilah orang tua dapat memperoleh ide ide untuk mengasah kreativitas sang anak.
Tips terakhir yang beliau sampaikan adalah prinsip yang Kak Seto anut : Jangan hentikan langsung kegiatan kreatif sang anak dengan alasan apapun.
“Kalau anak sedang melakukan kegiatan kreatifnya jangan distop langsung dan disuruh tidur siang. Jadi kalo memang kepingin anaknya tidur siang, lebih baik diatur waktu berkreasinya, agar tidak bentrok dengan kegiatan lain yang membuat anak harus berhenti dari proses kreatif” tulis mom ini dalam menutup postingannya.
Pro Kontra yang muncul dari tips-tips yang telah di sampaikan oleh mom di atas hanya bermunculan di point yang terakhir : perlukah menghentikan kegiatan kreatif anak dengan alasan tertentu?. “Kalau proses kreatifitas lagi berlangsung, saya tidak stop….asalkan proses kreatifitas berlangsung positif misalnya menggambar, menulis, menyusun blok blok mainan. Distop kalau lagi ada aktivitas rutin yang harus dilakukan misal mandi, makan, minum susu ” demikian tulis mom ini. Keuntungan yang diperoleh dari “kebijakan” ini baginya adalah telah fleksibelnya tangan sang anak saat mulai diajarkan menulis, karena sang anak telah terlatih dari kegiatan menggambarnya. Berbeda dengan pemikiran mom di atas, mom ini juga menceritakan pengalaman yang hampir serupa walau tetap akhirnya terdapat “otoritas” orang tua untuk menentukan selesai tidaknya proses kreatif sang anak. (WRM/DAI)
http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=294&Itemid=157
Menumbuhkan jiwa wirausaha pada putranya yang berusia 6,5 th adalah salah satu pertanyaan yang diajukan oleh mom yang sedang merantau ini. Kapan waktu yang tepat mengenalkan kewirausahaan dan jenis kegiatan awal macam apa yang dapat diperkenalkan agar wirausaha yang ada terasah merupakan point diskusi yang dipertanyakan. Dalam menanggapi tema ini, mari kita simak pendapat para moms di WRM.
“Waktu kecil dulu, sekitar usia 7 tahun, sudah di SD, aku dan kakak pernah dimodalin ayah ayam petelur 2 ekor plus kandangnya. Nah ayam itu kita pelihara bersama tiap hari, sampai bisa bertelur tiap hari juga. Senengnya tiap hari bisa ngambilin telurnya, dan gak jauh jauh sih, jualnya ke ibu sendiri” demikian cerita mom yang pertama kali menanggapi topik ini. Dari berbagi pengalamannya, beliau ingin menekankan bahwa konsep wirausaha dapat dikenalkan pada anak dengan cara sederhana. Bahwa dalam berwirausaha diperlukan modal, ketekunan dan kemampuan mengenalkan produk sebaik mungkin pada konsumen pun dapat diperoleh dari contoh sederhana yang beliau kemukakan.
Mom yang lain membagi pengalamannya dari pengamatan langsung “anak boss” di tempat kerjanya. Beliau menceritakan bahwa sejak anak tersebut berusia 6 th, sang anak dibiasakan membantu usaha toko kelontong milik kakeknya. Saat mom ini menanyakan langsung pada atasannya alasan apa yang mendasari sang anak diikutkan membantu usaha dagang kakeknya, sang atasan menjawab “biar belajar dagang dan bersosialisasi dengan orang kebanyakan”. Dari cerita ini sang mom ingin menekankan bahwa salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengasah jjiwa wirausaha anak adalah dengan mengikutsertakan langsung sang anak dalam dunia perdagangan, agar anak dapat belajar sedikit banyak tentang dunia perdagangan itu sendiri.
Senada dengan pengalaman yang mom di atas ceritakan, mom ini pun setuju bahwa pelibatan langsung sang anak pada dunia usaha adalah salah satu trik jitu mengasah kewirausahaan pada anak.” Kalau pengalaman aku sih, sejak SD kita semua dilibatin untuk membantu di toko, kebetulan orangtua buka toko bangunan yang jadi satu dengan rumah tinggal. Jadi setiap pulang sekolah habis mandi, makan harus langsung membantu di toko. Begitu juga pada saat libur atau hari minggu kita semua diwajibkan untuk membantu jaga toko. Jadi hampir tidak pernah kelayapan” demikian beliau menuturkan pengalamannya. Namun beliau pun mengingatkan bahwa ada konsekuensi yang harus dipertimbangkan, yaitu sedikit hilangnya masa bermain. Namun menurutnya hal itu baginya tidak begitu merugikan karena akhirnya keuntungan yang beliau petik di masa dewasa amat bermanfaat “keuntungan yang aku petik sekarang ya, pada saat pertama kali terjun ke dunia kerja aku sudah tidak terlalu kagok . Dan kalau kita mau terjun ke usaha sendiri sudah tidak canggung”. Beliaupun menuturkan bahwa dengan metode pengajaran “praktikum” semasa kecil, maka beliau bersaudara akhirnya masing masing mampu menjalankan usaha wiraswasta di masa dewasanya.
“Aku bukan wiraswasta nih, tapi waktu kecil, dari SD aku tu seneng banget nyari duit ekstra. Pengalaman pertama aku wiraswasta tu, pas SD (kelas 2
atau 3 gitu…), kan lagi musim koleksi bulu ayam. Terus aku cobain warnain sendiri. Aku bikinnya banyak, jadi sisanya aku jual ke temen2, abis mereka seneng liat warnanya aneh2″ demikian tulis mom ini mengawali postingannya. Beliau juga menceritakan bahwa “usaha wiraswasta” nya pun makin berubah seiring dengan hitungan usianya: dari berdagang es mambo, penyewaan buku cerita, berdagang jepi rambut produksi pribadi, berdagang minuman bahkan hingga berjualaan makanan bila ada pameran di sekolah putranya pernah beliau lakukan. “Jadi kayaknya diliat liat dulu sama mom, minat anaknya ke mana. Kalo suka baca, bisa diajak bikin perpustakaan kecil-kecilan. Kalau suka masak, bisa diajak bawa makanan hasil karyanya ke sekolah. Asal nggak ganggu kegiatan utamanya aja. Jadi inget Sherina yang suka jual gambar komik buatannya” demikian ungkap beliau menutup tanggapannya berkaitan dengan tema wirausaha pada anak ini.
Bila kebanyakan mom yang lain menceritakan pengalaman masa kecilnya, mom ini membagi pengalaman wiraswasta kecil kecilan putranya. ” Kalau anak lelaki saya 10 tahun membuka perpustakaan kecil-kecilan di rumah…kalau siang, ia menggelar buku buku cerita. Tarifnya bila anak anak Rp 500, orang tua Rp
1000 (kalau baca di tempat ) dan bila bukunya dibawa pulang tarifnya lain lagi” demikian cerita sang mom. Beliau meyakini bahwa usaha kecil kecilan seperti yang putranya lakukan dapat menumbuhkan jiwa wirausaha yang putranya miliki.
Menutup tema diskusi ini, mom yang satu ini memberikan contoh pengamatannya pada jenis kegiatan wirausaha yang dilakukan oleh anak anak di negara tempat beliau merantau. “..aku sering liat para orang tua yang mengajarkan anaknya berwiraswasta dini, misal dengan ikut jualan di pasar loak. Barang barang yang dijual adalah barang barang sang anak sendiri yang mereka sudah tak perlukan, atau memang ingin mereka jual. Mereka menentukan harga sendiri, sehingga mereka merasakan kebanggan tersendiri” tulis beliau. Beliau juga mencontohkan salah satu kegiatan alternatif lainnya yaitu dengan mengikutsertakan sang anak pada acara bazar di sekolah. Di acara tersebut sang anak dapat menjual hasil karya kerajinannya dan sekaligus menentukan harga jualnya. Walaupun nantinya uang yang diperoleh masuk ke kas sekolah atau TK, namun upaya tersebut dapat sedikit banyak mengasah jiwa wirausaha yang ada pada diri sang anak. (WRM/DAI)