http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=283&Itemid=157
Seorang mom yang memiliki putra berusia 3 th menceritakan pengalamannya berkaitan dengan tema serupa. Sejak putranya kecil, ia telah mengenalkan sebutan “cucak rowo” untuk alat kelamin yang putranya miliki. Selain itu ia juga mengajarkan bahwa alat kelamin tersebut harus dipelihara baik baik karena bila tidak “cucak rowone” dapat mengalami masalah. “Kalo mandi aja dari kamar mandi ke kamarnya harus balutan handuk takut kalau terbang atau digigit tikus” tulis sang mom mengakhiri postingannya.
Mom yang lain berpendapat bahwa semua organ dalam tubuh kita tidak ada yang “jorok” karena semuanya memiliki manfaat. Seorang anak kecilpun sebenarnya belum dapat mengetahui definisi organ yang secara umum dikatakan jorok atau bersih. Karenanya pengenalan yang tepat terhadap organ tubuh yang dimiliki (baca: pada anak balita) adalah hal yang penting karena akan menentukan dasar pendidikan seksual yang akan ia miliki. Mom ini pun berbagi cerita saat melakukan proses pengenalan tersebut pada putrinya ” aku kasih tahu kalau tempat pipis anak laki-laki beda dengan perempuan bacanya sih anak kecil sudah diajarin kalau penis ya penis kalau vagina ya vagina bukannya dompet atau burung) begitu juga dengan ASI, aku bilang ASI bunda beda dengan ayah”. Pengenalan kata “malu” juga merupakan tips yang dapat digunakan untuk anak usia balita dalam mengenalkan sex education di usianya. Sehingga dengan demikian si kecil sedikit banyak akan mengetahui bahwa tindakan, misalnya, berlari lari tanpa pakaian, adalah satu contoh yang patut dihindari.
Senada dengan pendapat di atas, seorang mom menambahkan, bahwa biasanya saat seorang anak telah melewati usia satu tahun pertama, akan muncul secara otomatis keingintahuan atas perbedaan jenis kelamin yang ia miliki dibanding teman teman sepermainannya. Menurutnya , sex education terbuka adalah hal yang penting, demikian halnya dengan pengenalan nama organ kelamin laki laki dan perempuan dengan sebutan medisnya masing masing (penis dan vagina). Saat mengawalinya, mungkin orang tualah yang akan sungkan dan khawatir terjadi hal hal yang tak diinginkan. Namun bila sang orang tua menggunakan parameter alat tubuh dengan disertai gambar dan nada bicara yang wajar, maka kekhawatiran itu nampaknya tak beralasan. ” Jadinya peranan orang tua dalam mengenalkan suatu hal berperanan besar pada anak. Kalau kita over-reacting dan emosional maka anak-anak akan menanggapi minimal seperti orang tuanya, bahkan mungkin lebih reaktif ” demikian ungkap sang mom menutup postingannya.
” Kami setuju untuk mulai mengenalkan nama alat kelamin pria dan wanita dengan sebutan yang sesuai dan ilmiah, apa adanya saja kepada anak. Hal ini terinspirasi dari sharing parents di milis sebelah” tulis seorang mom. Pengenalan yang berulang terhadap organ kelamin itu menurutnya adalah satu hal yang perlu dilakukan agar anak mengetahui identitas yang ia miliki. Mungkin memang akan sulit diketahui apakah si kecil mengerti atau tidak tentang perbedaan kelamin tersebut, namun setidaknya orang tua telah berusaha mengenalkan perbedaan perbedaan tersebut dengan istilah yang benar. Menurutnya, pendidikan seks dari orang tua adalah hal yang penting karena dari orang tualah diharapkan sang anak mendapatkan informasi yang jelas dan benar tentang pendidikan seks.
Saat sang anak memasuki fase genital dimana ia senang sekali memegang alat kelaminnya, orang tua hendaknya menanggapinya dengan cara yang bijaksana. Memberikan penerangan kemudian menyediakan alternatif adalah salah satu cara yang terbaik saat menghadapi si kecil yang asyik “meneliti” organ kelaminnya. ” Vaginanya jangan diutak utik ya, tangan kakak kotor ntar bakteri masuk dan kakak bisa sakit…ambil boneka dora yuk mainan sama dora.” mom ini memberikan salah satu contoh saat ia menghadapi putrinya yang sedang mengalami fase tersebut. Menanggapi kekhawatiran mom yang bingung menghadapi tingkah laku putrinya, mom ini memberikan saran ” Jelaskan saja mbak kalau perempuan itu berbeda dengan laki-laki. Alat kelamin berbeda maka cara pipis pun berbeda. Ada baiknya dalam mengenalkan hal tersebut mbak tetep menjelaskan dengan tenang dan sabar, jangan kelihatan panik or gusar karena anak bakalan tambah penasaran”.
Hal inipun disetujui oleh seorang mom yang juga menyarankan agar si kecil dijelaskan tentang perbedaan jenis kelamin antara wanita dan laki laki dalam bahasa anak anak yang dapat dimengerti. Ia pun menyarankan agar mencari literatur berkaitan dengan tema pendidikan seksual, di antaranya adalah buku tentang pelajaran sex pada balita yang dapat ditemukan di Gramedia. “..or browsing aja ke www.tabloid-nakita.com sepertinya tema ini pernah dibahas juga….” satu tips terakhir yang ia berikan.
Mom lain juga mengomentari bahwa apa yang dilakukan si kecil adalah hal yang normal karena nampaknya ia sedang memasuki tahap genital dimana pusat kepuasan yang dimiliki ada di organ seks. Karenanya usahakan tanggapan yang orang tua berikan sewajarnya saja. Kekagetan, ketakutan serta kekhawatiran orang tua tidak perlu ditampakkan karena akan sedikit banyak berpengaruh pada psikologis anak saat menjalani fase genital ini. Rasa jijik dan tabu terhadap organ kelamin juga jangan sampai dikenalkan pada si kecil. Katakan saja padanya bahwa organ kelamin tak ada bedanya dengan anggota tubuh yang lain yang memiliki fungsi penting bagi tubuh, karenanya penting sekali untuk dijaga dan dipelihara dengan baik. Mom ini juga menekankan perlunya pengalihan perhatian si kecil saat ia mulai “asyik” bereksplorasi dengan alat kelaminnya. Ajak si kecil bermain, membaca buku, menyanyi, menari untuk mengalihkan perhatiannnya.
“Anak umur 10 - 24 bln rata rata sama aja..suka bereksplorasi. Anakku 11 bln, akhir akhir ini juga suka memegang penisnya (maaf..). Aku larang dia dengan mengalihkan perhatiannya ke mainan sambil bilang itu gak boleh karena penis kan buat kencing..Kita main bola aja,ya. Walaupun ia belum mengerti omonganku tapi nurut tuh langsung main bola…” tulis mom ini di awal tanggapannya terhadap tema ini. Dari artikel yang pernah ia baca, sejak berusia 10 bulan biasanya si kecil telah mengenal seks. Hal ini dapat diamati dengan aktivitas memegang organ kelamin yang ia miliki, menyentuh dada ibunya atau bahkan kadang mengutak atik duburnya. Karenanya tidak ada salahnya bila di usia tersebut orang tua mulai memberikan pelajaran seks dini pada si kecil, tentu dengan bahasa ilmiah yang sederhana. Penamaan organ kelamin dengan sebutan yang lain menurutnya bukanlah tindakan yang tepat karena anak sudah harus mulai dikenalkan dengan istilah sebenarnya sejak dini.
Mengenalkan cara pipis yang benar pada masing masing jenis kelamin serta perbedaan yang ada adalah satu hal yang penting dilakukan, demikian ungkap seorang mom yang lain. Bila sedari kecil anak dikenalkan dan diberikan penjelasan berulang tentang hal tersebut, mom ini yakin masalah “keinginanan meniru pipis lawan jenis” akan dapat teratasi. ” Jangan panik ya mom yang penting kita sabar menjelaskan dengan berulang-ulang, karena mereka kan belum mengerti jorok atau porno” tulis mom ini menutup postingannya.
Perlahan dalam mengajarkan; Kenalkan organ kelamin yang ia miliki ; Katakan bahwa organ vital ini harus dijaga baik baik dan tak boleh sembarang orang dapat menyentuhnya; Kenalkan dengan istilah malu; beberapa saran yang diajukan seorang mom saat mengomentari pengenalan pendidikan seks pada balita. Berkaitan dengan permasalahan “meniru pipis lawan jenis” ia berbagi pengalamannya ” Waktu umur 2 th, putriku pernah confuse gara gara suka ngeliat sepupunya (co), pipisnya berdiri. ehh dia ikut ikutan. Kalau mandi terus disuruh pipis ngga mau duduk lagi. Dia malah berdiri sambil megangin ‘V’nya [kayak anak cowok pegang penisnya]. Terus aku jelasin pelan pelan. akhirnya dia ngerti dan ngga ngelakuin itu lagi. Sekarang sih dia udah bisa bedain cowok dan cewek, dan udah tau klo cowok dan cewek punya genital yg beda”. (WRM/DAI)