http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=275&Itemid=157
yang mengalami masalah serupa dan tips apa saja yang dapat ia lakukan agar putrinya tidak mengalami kesulitan dalam mengenal angka dan huruf. Bagaimana pendapat moms di WRM? Mari kita simak beberapa sharing para moms di WRM.
Dalam menanggapi pertanyaan yang diajukan, salah satu mom kembali mengingatkan bahwa kepandaian anak tak hanya berdasarkan dari kepandaiannya dalam hal menghafal huruf dan angka saja. Mungkin saja seorang anak tak memiliki kepandaian di dua hal di atas namun mempunyai kelebihan di bidang lain seperti seni, sosial atau pengamatan pada alam. Beliau juga berpendapat bahwa memang tak ada salahnya mengharapkan seorang anak 3,5 th telah mengenal huruf 1-10 bahkan sampai 20, namun bila sang anak belum mampu hendaknya jangan sampai ada tindak pemaksaan. Dari posting mom tersebut, diinformasikan pula bahwa di kurikulum SD kelas 1 dan 2 saat ini baru menekankan pada belajar membaca dan berhitung. Karenanya upaya les baca tulis pada anak yang baru kelas 0 besar sebenarnya sudah agak berlebihan.
Adapula SD yang tak memaksakan bahwa anak harus telah dapat membaca ataupun menulis pada saat masuk kelas 1. Yang terjadi di kelas permulaan adalah sang anak diberikan stimulasi dan dukungan untuk dapat membaca dan menulis yang datangnya dari kegiatan bermain sambil belajar seperti membuat lolipop, bermain kelereng, bermain petak umpet dan melakukan perjalanan ke alam bebas.
Dalam menutup postingannya, beliau kembali menegaskan pentingnya orangtua untuk dapat mengenal jenis kecerdasan yang di miliki oleh buah hati kita sehingga kita dapat mendukungnya secara optimal.Link berikut ini dapat pula dijadikan referensi untuk mengenal jenis kecerdasan yang dimiliki oleh seorang anak: http://www.childdevelopmentinfo.com/learning/multiple_intelligences.htm.
Hampir senada dengan pendapat di atas, seorang mom kembali menegaskan bahwa standar kepandaian tak hanya berdasarkan dari pengenalan angka dan huruf. Bagi beliau, akan lebih membanggakan bila seorang anak cerdas dibanding hanya sekedar pintar. Mengapa? karena menurut beliau, kepintaran hanya akan berhubungan dengan kepandaian nya dalam mengingat hafalan, yang dapat saja hilang. Berbeda dengan kecerdasan yang akan berhubungan dengan logic berpikir
yang dimiliki. Anak usia 3,5 th masih memiliki banyak waktu untuk mengembangkan kecerdasan yang ia miliki.
Hal yang terpenting harus diingat oleh orang tua adalah jangan sampai terjadi pemaksaan pada anak, arahkan saja bakat yang anak miliki dengan mungkin diselingi dengan upaya pembenaran bila ada yang berjalan tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Metode Flashcard adalah salah satu tips yang jitu untuk mengajarkan anak angka dan huruf. Dengan mengajak anak melihat kartu kartu tersebut kala bermain pasti akan membuat acara pengenalan lebih efektif dan menyenangkan. Diakhir postingannya, ia pun juga menegaskan bahwa SD yang baik tak akan menuntut seorang anak harus sudah dapat membaca dan menulis saat pertama kali masuk sekolah.
Angka merupakan konsep yang abstrak, mungkin hal itulah yang menyebabkan kadang seorang anak memiliki kesulitan dalam mengingatnya. Demikian seorang mom mengawali tanggapannya berkaitan dengan tema ini. Beliau mengusulkan agar konsep abstrak ini diubah menjadi konsep real kuantitas. Sehingga dalam mengenalkan angka ditekankan pada kuantitas yang ia miliki dan pengenalannya pun tak urut,acak. Awalnya mungkin dikenalkan kuantitas 1 - 5 karena jumlah lima anak mungkin akan dengan mudah mengenalnya.
Gunakan benda yang ada di sekeliling kita, misalnya mainan kesayangannya, buah kesukaannya, dll. Sebagai upaya awal, beliau mencontohkan: ambil 3 buah benda, misal boneka. Katakan pada anak bahwa bonekanya ada tiga. Tunggu beberapa saat hingga anak mengerti bahwa boneka yang ia lihat ada tiga. Kemudian beri contoh yang lain dengan kuantitas yang sama. Setelah konsep kuantitas telah cukup jelas bagi sang anak, baru pindahkan ke angka. Kenalkan angka berdampingan dengan bendanya. Untuk membantu, bisa pula angka tersebut dibuat dari berbagai macam bahan. Misal angka satu dapat di gunakan kertas amplas, angka dua kain flanel dll. Mintalah anak untuk meraba angka angka tersebut dengan mengikuti bentuknya. Sebagaimana konsep belajar pada umumnya, pengulangan adalah satu keharusan. Semakin banyak sang anak berlatih, maka akan semakin banyak informasi yang akan terekam di otaknya.
Contoh yang lain dapat dilakukan dengan cara berikut. Minta bantuan anak saat menyiapkan peralatan makan. Gantungkan angka 1 hingga 5 dalam ukuran besar di dinding. Kemudian lakukan perlombaan berdiri di depan angka tersebut. Saat suatu angka disebut, maka anak berloma untuk berdiri di depannya. Akan lebih menyenangkan bila dalam perlombaan ini diselingi dengan alunan musik. Berikan waktu jeda antara start lari dengan habisnya waktu menentukan tempat berdiri. Dengan melakukan aktivitas ini, dua tujuan akan terlampaui: otak akan sehat dan demikian pula otot. Saat menutup postingannya, beliau menekankan agar orang tua benar- benar memperhatikan gaya belajar yang sang anak miliki: apakah ia memiliki gaya belajar visual, audio, taupun audio visual; apakah sang anak tipe aktif atau dapat duduk dengan tenang dll. Hal tersebut penting diketahui karena akan mendukung keberhasilan belajar yang akan sang anak jalani.
Salah satu mom menanyakan di awal tanggapannya terhadap tema ini tentang kemungkinan munculnya faktor kebosanan pada diri anak karena terlalu dipaksakan terhadap hal tertentu yang mungkin tidak diminatinya. Karenanya kembali beliau mengingatkan agar orang tua benar benar harus dapat mengenal minat dan kemampuan yang anaknya miliki. Seorang anak adalah individu yang berbeda dan unik, demikian halnya kecerdasan yang ia miliki. Standar kecerdasan anak yang hanya berdasarkan kemampuan dalam berhitung dan pandai matematika adalah satu kekeliruan karena terdapat jenis kecerdasan yang lain seperti; seni, spasialm bahasa dll.
Beliau menginformasikan pula bahwa otak manusia dibagi dua kategori: Otak Kiri untuk kemampuan bahasa, verbal atau numeric dan Otak Kanan untuk kemampuan visual dan kreativitas. Sebagai contoh ia menceritakan bahwa suami sang mom sejak kecil telah dididik untuk dirangsang kemampuan otaknya sesuai dengan perkembangannya.Kebetulan kemampuan Otak Kanan yang ia miliki lebih kuat, sehingga ia dapat menggambar dengan sedemikian baik serta kemampuan keseniannya amat mendominasi. Tak heran
bila di sekolah, kemampuan non-eksakta (eksakta = matematika, ilmu pasti) lebih tinggi dan ia memiliki daya kreatifitas yang tinggi. Sayangnya, kemampuan ini tak didukung oleh kurikulum sekolah kita yang umumnya lebih menggunakan parameter eksakta. Selain itu mom satu ini tak menyetujui dengan adanya kurikulum umum yang berlaku, di mana seorang anak dituntut untuk meraih prestasi dalam segala bidang untuk dapat dikategorikan seorang anak pintar yang meraih ranking satu. Menurutnya, akan lebih baik seorang anak dikatakan cerdas bukan juara kelas.
Menurut beliau, asupan DHA/AA dari susu formula serta gizi yang baik bukanlah merupakan satu satunya faktor dalam menentukan tingkat kecerdasan anak. Faktor stimulasi bahkan juga berperan penting dalam perkembangan kecerdasan. Biarkan anak anak bereksplorasi, karena dari sana kita akan dapat memperoleh banyak informasi minat dan bakat yang ia miliki. Dengan dasar informasi ini,maka akan lebih mudah bagi kita untuk dapat mengarahkan kemampuan dasar yang sang anak miliki. “Lagipula, kan masih 3,5 thn kan, mbak. Aku pikir mungkin gak perlu dikhawatirkan dulu. Diobservasi aja terus, bagaimana perkembangannya. Kalau nanti masuk SD masih begitu, mungkin perlu diamati, apakah ada indikasi ke arah disleksia. Tapi mudah2an nggak lah, mungkin minatnya dia aja gak ke situ (baca: matematis), mungkin ia lebih berminat ke arah hal-hal yang sifatnya visual” demikian mom ini menutup postingannya. (WRM/DAI)