March 25, 2005

Susah Mengenal Angka dan Huruf

Filed under: Summary

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=275&Itemid=157

Salah seorang mom mengeluhkan  tentang  putrinya (3,5 th) yang mengalami  kesulitan  dalam mengenal angka  dan huruf. Dengan berbagai macam metode yang telah ia coba, seperti membelikannya buku buku menarik  serta  kartu huruf dan angka, tetap putrinya mengalami masalah yang serupa. Karenanya ia menanyakan di forum, adakah  moms
yang mengalami masalah serupa dan tips apa saja yang dapat  ia  lakukan  agar putrinya tidak mengalami kesulitan dalam mengenal angka dan huruf. Bagaimana pendapat moms di WRM? Mari kita simak beberapa sharing para moms di WRM.

Dalam menanggapi pertanyaan yang diajukan, salah satu mom kembali mengingatkan  bahwa  kepandaian  anak  tak hanya berdasarkan dari kepandaiannya  dalam  hal menghafal huruf dan angka saja. Mungkin saja  seorang  anak  tak  memiliki kepandaian di dua hal di atas namun  mempunyai  kelebihan  di  bidang lain seperti seni, sosial atau  pengamatan  pada alam. Beliau juga berpendapat bahwa memang tak  ada salahnya mengharapkan seorang anak 3,5 th telah mengenal huruf  1-10  bahkan  sampai  20, namun bila sang anak belum mampu hendaknya  jangan  sampai  ada tindak pemaksaan. Dari posting mom tersebut, diinformasikan pula bahwa di kurikulum SD kelas 1 dan 2 saat ini baru menekankan  pada  belajar membaca dan berhitung. Karenanya upaya les baca tulis pada anak yang baru kelas 0 besar sebenarnya  sudah agak berlebihan.

Adapula  SD  yang  tak  memaksakan  bahwa  anak harus telah dapat membaca  ataupun menulis pada saat masuk kelas 1. Yang terjadi di kelas permulaan adalah sang anak diberikan stimulasi dan dukungan untuk  dapat  membaca dan menulis yang datangnya dari kegiatan bermain sambil belajar seperti membuat lolipop, bermain kelereng, bermain petak umpet dan melakukan perjalanan ke alam bebas.

Dalam menutup  postingannya, beliau kembali menegaskan pentingnya orangtua untuk dapat mengenal jenis kecerdasan yang di miliki oleh buah  hati  kita sehingga kita dapat mendukungnya secara optimal.Link  berikut ini dapat pula dijadikan referensi untuk mengenal jenis  kecerdasan yang dimiliki oleh seorang anak: http://www.childdevelopmentinfo.com/learning/multiple_intelligences.htm.

Hampir  senada  dengan  pendapat  di  atas,  seorang  mom kembali menegaskan  bahwa  standar  kepandaian tak hanya berdasarkan dari pengenalan  angka dan huruf. Bagi beliau, akan lebih membanggakan bila seorang anak cerdas dibanding hanya sekedar pintar. Mengapa? karena  menurut  beliau, kepintaran hanya akan berhubungan dengan kepandaian  nya  dalam mengingat hafalan, yang dapat saja hilang. Berbeda dengan  kecerdasan  yang  akan berhubungan dengan logic berpikir 
yang  dimiliki.  Anak usia 3,5 th masih memiliki banyak waktu untuk  mengembangkan kecerdasan yang ia miliki.

Hal  yang  terpenting harus diingat oleh orang tua adalah jangan sampai  terjadi pemaksaan pada anak, arahkan saja bakat yang anak miliki  dengan mungkin diselingi dengan upaya pembenaran bila ada yang  berjalan  tak  sesuai  dengan  apa  yang diharapkan. Metode Flashcard adalah salah satu tips yang jitu untuk mengajarkan anak angka  dan  huruf.  Dengan  mengajak  anak  melihat  kartu  kartu tersebut  kala  bermain pasti akan membuat acara pengenalan lebih efektif  dan  menyenangkan.  Diakhir postingannya, ia pun juga menegaskan  bahwa  SD  yang  baik  tak akan menuntut seorang anak harus  sudah  dapat  membaca  dan menulis saat pertama kali masuk sekolah.

Angka  merupakan  konsep yang abstrak, mungkin hal itulah yang menyebabkan kadang seorang   anak  memiliki  kesulitan  dalam mengingatnya. Demikian seorang mom  mengawali tanggapannya berkaitan dengan tema ini. Beliau mengusulkan agar konsep abstrak ini diubah menjadi  konsep  real  kuantitas.  Sehingga  dalam mengenalkan  angka  ditekankan  pada kuantitas yang ia miliki dan pengenalannya  pun  tak urut,acak. Awalnya mungkin dikenalkan kuantitas 1 - 5 karena jumlah lima anak mungkin akan dengan mudah mengenalnya.

Gunakan  benda  yang  ada  di  sekeliling  kita, misalnya mainan kesayangannya,  buah kesukaannya, dll. Sebagai upaya awal, beliau mencontohkan: ambil 3 buah benda, misal boneka. Katakan pada anak bahwa  bonekanya  ada  tiga. Tunggu  beberapa  saat  hingga anak mengerti  bahwa  boneka  yang  ia  lihat  ada tiga. Kemudian beri contoh yang lain dengan  kuantitas  yang  sama. Setelah konsep kuantitas  telah  cukup  jelas  bagi sang anak, baru pindahkan ke angka. Kenalkan  angka berdampingan  dengan  bendanya. Untuk membantu,  bisa  pula  angka  tersebut dibuat dari berbagai macam bahan. Misal angka satu dapat di gunakan kertas amplas, angka dua kain  flanel dll. Mintalah anak untuk meraba angka angka tersebut dengan  mengikuti  bentuknya. Sebagaimana  konsep  belajar  pada umumnya,  pengulangan  adalah satu keharusan. Semakin banyak sang anak  berlatih,  maka  akan  semakin  banyak  informasi yang akan terekam di otaknya.

Contoh  yang  lain  dapat  dilakukan  dengan  cara berikut. Minta bantuan  anak saat menyiapkan peralatan makan. Gantungkan angka 1 hingga  5  dalam  ukuran  besar  di  dinding.  Kemudian  lakukan perlombaan  berdiri  di  depan  angka  tersebut. Saat suatu angka disebut, maka anak berloma untuk berdiri di depannya. Akan lebih menyenangkan  bila  dalam  perlombaan ini diselingi dengan alunan musik. Berikan waktu jeda antara start lari dengan habisnya waktu menentukan  tempat  berdiri.  Dengan melakukan aktivitas ini, dua tujuan  akan  terlampaui: otak akan sehat dan demikian pula otot. Saat menutup postingannya, beliau menekankan agar orang tua benar- benar memperhatikan gaya belajar yang sang anak miliki: apakah ia memiliki gaya belajar visual, audio,  taupun audio visual; apakah sang  anak  tipe  aktif  atau  dapat duduk dengan tenang dll. Hal tersebut  penting  diketahui  karena  akan mendukung keberhasilan belajar yang akan sang anak jalani.

Salah  satu mom menanyakan di awal tanggapannya terhadap tema ini tentang  kemungkinan  munculnya  faktor  kebosanan pada diri anak karena terlalu  dipaksakan  terhadap  hal  tertentu yang mungkin tidak  diminatinya.  Karenanya  kembali  beliau mengingatkan agar orang  tua  benar  benar harus dapat mengenal minat dan kemampuan yang  anaknya  miliki. Seorang anak adalah individu yang berbeda dan  unik, demikian  halnya  kecerdasan yang ia miliki. Standar kecerdasan  anak yang hanya berdasarkan kemampuan dalam berhitung dan  pandai  matematika  adalah  satu  kekeliruan karena terdapat jenis  kecerdasan  yang  lain seperti; seni, spasialm bahasa dll.

Beliau menginformasikan pula bahwa otak manusia dibagi dua kategori: Otak Kiri untuk kemampuan bahasa, verbal atau numeric dan Otak Kanan untuk kemampuan visual dan kreativitas. Sebagai contoh  ia  menceritakan  bahwa  suami sang mom sejak kecil telah dididik untuk dirangsang kemampuan otaknya sesuai dengan perkembangannya.Kebetulan  kemampuan  Otak Kanan yang ia miliki lebih  kuat,  sehingga ia dapat menggambar dengan sedemikian baik serta  kemampuan  keseniannya amat mendominasi. Tak heran
bila di sekolah, kemampuan non-eksakta (eksakta = matematika, ilmu pasti) lebih  tinggi  dan  ia  memiliki  daya  kreatifitas  yang tinggi. Sayangnya, kemampuan ini tak didukung oleh kurikulum sekolah kita yang  umumnya lebih menggunakan parameter eksakta. Selain itu mom satu  ini  tak  menyetujui  dengan  adanya  kurikulum  umum  yang berlaku,  di mana  seorang  anak  dituntut untuk meraih prestasi dalam segala bidang untuk dapat dikategorikan seorang anak pintar yang  meraih  ranking  satu. Menurutnya, akan lebih baik seorang anak dikatakan cerdas bukan juara kelas.

Menurut  beliau, asupan DHA/AA dari susu formula serta gizi yang baik  bukanlah  merupakan  satu  satunya  faktor dalam menentukan tingkat kecerdasan anak. Faktor stimulasi bahkan juga berperan penting dalam perkembangan kecerdasan. Biarkan anak anak bereksplorasi, karena dari sana kita akan dapat memperoleh banyak informasi minat dan bakat yang ia miliki. Dengan dasar informasi ini,maka akan lebih mudah  bagi kita untuk dapat mengarahkan kemampuan  dasar  yang sang anak miliki. “Lagipula, kan masih 3,5 thn  kan,  mbak.  Aku pikir mungkin gak perlu dikhawatirkan dulu. Diobservasi aja terus, bagaimana perkembangannya. Kalau nanti masuk SD masih begitu, mungkin perlu diamati, apakah ada indikasi ke arah disleksia. Tapi mudah2an nggak lah, mungkin minatnya dia aja  gak  ke situ (baca: matematis), mungkin ia lebih berminat ke arah  hal-hal yang sifatnya visual” demikian  mom ini menutup  postingannya. (WRM/DAI)

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://myscratch.blogsome.com/2005/03/25/susah-mengenal-angka-dan-huruf-2/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>