March 31, 2005

Pengiriman Barang via Kontainer

Filed under: Summary

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=287&Itemid=164

Beberapa Hal Penting Berkaitan Dengan Pengiriman Barang Kontainer Ke Luar Negeri

1. Usaha sendiri dalam bentuk PT bukanlah hambatan dalam mengirimkan satu produk ke luar negeri dengan menggunakan kontainer. Hal ini dapat di trik dengan meminjam nama perusahaan yang sudah berdiri. Praktek ini sudah banyak dilakukaan, misalnya oleh para pengusaha kecil yang mengirimkan produk handicraft nya ke USA

2. Prosedur pembayarannya hendaknya diperhatikan. Lebih aman bila di awal dibuat terlebih dahulu Term of Payment dalam bentuk COD (Cash on Delivery), jadi si pembeli harus membayar nilai nominal produk terlebih dahulu sebelum dilakukannya pengiriman barang. Hal ini penting untuk dilakukan untuk menghindari terjadinya penipuan dan kecurangan di kemudian hari. Sekedar tambahan: bila kontainer yang membayar pihak pembeli biasa dinamakan Shipment by Collect, sedangkan bila yang membayar pihak penjual dinamakan Prepaid

3. Untuk menghindari terjadinya penipuan, buat terlebih dahulu Commercial Invoice nya 1 CNTR lalu kirim ke pembeli, bila disetujui lakukan TT ke bank penjual. Bila uang sudah diterima, baru barang dikirim. Jenis TT itu sendiri ada dua: TT in advance (lebih dianjurkan) dan TT remitance.

4. Pengiriman kontainer dengan cara “menumpang” pada Freight Forwarding juga dimungkinkan bila negosiasi Freigt Cost telah disepakati. Yang terpenting pula untuk diperhatikan adalah Term of Shipment yang tertulis.

5. Bila Freight Forwarding telah ditemukan, berikan spesifikasi tujuan, jumlah dan isi barang yang akan dikirim kemudian mintakan jenis penawaran yang ada serta dokumen yang dibutuhkan. Umumnya biaya yang dikemukakan adalah biaya pengiriman port to port, karenanya pengurusan barang keluar dari pelabuhan adalah tanggung jawab pembeli.

6. Khusus untuk pengiriman produk makanan, harus diperhatikan pula kelengkapan administrasinya semisal hasil uji lab, HACPP, sertifikasi mutu dll.

7. Akan lebih baik dalam pengiriman perdana dimulai dengan pengiriman dalam jumlah kecil misal dengan satu kontainer 20 feet. BIla prosesnya lancar dan pembayarannya tak mengalami masalah, maka kuantitasnya dapat ditambahkan secara bertahap.(WRM/DAI)

March 29, 2005

Pendidikan Seks Bagi Balita

Filed under: Summary

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=283&Itemid=157

“Aku terkejut sekali saat anakku sudah tahu nama alat kelamin punya anak cowok” tulis seorang mom dalam mengawali topik diskusi tentang pendidikan seks pada balita. Keterkejutannya tak berhenti sampai di situ, kegemaran baru putrinya yang mulai menambahkan ritual saat berganti baju dengan berlari ke sana kemari ditambah dengan gaya mengikuti lawan jenis saat berhajat kecil, cukup membuat sang mom kebingungan. “Wajar ngga sih bila pelajaran tentang sex sudah mulai diberikan ke putri saya?” tanya sang mom saat mengakhiri postingannya. Mari kita simak beberapa sharing para moms dalam menanggapi tema ini.

Seorang mom yang memiliki putra berusia 3 th menceritakan pengalamannya berkaitan dengan tema serupa. Sejak putranya kecil, ia telah mengenalkan sebutan “cucak rowo” untuk alat kelamin yang putranya miliki. Selain itu ia juga mengajarkan bahwa alat kelamin tersebut harus dipelihara baik baik karena bila tidak “cucak rowone” dapat mengalami masalah. “Kalo mandi aja dari kamar mandi ke kamarnya harus balutan handuk takut kalau terbang atau digigit tikus” tulis sang mom mengakhiri postingannya.

Mom yang lain berpendapat bahwa semua organ dalam tubuh kita tidak ada yang “jorok” karena semuanya memiliki manfaat. Seorang anak kecilpun sebenarnya belum dapat mengetahui definisi organ yang secara umum dikatakan jorok atau bersih. Karenanya pengenalan yang tepat terhadap organ tubuh yang dimiliki (baca: pada anak balita) adalah hal yang penting karena akan menentukan dasar pendidikan seksual yang akan ia miliki. Mom ini pun berbagi cerita saat melakukan proses pengenalan tersebut pada putrinya ” aku kasih tahu kalau tempat pipis anak laki-laki beda dengan perempuan bacanya sih anak kecil sudah diajarin kalau penis ya penis kalau vagina ya vagina bukannya dompet atau burung) begitu juga dengan ASI, aku bilang ASI bunda beda dengan ayah”. Pengenalan kata “malu” juga merupakan tips yang dapat digunakan untuk anak usia balita dalam mengenalkan sex education di usianya. Sehingga dengan demikian si kecil sedikit banyak akan mengetahui bahwa tindakan, misalnya, berlari lari tanpa pakaian, adalah satu contoh yang patut dihindari.

Senada dengan pendapat di atas, seorang mom menambahkan, bahwa biasanya saat seorang anak telah melewati usia satu tahun pertama, akan muncul secara otomatis keingintahuan atas perbedaan jenis kelamin yang ia miliki dibanding teman teman sepermainannya. Menurutnya , sex education terbuka adalah hal yang penting, demikian halnya dengan pengenalan nama organ kelamin laki laki dan perempuan dengan sebutan medisnya masing masing (penis dan vagina). Saat mengawalinya, mungkin orang tualah yang akan sungkan dan khawatir terjadi hal hal yang tak diinginkan. Namun bila sang orang tua menggunakan parameter alat tubuh dengan disertai gambar dan nada bicara yang wajar, maka kekhawatiran itu nampaknya tak beralasan. ” Jadinya peranan orang tua dalam mengenalkan suatu hal berperanan besar pada anak. Kalau kita over-reacting dan emosional maka anak-anak akan menanggapi minimal seperti orang tuanya, bahkan mungkin lebih reaktif ” demikian ungkap sang mom menutup postingannya.

” Kami setuju untuk mulai mengenalkan nama alat kelamin pria dan wanita dengan sebutan yang sesuai dan ilmiah, apa adanya saja kepada anak. Hal ini terinspirasi dari sharing parents di milis sebelah” tulis seorang mom. Pengenalan yang berulang terhadap organ kelamin itu menurutnya adalah satu hal yang perlu dilakukan agar anak mengetahui identitas yang ia miliki. Mungkin memang akan sulit diketahui apakah si kecil mengerti atau tidak tentang perbedaan kelamin tersebut, namun setidaknya orang tua telah berusaha mengenalkan perbedaan perbedaan tersebut dengan istilah yang benar. Menurutnya, pendidikan seks dari orang tua adalah hal yang penting karena dari orang tualah diharapkan sang anak mendapatkan informasi yang jelas dan benar tentang pendidikan seks.

Saat sang anak memasuki fase genital dimana ia senang sekali memegang alat kelaminnya, orang tua hendaknya menanggapinya dengan cara yang bijaksana. Memberikan penerangan kemudian menyediakan alternatif adalah salah satu cara yang terbaik saat menghadapi si kecil yang asyik “meneliti” organ kelaminnya. ” Vaginanya jangan diutak utik ya, tangan kakak kotor ntar bakteri masuk dan kakak bisa sakit…ambil boneka dora yuk mainan sama dora.” mom ini memberikan salah satu contoh saat ia menghadapi putrinya yang sedang mengalami fase tersebut. Menanggapi kekhawatiran mom yang bingung menghadapi tingkah laku putrinya, mom ini memberikan saran ” Jelaskan saja mbak kalau perempuan itu berbeda dengan laki-laki. Alat kelamin berbeda maka cara pipis pun berbeda. Ada baiknya dalam mengenalkan hal tersebut mbak tetep menjelaskan dengan tenang dan sabar, jangan kelihatan panik or gusar karena anak bakalan tambah penasaran”.

Hal inipun disetujui oleh seorang mom yang juga menyarankan agar si kecil dijelaskan tentang perbedaan jenis kelamin antara wanita dan laki laki dalam bahasa anak anak yang dapat dimengerti. Ia pun menyarankan agar mencari literatur berkaitan dengan tema pendidikan seksual, di antaranya adalah buku tentang pelajaran sex pada balita yang dapat ditemukan di Gramedia. “..or browsing aja ke www.tabloid-nakita.com sepertinya tema ini pernah dibahas juga….” satu tips terakhir yang ia berikan.

Mom lain juga mengomentari bahwa apa yang dilakukan si kecil adalah hal yang normal karena nampaknya ia sedang memasuki tahap genital dimana pusat kepuasan yang dimiliki ada di organ seks. Karenanya usahakan tanggapan yang orang tua berikan sewajarnya saja. Kekagetan, ketakutan serta kekhawatiran orang tua tidak perlu ditampakkan karena akan sedikit banyak berpengaruh pada psikologis anak saat menjalani fase genital ini. Rasa jijik dan tabu terhadap organ kelamin juga jangan sampai dikenalkan pada si kecil. Katakan saja padanya bahwa organ kelamin tak ada bedanya dengan anggota tubuh yang lain yang memiliki fungsi penting bagi tubuh, karenanya penting sekali untuk dijaga dan dipelihara dengan baik. Mom ini juga menekankan perlunya pengalihan perhatian si kecil saat ia mulai “asyik” bereksplorasi dengan alat kelaminnya. Ajak si kecil bermain, membaca buku, menyanyi, menari untuk mengalihkan perhatiannnya.

“Anak umur 10 - 24 bln rata rata sama aja..suka bereksplorasi. Anakku 11 bln, akhir akhir ini juga suka memegang penisnya (maaf..). Aku larang dia dengan mengalihkan perhatiannya ke mainan sambil bilang itu gak boleh karena penis kan buat kencing..Kita main bola aja,ya. Walaupun ia belum mengerti omonganku tapi nurut tuh langsung main bola…” tulis mom ini di awal tanggapannya terhadap tema ini. Dari artikel yang pernah ia baca, sejak berusia 10 bulan biasanya si kecil telah mengenal seks. Hal ini dapat diamati dengan aktivitas memegang organ kelamin yang ia miliki, menyentuh dada ibunya atau bahkan kadang mengutak atik duburnya. Karenanya tidak ada salahnya bila di usia tersebut orang tua mulai memberikan pelajaran seks dini pada si kecil, tentu dengan bahasa ilmiah yang sederhana. Penamaan organ kelamin dengan sebutan yang lain menurutnya bukanlah tindakan yang tepat karena anak sudah harus mulai dikenalkan dengan istilah sebenarnya sejak dini.

Mengenalkan cara pipis yang benar pada masing masing jenis kelamin serta perbedaan yang ada adalah satu hal yang penting dilakukan, demikian ungkap seorang mom yang lain. Bila sedari kecil anak dikenalkan dan diberikan penjelasan berulang tentang hal tersebut, mom ini yakin masalah “keinginanan meniru pipis lawan jenis” akan dapat teratasi. ” Jangan panik ya mom yang penting kita sabar menjelaskan dengan berulang-ulang, karena mereka kan belum mengerti jorok atau porno” tulis mom ini menutup postingannya.

Perlahan dalam mengajarkan; Kenalkan organ kelamin yang ia miliki ; Katakan bahwa organ vital ini harus dijaga baik baik dan tak boleh sembarang orang dapat menyentuhnya; Kenalkan dengan istilah malu; beberapa saran yang diajukan seorang mom saat mengomentari pengenalan pendidikan seks pada balita. Berkaitan dengan permasalahan “meniru pipis lawan jenis” ia berbagi pengalamannya ” Waktu umur 2 th, putriku pernah confuse gara gara suka ngeliat sepupunya (co), pipisnya berdiri. ehh dia ikut ikutan. Kalau mandi terus disuruh pipis ngga mau duduk lagi. Dia malah berdiri sambil megangin ‘V’nya [kayak anak cowok pegang penisnya]. Terus aku jelasin pelan pelan. akhirnya dia ngerti dan ngga ngelakuin itu lagi. Sekarang sih dia udah bisa bedain cowok dan cewek, dan udah tau klo cowok dan cewek punya genital yg beda”. (WRM/DAI)

Jurnal Seorang Nadiye

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=284&Itemid=69

Akhirnya tepat hari ini saya berhasil menyelesaikan novel non fiksi karya Nadiye Coskuner “High Tide Low Tide: A Journal of Manic Depression” di sela sela aktivitas harian yang tak kunjung habisnya. Novel pertama yang ditulis oleh Nadiye, seorang wanita 25 th yang memiliki darah turki plus bali, membuat saya makin mengerti dan berempati pada penderita depresi.

Di usianya yang belia, Nadiye akhirnya dapat menemukan kembali harapan dan tujuan hidupnya setelah menjalani bertahun tahun hidup berdampingan dengan manic depression yang ia derita. Ia mengungkapkan catatan pribadi dirinya secara detail di tapak perjalanan hidupnya dalam usaha mencari jawaban atas perilaku manic depression yang ia derita dalam buku ini. Seorang Nadiye yang menderita penyakit mood disorder –di mana 1 dari 100 orang yang berusia di atas 18 th kemungkinan mengidap penyakit tersebut– menggambarkan dengan gamblang di lembar lembar jurnalnya tentang perilakunya dapat berubah setiap saat dan sulit diperkirakan.

Dalam novel ini, saya juga turut hanyut bersama Nadiye; tatkala ia terombang ambing di dengan lautan kebingungan yang ia miliki kala mencari jawaban atas ribuan pertanyaan perilaku yang muncul di dirinya; ketika muncul pertentangan persepsi dirinya terhadap realita yang ada; saat muncul pasang surut emosinya dalam mencari jawaban kunci perbaikan perilaku manic depression yang ia derita. Melalui Jurnal ini pula, saya dapat berempati merasakan penderitaan yang Nadiye derita akibat trial-error obat obat kimia dari kalangan professional yang harus masuk dalam tubuhnya serta perjuangannya mencari pertolongan ke tempat lain karena ketidakmampuan “sistem” yang ada memainkan peran optimal dalam upaya kesembuhan dirinya. Perjalanan panjang menuju “stabilitas diri” yang akhirnya ia temukan dan keinginan dirinya membagi pengalaman agar dapat memberikan secercah harapan pada sesama penderita, cukup menggetarkan hati saya.

Dengan kekuatan cinta dan komitmen keluarga, Nadiye akhirnya mampu menemukan solusi sederhana atas perilaku manic depression-nya melalui kombinasi pengobatan dengan menggunakan asam amino dan vitamin-mineral, menggantikan obat obatan keras yang malah memperparah kondisi fisik dan batin Nadiye. Betapa beruntungnya Nadiye memiliki dukungan moril dan materil yang tak terbatas…

Dari membaca buku ini, diri saya seakan makin diingatkan, bahwa menjaga kesehatan diri (baca: jasmani dan ruhani) dengan berperilaku sehat adalah hal yang teramat penting dan merupakan modal utama dalam menjalani kehidupan. Segala intake yang masuk ke tubuh kita apapun bentuk dan jenisnya, pasti akan mempengaruhi tubuh kita: ini adalah pesan lain yang terekam oleh saya. Pentingnya exercise, stretch dan relax yang kadang saya abaikan keberadaannya sepertinya harus saya koreksi, karena kedudukannya teramat penting untuk mendapatkan kondisi tubuh yang optimal.

Up to date terhadap segala macam informasi adalah mutlak dilakukan, demikian yang Nadiye yakini. Kesadaran untuk mencari informasi terhadap apapun serta melakukan perbandingan darinya akan selalu menguntungkan diri. Saya juga disadarkan dari membaca jurnalnya bahwa menerima keadaan apapun, termasuk kekurangan (baca: dalam bentuk penyakit dalam hal ini) yang kita miliki adalah bijaksana. Namun hal itu tak harus menutup keoptimisan diri untuk mencari upaya penyembuhan dan perbaikan.

Terakhir dan mungkin pesan yang paling berkesan dari membaca buku Nadiye ini adalah pentingnya berserah diri total pada Dia, pun setelah kita berusaha; selalu berprasangka baik padaNya, pun di tiap kondisi diri kita…
” …I believe that because I maintained my awareness of my Creator, I was actually sustained and cared for by God. The most important thing for me is to have faith and trust God. I also believe that every single thing in my life happens for good reasons. Putting all my trust in God, I came to understand that what I experienced was actually used by God, for a good purpose in my life. Because God loves me, He allowed me to experience weakness and limitations so that in the end, I came to know that it was He indeed, who sustained me all the way” (Coskuner: p. 210-213
Ah Betapa indahnya…(@DAI)

*Sejak buku ini dicetak, Nadiye banyak menerima dukungan moril dari sesama penderita, keluarga maupun teman temannya baik di indonesia dan mancanegara. Ia banyak bertemu langsung dengan orang-orang yang mengalami hal serupa dengannya. Banyak dari orang tersebut yang telah terdorong secara positif oleh cerita Nadiye serta mendapatkan kesembuhan setelah menjalani terapi nutrisi yang Nadiye terima dari seorang dokter di US.

March 25, 2005

Susah Mengenal Angka dan Huruf

Filed under: Summary

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=275&Itemid=157

Salah seorang mom mengeluhkan  tentang  putrinya (3,5 th) yang mengalami  kesulitan  dalam mengenal angka  dan huruf. Dengan berbagai macam metode yang telah ia coba, seperti membelikannya buku buku menarik  serta  kartu huruf dan angka, tetap putrinya mengalami masalah yang serupa. Karenanya ia menanyakan di forum, adakah  moms
yang mengalami masalah serupa dan tips apa saja yang dapat  ia  lakukan  agar putrinya tidak mengalami kesulitan dalam mengenal angka dan huruf. Bagaimana pendapat moms di WRM? Mari kita simak beberapa sharing para moms di WRM.

Dalam menanggapi pertanyaan yang diajukan, salah satu mom kembali mengingatkan  bahwa  kepandaian  anak  tak hanya berdasarkan dari kepandaiannya  dalam  hal menghafal huruf dan angka saja. Mungkin saja  seorang  anak  tak  memiliki kepandaian di dua hal di atas namun  mempunyai  kelebihan  di  bidang lain seperti seni, sosial atau  pengamatan  pada alam. Beliau juga berpendapat bahwa memang tak  ada salahnya mengharapkan seorang anak 3,5 th telah mengenal huruf  1-10  bahkan  sampai  20, namun bila sang anak belum mampu hendaknya  jangan  sampai  ada tindak pemaksaan. Dari posting mom tersebut, diinformasikan pula bahwa di kurikulum SD kelas 1 dan 2 saat ini baru menekankan  pada  belajar membaca dan berhitung. Karenanya upaya les baca tulis pada anak yang baru kelas 0 besar sebenarnya  sudah agak berlebihan.

Adapula  SD  yang  tak  memaksakan  bahwa  anak harus telah dapat membaca  ataupun menulis pada saat masuk kelas 1. Yang terjadi di kelas permulaan adalah sang anak diberikan stimulasi dan dukungan untuk  dapat  membaca dan menulis yang datangnya dari kegiatan bermain sambil belajar seperti membuat lolipop, bermain kelereng, bermain petak umpet dan melakukan perjalanan ke alam bebas.

Dalam menutup  postingannya, beliau kembali menegaskan pentingnya orangtua untuk dapat mengenal jenis kecerdasan yang di miliki oleh buah  hati  kita sehingga kita dapat mendukungnya secara optimal.Link  berikut ini dapat pula dijadikan referensi untuk mengenal jenis  kecerdasan yang dimiliki oleh seorang anak: http://www.childdevelopmentinfo.com/learning/multiple_intelligences.htm.

Hampir  senada  dengan  pendapat  di  atas,  seorang  mom kembali menegaskan  bahwa  standar  kepandaian tak hanya berdasarkan dari pengenalan  angka dan huruf. Bagi beliau, akan lebih membanggakan bila seorang anak cerdas dibanding hanya sekedar pintar. Mengapa? karena  menurut  beliau, kepintaran hanya akan berhubungan dengan kepandaian  nya  dalam mengingat hafalan, yang dapat saja hilang. Berbeda dengan  kecerdasan  yang  akan berhubungan dengan logic berpikir 
yang  dimiliki.  Anak usia 3,5 th masih memiliki banyak waktu untuk  mengembangkan kecerdasan yang ia miliki.

Hal  yang  terpenting harus diingat oleh orang tua adalah jangan sampai  terjadi pemaksaan pada anak, arahkan saja bakat yang anak miliki  dengan mungkin diselingi dengan upaya pembenaran bila ada yang  berjalan  tak  sesuai  dengan  apa  yang diharapkan. Metode Flashcard adalah salah satu tips yang jitu untuk mengajarkan anak angka  dan  huruf.  Dengan  mengajak  anak  melihat  kartu  kartu tersebut  kala  bermain pasti akan membuat acara pengenalan lebih efektif  dan  menyenangkan.  Diakhir postingannya, ia pun juga menegaskan  bahwa  SD  yang  baik  tak akan menuntut seorang anak harus  sudah  dapat  membaca  dan menulis saat pertama kali masuk sekolah.

Angka  merupakan  konsep yang abstrak, mungkin hal itulah yang menyebabkan kadang seorang   anak  memiliki  kesulitan  dalam mengingatnya. Demikian seorang mom  mengawali tanggapannya berkaitan dengan tema ini. Beliau mengusulkan agar konsep abstrak ini diubah menjadi  konsep  real  kuantitas.  Sehingga  dalam mengenalkan  angka  ditekankan  pada kuantitas yang ia miliki dan pengenalannya  pun  tak urut,acak. Awalnya mungkin dikenalkan kuantitas 1 - 5 karena jumlah lima anak mungkin akan dengan mudah mengenalnya.

Gunakan  benda  yang  ada  di  sekeliling  kita, misalnya mainan kesayangannya,  buah kesukaannya, dll. Sebagai upaya awal, beliau mencontohkan: ambil 3 buah benda, misal boneka. Katakan pada anak bahwa  bonekanya  ada  tiga. Tunggu  beberapa  saat  hingga anak mengerti  bahwa  boneka  yang  ia  lihat  ada tiga. Kemudian beri contoh yang lain dengan  kuantitas  yang  sama. Setelah konsep kuantitas  telah  cukup  jelas  bagi sang anak, baru pindahkan ke angka. Kenalkan  angka berdampingan  dengan  bendanya. Untuk membantu,  bisa  pula  angka  tersebut dibuat dari berbagai macam bahan. Misal angka satu dapat di gunakan kertas amplas, angka dua kain  flanel dll. Mintalah anak untuk meraba angka angka tersebut dengan  mengikuti  bentuknya. Sebagaimana  konsep  belajar  pada umumnya,  pengulangan  adalah satu keharusan. Semakin banyak sang anak  berlatih,  maka  akan  semakin  banyak  informasi yang akan terekam di otaknya.

Contoh  yang  lain  dapat  dilakukan  dengan  cara berikut. Minta bantuan  anak saat menyiapkan peralatan makan. Gantungkan angka 1 hingga  5  dalam  ukuran  besar  di  dinding.  Kemudian  lakukan perlombaan  berdiri  di  depan  angka  tersebut. Saat suatu angka disebut, maka anak berloma untuk berdiri di depannya. Akan lebih menyenangkan  bila  dalam  perlombaan ini diselingi dengan alunan musik. Berikan waktu jeda antara start lari dengan habisnya waktu menentukan  tempat  berdiri.  Dengan melakukan aktivitas ini, dua tujuan  akan  terlampaui: otak akan sehat dan demikian pula otot. Saat menutup postingannya, beliau menekankan agar orang tua benar- benar memperhatikan gaya belajar yang sang anak miliki: apakah ia memiliki gaya belajar visual, audio,  taupun audio visual; apakah sang  anak  tipe  aktif  atau  dapat duduk dengan tenang dll. Hal tersebut  penting  diketahui  karena  akan mendukung keberhasilan belajar yang akan sang anak jalani.

Salah  satu mom menanyakan di awal tanggapannya terhadap tema ini tentang  kemungkinan  munculnya  faktor  kebosanan pada diri anak karena terlalu  dipaksakan  terhadap  hal  tertentu yang mungkin tidak  diminatinya.  Karenanya  kembali  beliau mengingatkan agar orang  tua  benar  benar harus dapat mengenal minat dan kemampuan yang  anaknya  miliki. Seorang anak adalah individu yang berbeda dan  unik, demikian  halnya  kecerdasan yang ia miliki. Standar kecerdasan  anak yang hanya berdasarkan kemampuan dalam berhitung dan  pandai  matematika  adalah  satu  kekeliruan karena terdapat jenis  kecerdasan  yang  lain seperti; seni, spasialm bahasa dll.

Beliau menginformasikan pula bahwa otak manusia dibagi dua kategori: Otak Kiri untuk kemampuan bahasa, verbal atau numeric dan Otak Kanan untuk kemampuan visual dan kreativitas. Sebagai contoh  ia  menceritakan  bahwa  suami sang mom sejak kecil telah dididik untuk dirangsang kemampuan otaknya sesuai dengan perkembangannya.Kebetulan  kemampuan  Otak Kanan yang ia miliki lebih  kuat,  sehingga ia dapat menggambar dengan sedemikian baik serta  kemampuan  keseniannya amat mendominasi. Tak heran
bila di sekolah, kemampuan non-eksakta (eksakta = matematika, ilmu pasti) lebih  tinggi  dan  ia  memiliki  daya  kreatifitas  yang tinggi. Sayangnya, kemampuan ini tak didukung oleh kurikulum sekolah kita yang  umumnya lebih menggunakan parameter eksakta. Selain itu mom satu  ini  tak  menyetujui  dengan  adanya  kurikulum  umum  yang berlaku,  di mana  seorang  anak  dituntut untuk meraih prestasi dalam segala bidang untuk dapat dikategorikan seorang anak pintar yang  meraih  ranking  satu. Menurutnya, akan lebih baik seorang anak dikatakan cerdas bukan juara kelas.

Menurut  beliau, asupan DHA/AA dari susu formula serta gizi yang baik  bukanlah  merupakan  satu  satunya  faktor dalam menentukan tingkat kecerdasan anak. Faktor stimulasi bahkan juga berperan penting dalam perkembangan kecerdasan. Biarkan anak anak bereksplorasi, karena dari sana kita akan dapat memperoleh banyak informasi minat dan bakat yang ia miliki. Dengan dasar informasi ini,maka akan lebih mudah  bagi kita untuk dapat mengarahkan kemampuan  dasar  yang sang anak miliki. “Lagipula, kan masih 3,5 thn  kan,  mbak.  Aku pikir mungkin gak perlu dikhawatirkan dulu. Diobservasi aja terus, bagaimana perkembangannya. Kalau nanti masuk SD masih begitu, mungkin perlu diamati, apakah ada indikasi ke arah disleksia. Tapi mudah2an nggak lah, mungkin minatnya dia aja  gak  ke situ (baca: matematis), mungkin ia lebih berminat ke arah  hal-hal yang sifatnya visual” demikian  mom ini menutup  postingannya. (WRM/DAI)