http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=303&Itemid=28
(bunyi bel apartemen)+ Hallo,
- Ja hallo.
+ Haben Sie Pizza bestellt? (anda mesan pizza?)
- Nein, leider habe ich nicht bestellt (sayangnya tidak. saya tidak mesan pizza)
+ Sie haben bestellt und zwar mit Salami und Pepperoni (anda mesan kok, ini pakai salami dan pepperoni)
- Nein. Ich habe gar nicht bestellt (maaf ndak, saya sama sekali ngga pernah mesan pizza)
+ aaaaaaa (teriak keras sekali dan bersumpah serapah yang tak mengenakkan telinga)
Mulanya saya ingin marah karena adanya keisengan semacam itu. Namun saat saya mengintip dari balik jendela untuk mengetahui siapa gerangan yang memainkan bel apartemen di rumah kami beberapa menit yang lalu, kemarahan saya langsung luntur. Malah muncul rasa prihatin pada segerombolan anak usia 3-4 sd yang berkumpul dan sedang tertawa tawa di halaman depan gedung apartemen kami. Rasa kasihan muncul di diri, mengapa anak anak yang tak bisa lagi dikatakan kecil tak memiliki sopan santun di lingkungan masyarakat seperti ini. Siapakah yang salah menjadikan mereka individu tak kenal berbudi pekerti: sekolah, lingkungan ataukah keluarga mereka?.
Setelah memakai mantel, saya menuju ke lantai dasar. Selain memang harus menjemput putra dari TK, sayapun sudah berniat akan sedikit “menceramahi” mereka. Sambil saling melempar kesalahan karena ketakutan, mereka berusaha mengelak dari keisengan yang tertangkap basah oleh saya. Sepuluh menit saya berdialog dengan mereka dengan sedikit menyampaikan ajaran moral yang mungkin sudah bukan jadi bagian yang penting di keseharian anak anak tersebut. Sudah tertebak bagaimana akhir kejadiannya, mereka meminta maaf pada saya. Saya pun mengucapkan selamat tinggal sambil berpesan “jangan lakukan sekali lagi!”.
Hilangnya sopan santun di kalangan generasi muda di negeri ini, secara umum juga telah di rasakan oleh masyarakat. Terbukti dari hasil survey tentang tema sopan santun yang dilakukan oleh Allensbach, 87 % responden memandang masalah sopan santun dalam pendidikan anak harus kembali menjadi prioritas di dunia pendidikan. Mereka merasakan bahwa nilai sopan santun telah semakin hilang dan pudar seiring munculnya generasi yang lebih muda. Survey survey sejenis pun banyak menghasilkan temuan yang tak jauh berbeda. Jangankan hasil survey, secara kasat mata pun kecenderungan ini dapat mudah teramati.
Trend hilangnya Benehmen ini akan semakin terlihat jelas di institusi pendidikan dasar. Seorang anak yang mengumpat gurunya karena nilai yang ia peroleh tak memuaskan bukanlah satu pemandangan aneh di sini. Bahkan bukan hanya sampai batas mengumpat, aksi teror fisik juga sering ditemui. Untuk hal yang kecil pun semisal pengucapan “maaf” dan “terimakasih” bukan lagi jadi hal yang umum didengar. Tak heranlah bila di beberapa sekolah di negara ini telah memasukkan mata ajaran sopan santun sebagai mata ajaran yang wajib diikuti oleh para siswanya. Namun, apakah upaya tersebut sudah terbilang cukup untuk memperbaiki moral generasi muda yang sudah makin menyedihkan ini?.
+ Di mana sopan santunmu nak?
- Contohkan kami bersopan santun ayah dan ummi..
+ (ohhh sulitnya nak menjadi orang tua, tapi akan ayah dan ummicoba..) (@DAI)