January 31, 2005

Dimana Sopan Santunmu Nak?

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=303&Itemid=28

(bunyi bel apartemen)
+ Hallo,
- Ja hallo.
+ Haben Sie Pizza bestellt? (anda mesan pizza?)
- Nein, leider habe ich nicht bestellt (sayangnya tidak. saya tidak mesan pizza)
+ Sie haben bestellt und zwar mit Salami und Pepperoni (anda mesan kok, ini pakai salami dan pepperoni)
- Nein. Ich habe gar nicht bestellt (maaf ndak, saya sama sekali ngga pernah mesan pizza)
+ aaaaaaa (teriak keras sekali dan bersumpah serapah yang tak mengenakkan telinga)

Mulanya saya ingin marah karena adanya keisengan semacam itu. Namun saat saya mengintip dari balik jendela untuk mengetahui siapa gerangan yang memainkan bel apartemen di rumah kami beberapa menit yang lalu, kemarahan saya langsung luntur. Malah muncul rasa prihatin pada segerombolan anak usia 3-4 sd yang berkumpul dan sedang tertawa tawa di halaman depan gedung apartemen kami. Rasa kasihan muncul di diri, mengapa anak anak yang tak bisa lagi dikatakan kecil tak memiliki sopan santun di lingkungan masyarakat seperti ini. Siapakah yang salah menjadikan mereka individu tak kenal berbudi pekerti: sekolah, lingkungan ataukah keluarga mereka?.

Setelah memakai mantel, saya menuju ke lantai dasar. Selain memang harus menjemput putra dari TK, sayapun sudah berniat akan sedikit “menceramahi” mereka. Sambil saling melempar kesalahan karena ketakutan, mereka berusaha mengelak dari keisengan yang tertangkap basah oleh saya. Sepuluh menit saya berdialog dengan mereka dengan sedikit menyampaikan ajaran moral yang mungkin sudah bukan jadi bagian yang penting di keseharian anak anak tersebut. Sudah tertebak bagaimana akhir kejadiannya, mereka meminta maaf pada saya. Saya pun mengucapkan selamat tinggal sambil berpesan “jangan lakukan sekali lagi!”.

Hilangnya sopan santun di kalangan generasi muda di negeri ini, secara umum juga telah di rasakan oleh masyarakat. Terbukti dari hasil survey tentang tema sopan santun yang dilakukan oleh Allensbach, 87 % responden memandang masalah sopan santun dalam pendidikan anak harus kembali menjadi prioritas di dunia pendidikan. Mereka merasakan bahwa nilai sopan santun telah semakin hilang dan pudar seiring munculnya generasi yang lebih muda. Survey survey sejenis pun banyak menghasilkan temuan yang tak jauh berbeda. Jangankan hasil survey, secara kasat mata pun kecenderungan ini dapat mudah teramati.

Trend hilangnya Benehmen ini akan semakin terlihat jelas di institusi pendidikan dasar. Seorang anak yang mengumpat gurunya karena nilai yang ia peroleh tak memuaskan bukanlah satu pemandangan aneh di sini. Bahkan bukan hanya sampai batas mengumpat, aksi teror fisik juga sering ditemui. Untuk hal yang kecil pun semisal pengucapan “maaf” dan “terimakasih” bukan lagi jadi hal yang umum didengar. Tak heranlah bila di beberapa sekolah di negara ini telah memasukkan mata ajaran sopan santun sebagai mata ajaran yang wajib diikuti oleh para siswanya. Namun, apakah upaya tersebut sudah terbilang cukup untuk memperbaiki moral generasi muda yang sudah makin menyedihkan ini?.

Mengajarkan sopan santun pada anak memang bukanlah tugas dan pekerjaan yang mudah. Terlebih bila kita hidup di lingkungan yang kurang kondusif bagi anak untuk belajar bagaimana berbudi pekerti yang mulia. Metode pendidikan lama yang menggunakan ancaman dan tekanan “Kalau kamu tidak merapihkan…maka kamu tidak akan….” banyak terbukti kurang efektif menanamkan kesadaran bagi anak untuk berperilaku yang diharapkan. Ketaatan mereka biasanya hanya berbatas waktu dan jarak. Bila tak ada lagi sang orang tua, maka mereka lepas dari perjanjian yang ada.


Belajar dari rumah. Ya, dari banyak literatur yang kebetulan saya baca tentang masalah ini, akhirnya semua menyimpulkan bahwa metode mempelajari sopan santun terefektif adalah melalui fungsi tauladan orang tua di rumah. Bila orang tua dapat menjadi contoh yang baik bagi anak dalam hal sopan santun, maka anak akan mampu pula belajar berperilaku yang baik. Karenanya tak usah kita berharap sang anak akan mudah mengucapkan “maaf” dan “terimakasih” bila kita sebagai orang tua juga jarang mengenalkannya pada anak di keseharian interaksi kita dengan mereka. Demikian pula halnya dengan kata kata sumpah serapah. Jangan berharap sang anak mengeluarkan kata kata sopan dari mulut kecilnya bila kita sebagai orang tua malah mencontohkan kata kata cacian yang tak terkendali keluar dari mulut kita.

Hasil temuan penelitian ilmuwan pada otak manusia, khususnya pada usia menyusui: sopan santun dipelajari melalui imitasi atau peniruan, mungkin dapat menjadi pertimbangan bagi kita sebagai orang tua untuk makin berhati hati dalam berperilaku . Anak umumnya senang sekali menirukan sosok yang ia kagumi. Pada anak kecil tentu sosok yang dimaksud tak lain orang tua mereka. Dalam satu tahun pertama kehidupan, anak biasanya akan mengkopi mimik dan sikap yang orang tuanya contohkan. Dari penelitian tersebut juga disimpulkan bahwa dasar hubungan sosial yang ada banyak direkam pada satu tahun pertama kehidupan mereka.

Lepas dari hasil penelitian di atas atau tidak, saya pribadi yakin bahwa pendidikan anak memang dimulai dari rumah, mau atau tidak. Seorang anak memang belajar dari modelling. Ia akan banyak mengamati bagaimana sang orang tua bersikap, dan biasanya akan ia serap perilaku serupa. Mendidik seorang anak memang membutuhkan waktu dan perhatian khusus. Sehingga memang benar bila mendidik anak tak dapat menjadi pekerjaan sambilan belaka. Mendampingi anak belajar kehidupan pun bukan seperti mengikuti air mengalir tanpa ada upaya yang direncanakan dan dipertimbangkan. Karenanya memang tak heran, bila saya harus belajar dan terus belajar untuk menambah ilmu mendidik anak yang masih minim sekali saya miliki. Sayapun harus makin banyak memperbaiki diri dan emosi, sehingga nantinya dapat menjadi tauladan yang baik bagi anak anak kami. Namun, memang sulit nian untuk menutup lubang kekurangan dengan tambalan kebaikan.

+ Di mana sopan santunmu nak?
- Contohkan kami bersopan santun ayah dan ummi..
+ (ohhh sulitnya nak menjadi orang tua, tapi akan ayah dan ummicoba..) (@DAI)

January 1, 2005

Televisi Dalam Kehidupan Anak

Filed under: Paperworks

http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=367&Itemid=2

Berapa lama idealnya seorang anak dapat berada di depan televisi? Benarkah televisi membuat anak kita bodoh dan cenderung bertindak kekerasan? Program televisi yang manakah sesuai dengan usia anak anda dan memiliki nilai pendidikan?

Hidup tanpa televisi mungkin sudah tidak bisa dibayangkan oleh generasi anak kita yang mau tidak mau telah besar bersamaan dengan semakin maraknya dunia media elektronik. Dengan makin menjamur berdirinya stasiun-stasiun televisi swasta dengan penawaran aneka ragam program acaranya di indonesia, maka semakin dituntut pula orang tua menyikapi secara bijaksana interaksi anak kita dengan media televisi yang ada.

Penelitian khusus berkaitan dengan pengaruh televisi ataupun seberapa besar proporsi waktu yang dipergunakan oleh anak indonesia di depan tabung kaca ini memang belum banyak dilakukan. Namun trend yang terjadi sedikit banyak akan tidak jauh berbeda dengan apa yang ditemui di negara negara maju: semakin banyak waktu yang konsumsi oleh anak untuk berada di depan televisi. Penelitian tentang pengkonsumsian media televisi di jerman mungkin dapat dijadikan perbandingan dan masukan bagi orang tua di indonesia untuk makin bijaksana menyikapi kehadiran media ini di ruang keluarga kita. Dari hasil penelitian tersebut di ketahui bahwa seorang anak jerman menghabiskan rata rata waktu sebanyak 108 menit berada di depan televisi, bahkan angka tersebut mendekati 1 jam pada anak usia di bawah dua tahun. 50% anak bahkan telah memiliki tv di ruang kamarnya sendiri. Hasil yang paling mengkhawatirkan para ahli pendidikan di negara tersebut adalah terdapatnya satu hubungan berarti antara waktu yang dihabiskan anak di depan media elektronik tersebut dengan prestasi belajar yang di capai anak di sekolah; Anak yang banyak menghabiskan waktu di depan televisi biasanya memiliki prestasi akademik yang tidak begitu memuaskan.

Risiko Pengkonsumsian Televisi Yang Berlebihan

Timbulnya efek negatif dari pengkonsumsian televisi yang berlebihan telah banyak di catat dari penelitian penelitian yang umumnya di lakukan di negara negara maju. Beberapa efek negatif yang dapat timbul akibat pengkonsumsian televisi yang berlebih pada anak adalah:
- Anak akan mengidentifikasi dirinya melalui tokoh yang ia tonton. Hal ini akan membahayakan terlebih bila tokoh yang ia idolakan adalah tokoh fiktif yang tidak ada di dunia nyata. Anak akan berpikiran bahwa ia dapat melakukan apapun dan the best seperti tokoh figur yang ia idolakan. Akibatnya ia akan kehilangan kemampuan untuk menganalisa dirinya sendiri, sejauh mana ia mampu berbuat dan hal mana yang tidak mungkin untuk dilakukan.
- Anak kurang memiliki kemampuan untuk berpikir kritis karena ia umumnya di hadapkan di dunia non fiktif yang umumnya serba sempurna. Dan hal ini menyebabkan daya kemampuan berimajinasi pun tidak dapat berkembang secara proporsional.
- Kemampuan bicara anak akan terhambat mengingat televisi tidak akan mampu menjawab pertanyaan pertanyaan yang ada di benaknya. Selain itu anak tidak memiliki banyak kesempatan melatih ketrampilan bicara karena ia hanya berlaku sebagai pendengar pasif dari acara acara televisi yang ditontonnya. Hal ini nantinya berakibat pada menurunnya kemampuan si anak dalam melakukan kontak sosial dengan teman temannya. Padahal di usia 0-4 tahun adalah masa otak menangkap secara optimal informasi yang ada.
- Anak akan lebih bersifat apatis, mudah bosan dan tidak mampu berkonsentrasi pada suatu aktivitas yang memerlukan ketrampilan motorik. Akibatnya ia tidak banyak memiliki inisiatif untuk melakukan aktifitas yang membutuhkan ketrampilan jasmani dan mudah mengisolasi diri bila menemui kesulitas melakukan kontak sosial.
- Akibat miskinnya „bergerak“ dalam aktivitas menonton televisi, maka akan terhambat pula perkembangan kemampuan motorik anak yang seharusnya berkembang pesat di masa pertumbuhan anak.


Berapa Lama Toleransi Menonton Televisi Pada Anak?

Para ahli menganjurkan beberapa batasan toleransi bagi anak untuk berada di depan media elektronik (tv, komputer, video ataupun game) sebagai berikut: anak 3-5 th: 30 menit, anak 6-9 th: 60 menit, anak 10-13 th: 90 menit. Batasan toleransi ini didapatkan dengan mempertimbangkan banyak faktor seperti pengaruh layar monitor pada kesehatan mata anak ataupun kemampuan optimal anak dalam berkonsentrasi menekuni satu hal tertentu.

Orang Tua Sebagai Teladan

Sikap orang tua dalam mensikapi media televisi amat memegang peranan penting. Orang tua berfungsi sebagai teladan yang kerap dijadikan acuan bagi anak dalam membangun interaksi lanjut dengan media tersebut. Bila orang tua memperlakukan televisi sebagai „sahabat“ yang selalu di nanti kehadirannya serta mengisi aktivitas kesehariannya, maka janganlah heran bila satu saat mendapati anak yang mampu berlama lama di depan tabung kaca untuk menonton program kesenangannya ataupun tahan berjam jam menikmati nintendo game-nya. Demikian pula sebaliknya. Bila orang tua dapat memberikan contoh bijaksana dalam bersikap dengan media televisi, maka akan lebih mudah anak diarahkan untuk memupuk kesadarannya dalam bersikap kritis terhadap media tersebut. Satu hal yang patut diperhatikan adalah pemberian alternatif dari program televisi yang ada, semisal melakukan permainan di halaman rumah, membaca buku, ataupun melakukan aktivitas tertentu secara bersama-sama serta hal yang tak kalah pentingnya: jangan pernah memperlakukan TV sebagai Baby-Sitter agar anak dapat duduk dengan tenang!

Beberapa Tips Mensikapi Media Elektronik

Beberapa Tipps di bawah ini dapat digunakan sebagai panduan untuk mengatur kehadiran televisi di dalam kehidupan anak kita.

Membicarakan bersama program televisi yang akan di tonton. Pembicaraan ini paling baik dilakukan secara mingguan. Anak dapat mengusulkan acara televisi yang ingin ia nikmati, dan orang tua memberikan pandangan (dan akhirnya keputusan) acara televisi yang akan di tonton di satu minggu ke depan. Orang tua juga sebaiknya membatasi tema acara televisi yang akan ditonton oleh anak. Carilah sebisa mungkin program program acara yang secara pedagogis baik untuk di konsumsi, seperti acara sesame street atau acara sejenis yang menumbuhkan keinginan anak untuk mengeksplorasi lingkungannya.

Mensepakati waktu menonton televisi. Waktu yang digunakan untuk menonton televisi juga perlu di bicarakan sehingga si anak dapat belajar mendisiplinkan waktunya, dan tak ada waktu yang tiba tiba harus terkorbankan demi menonton satu acara di televisi di luar jadwal yang telah disepakati. Dengan adanya perjanjian mengenai “waktu nonton”, maka bila terjadi pelanggaran orang tua dapat memberikan sanksi misal dengan menghapuskan waktu nonton televisi di hari berikutnya atau jenis sanksi bermanfaat lainnya.

Memberikan penjelasan pada anak. Orang tua hendaknya mendampingi anak ketika mereka berada di depan tabung kaca untuk mencoba menjalin komunikasi dengan anak serta memberikan penjelasan dan tanggapan atas acara yang sedang berlangsung. Beberapa acara yang sedianya diperuntukkan buat anak ternyata banyak memerlukan penjelasan lebih lanjut, sehingga anak dapat membedakan antara alam nyata dan alam fantasi yang banyak ditemui, khususnya di film-film kartun. Perlu dicermati pula bahwa televisi akan dapat mendatangkan manfaat bila anak sudah memiliki kemampuan berbicara, sehingga dapat dijalin percakapan lebih lanjut tentang hal hal yang melintas di pikirannya.

Bila orang tua mampu bersikap bijaksana atas kehadiran media televisi di kehidupan anak, maka tak ayal media ini akan dapat membawa banyak manfaat bagi perkembangan intellegensi anak anda, namun demikian pula sebaliknya: televisi dapat menjadi bumerang yang berakibat buruk bagi kehidupan anak bila anda tak mampu mensikapinya dengan baik. Pilihan ada pada anda para ayah bunda! (@DAI)